Archive for the 'History' Category

Mengenal The Kalamazoo Gals, Penyelamat Gibson dan Musik Modern

by Anindhito on Nov 19, 2019

Siapa yang tak mengenal Gibson? Produsen gitar raksasa ini merupakan salah satu pionir gitar elektrik modern seperti yang kita gunakan saat ini. Sempat menyatakan bangkrut pada Mei 2018, kini Gibson kembali masuk pasar instrumen musik dengan gitar-gitar legendarisnya.

Tak hanya sekali ini Gibson terancam krisis ekonomi. Perusahaan yang didirikan tahun 1902 oleh Orville Gibson ini sempat beberapa kali terkena krisis. Berawal dari memproduksi mandolin, Gibson kemudian beralih menjadi produsen gitar setelah Perang Dunia I usai.

Kembalinya para tentara dari perang di Eropa, melambungkan asa Gibson untuk memperbaiki penjualan yang anjlok pada masa perang. Sayang, setelah perang suara mandolin tidak lagi diminati publik. Publik Amerika Serikat mulai melirik jazz sebagai musik arus utama dan Gibson pun bertransformasi menjadi produsen gitar.

Malang, ditengah naiknya penjualan, perang kembali meletus. Para pria terkena wajib militer untuk dikirim ke Eropa dan Pasifik, termasuk para pekerja Gibson di pabrik pertamanya di Kalamazoo, Michigan. Harus tetap berproduksi, Gibson mempekerjakan mayoritas buruh wanita di pabriknya.

Tahun 1942, atau tahun dimana Amerika Serikat dipaksa bergabung di perang karena ditenggelamkannya kapal kargo oleh Jerman serta Peal Harbor yang dibom Jepang, memaksa Gibson dan perusahaan manufaktur lainnya menjalin kontrak perang dengan pemerintah.

Kontrak perang memaksa Gibson memproduksi perlengkapan perang untuk menyokong pemerintah. Namun, inilah yang membuat Gibson, Kalamazoo dan pekerjanya menjadi legenda. Para pekerja wanita di Kalamazoo diam-diam tetap memproduksi gitar! Inilah yang membuat mereka mendapat julukan kehormatan, “The Kalamazoo Gals”.

The Kalamazoo Gals tetap memproduksi gitar Gibson Banner, gitar flat-top akustik dengan banner emas di headstock yang bertuliskan “Only Gibson is Good Enough”. Gitar ini dihentikan produksinya setelah perang yang kemudian dibuat reissue-nya di tahun 90-an.

Lalu, apa yang membuat The Kalamazoo Gals menyelamatkan Gibson dan musik?

Ketika para kompetitornya terikat kontrak perang dan memprioritaskan para pekerjanya untuk memproduksi perlengkapan perang, The Kalamazoo Gals secara sembunyi-sembunyi tetap memproduksi gitar.Hal ini yang memantapkan nama Gibson yang dapat dikatakan sebagai produsen gitar baru jika dibandingkan dengan Martin&Co yang sudah memproduksi gitar sejak 1833.

Gibson Banner yang diproduksi The Kalamazoo Gals menjadi gitar legendaries setelah seri J-45 Jumbo dimainkan oleh Buddy Holly, dan seri SJ Southerner Jumbo yang menjadi salah satu gitar yang digunakan Woody Guthrie di lagu This Machine Kills Fascist.

Seperti yang kita ketahui, Buddy Holly dan Woody Guthrie merupakan musisi yang mempengaruhi musisi-musisi top generasi selanjutnya seperti Bob Dylan dan The Beatles. Maka, dapat dikatakan The Kalamazoo Gals adalah penyelamat musik, melalui Gibson Banner yang diam-diam mereka produksi.

Sayangnya, Gibson secara terang-terangan menolak keberadaan The Kalamazoo Gals. Julius Bellson di buku The Gibson Story menyatakan bahwa gitar yang diproduksi di era perang merupakan gitar hasil tangan pekerja yang sudah terlalu tua untuk maju perang. Eksekutif Gibson pada saat itu berpendapat bahwa gitar yang dibuat oleh wanita tidak akan terjual dengan baik.

Perang berakhir, musik berevolusi, dan kembalinya para pekerja ke Kalamazoo, membuat The Kalamazoo Gals makin dilupakan. Hingga pabrik Kalamazoo ditutup, dan Gibson pindah ke Nashville di 1984, The Kalamazoo Gals masih belum mendapatkan penghormatan yang pantas.

Di tahun 2013, seiring dengan rilisnya buku Kalamazoo Girls, membuka fakta sejarah tentang The Kalamazoo Gals. Sejak saat itu, The Kalamazoo Gals diakui sebagai bagian dari sejarah panjang Gibson dan nama mereka abadi di Pabrik Kalamazoo yang kini sudah menjadi Herritage Guitars.

Mau tahu lebih banyak soal musik? Klik link ini.


Berawal dari Tiruan, Bacchus Mulai Diperhitungkan di Industri Gitar

by Tyo Harsono on Nov 9, 2019

Nagano, Jepang, 1977. Di pojok kota tersebut, terdapat sejumlah pengrajin gitar ternama. Saat itu, mereka fokus membuat gitar akustik dengan merk Headway.

Berawal dari keinginan membuat gitar elektrik, para pengrajin gitar itu bersatu dan membentuk perusahaan bernama Deviser. Ketika itu, mereka membuat gitar tiruan Martin, Taylor (akustik), dan Gibson (elektrik).

Sayangnya bencana menerpa mereka enam tahun setelah berdiri. Terjadinya kebakaran membuat pabrik milik Deviser terbakar habis. Butuh waktu bertahun-tahun untuk mereka bangkit.

Perlahan tapi pasti, Deviser mulai membangun kembali reputasinya pasca kebakaran. Namun, terdapat hikmah di balik musibah. Deviser memutuskan untuk mengubah strateginya.

Sejak 1991, Deviser membuat divisi baru untuk gitar dan bass elektrik. Bernama Bacchus, diambil dari nama Dewa Yunani yang gemar berpesta. Cocok untuk tujuan pembuatan gitar, menyemarakan suasana.

Pada awalnya, Bacchus hanya membuat gitar-gitar tiruan. Dua raksasa di industri gitar, Fender dan Gibson, menjadi panduan mereka untuk memproduksi barang.

Perkembangan yang lancar membuat Bacchus mulai memproduksi pickup dan komponen elektronik gitar. Dinamakan Bacchus by Deviser, hal itu tidak biasa bagi produsen gitar asal Jepang.

Hebatnya, pickup buatan Bacchus tidak bisa dianggap remeh. Suaranya dianggap mendekati gitar yang mereka tiru. Contohnya single coil yang mirip dengan pickup Fender atau humbucker dengan presisi seperti Gibson PAF.

Hasilnya, perlahan gitar buatan Bacchus pun mulai diakui oleh dunia. Reputasi mereka membuat perusahaan asal Jepang itu menjadi tolok ukur gitar asal Jepang.

Selain itu, kualitas Bacchus yang sudah terbukti membuat tidak banyak yang melakukan perubahan di pickup atau komponen lain. Hal yang tidak biasa untuk gitar buatan Jepang.

Merasa percaya diri dengan gitar buatannya, Bacchus menghentikan produksi gitar tiruan Fender dan Gibson pada 2005. Mereka membuat gitar sendiri.

Menyadari tidak bisa melulu menjual gitar dengan harga mahal membuat Bacchus mulai masuk ke pasar gitar murah. Mereka meluncurkan seri Universe untuk para pemula.

Berbeda dengan seri sebelumnya, Bacchus Universe dibuat di China. Pemilihan China sebagai tempat produksi bukan tanpa alasan, ongkos tenaga kerja di sana lebih murah ketimbang di Jepang.

Mengawali kiprah di industri gitar dengan membuat gitar tiruan, kini nama Bacchus mulai diperhitungkan. Tidak sedikit musisi dunia yang mulai mengakui kualitas produsen asal Jepang itu.

Di Indonesia sendiri, demam Bacchus mulai menerpa selama beberapa tahun terakhir. Sejumlah gitaris dan bassist top sudah mulai menggunakannya seperti Iga Massardi, Wanda Omar, dan Andre Dinuth.

Mau tahu lebih banyak soal musik? Klik link ini.


Bukan Fender Telecaster, Ini Gitar Pertama Buatan Leo Fender yang Dipasarkan

by Tyo Harsono on Nov 6, 2019

Puluhan tahun telah berlalu, namun Fender Telecaster masih menjadi benchmark untuk satu di antara gitar terbaik. Terbukti, Telecaster merupakan gitar paling populer di jagat raya (baca di sini).

Kualitas yang tidak berkurang disertai banyaknya musisi top yang menggunakannya merupakan alasan Fender Telecaster tetap digemari. Tiruan Telecaster pun banyak dari berbagai merk.

Banyak artikel menulis Fender Telecaster sebagai gitar pertama yang dibuat oleh Leo Fender. Meski sebenarnya tidak sepenuhnya salah, tetapi tahu gak sih? Fakta itu tidak benar seutuhnya.

Kenapa? Sederhana saja, sebelum Fender Telecaster yang awalnya dinamai Broadcaster bukan gitar elektrik pertama buatan Leo Fender. Beberapa lama sebelumnya, Fender telah meluncurkan Esquier.

Loh, apa bedanya Fender Telecaster dengan Esquire? Terlihat sama saja, kecuali di jumlah pickup kan? Ya tanggapan seperti itu juga tidak 100 persen salah sih.

Meski begitu, Leo Fender meluncurkan Esquire terlebih dulu, tepatnya pada April 1950. Sementara itu, Broadcaster yang lahir beberapa bulan berselang merupakan seri lebih tinggi dari Esquire.

Cerita bermula dari empat tahun setelah Perang Dunia II berakhir. Dunia yang baru selesai dari perang berkepanjangan menyambut era baru yang dibuka dengan berbagai teknologi.

Di Fullerton, California, seorang teknisi bernama Leo Fender membuat prototipe gitar elektrik pertamanya. Saat itu, produsen gitar memang tengah berlomba-lomba membuat gebrakan di industri tersebut.

Bahan membuat body gitar, pickup, serta control masih eksperimen. Ketika itu Leo Fender memilih menggunakan kayu pinus, alih-alih ash yang identik dengan gitar buatan Fender.

Satu pickup dan tidak ada control switch menjadi ciri khas Fender Esquire. Selain itu, neck tidaklah dilem di body gitar seperti pada umumnya.

Penggunaan neck yang disambung dengan menggunakan baut di body gitar merupakan terobosan saat itu. Leo Fender beralasan, dia ingin menghemat ongkos produksi agar gitar buatannya tidak semahal Gibson atau Gretsch.

Dinamakan Fender Esquire, gitar tersebut dirilis pada April 1950. Hanya dua bulan sebelum Leo Fender merilis versi dua pickup yang saat itu dinamakan Fender Broadcaster.

Sempat berhenti selama beberapa bulan, Fender Esquire kembali hadir pada Januari 1951. Keputusan merilis kembali Esquire dibuat untuk musisi yang tidak memiliki uang untuk membeli Fender Telecaster.

Sayangnya kehadiran Fender Mustang pada 1964 membuat Fender Esquire kehilangan pasar. Sampai pada akhirnya Fender memutuskan menghentikan produksi Esquire pada 1969.

Baru pada 1986 Fender Esquire kembali muncul di pasaran. Tepatnya di bawah bendera Fender Jepang yang saat itu masih menggunakan nama Squier by Fender.

Esquire buatan Jepang ini yang nantinya akan dijual kembali ke Amerika Serikat. Terdapat dua pilihan warna saat itu, yaitu butterscotch blonde atau merah metalik.

Setelah itu pun, varian paling tinggi dari Fender, Fender Custom Shop beberapa kali merilis Esquire untuk seri khusus. Satu di antaranya adalah seri Time Machine.

Rasanya, menarik apabila Fender kembali mengeluarkan Esquire. Hal itu bisa menjadi pelengkap untuk Fender Telecaster yang menggunakan dua pickup serta Stratocaster dengan tiga pickup.

Mau tahu lebih banyak soal musik? Klik link ini.


Jimi Hendrix-nya Republik Irlandia, Rory Gallagher

by Tyo Harsono on Nov 4, 2019

The Theatre di Donegal (kini dinamai Rory Gallagher Theatre) merupakan tempat Monica Gallagher biasa tampil. Monica adalah seorang penyanyi yang tergabung di dalam grup Abbey Players.

Sementara itu, Daniel Gallagher merupakan penyanyi sekaligus pemain akordion di band Tir Chonaill Ceilli Band. Keduanya merupakan musisi lokal di daerah Cork.

Keduanya merupakan sepasang musisi yang lumayan dikenal di daerah tersebut. Pasangan Daniel dan Monica Gallagher memiliki sepasang anak, Rory serta Donal.

Lahir dari pasangan musisi, tentunya Rory dan Donal Gallagher dekat dengan musik sejak masih kecil. Sejak masih berusia sembilan tahun, Rory sudah belajar ukulele secara otodidak.

Sampai pada akhirnya muncul British Invansion, ketika The Beatles membuat musisi asal Inggris Raya diterima di Amerika Serikat. Termasuk di antaranya adalah trio musisi bernama Taste.

Dalam trio tersebut, rupanya terdapat nama Rory Gallagher. Dengan menggunakan Fender Stratocaster buatan 1961 yang menjadi andalan sepanjang kariernya, Gallagher langsung menjadi perhatian.

Saat itu Rory Gallagher terinspirasi dengan musik-musik yang dimainkan oleh Buddy Holly, Eddie Cochran, dan Muddy Waters. Gallagher pun bereksperimen dengan musik folk, blues, dan rock.

Nama Rory Gallagher dan Taste mulai diakui oleh dunia sekitar akhir 1960an. Bahkan, mereka menjadi pembuka Cream pada konser perpisahannya di Royal Albert Hall, 1968.

Sampai pada akhirnya Taste pun bubar karena berbagai alasan. Lalu, Rory Gallagher pun mengeluarkan album debut perdana pada 1971, tidak lama setelah Taste bubar.

Sejak bersolo karier, Rory Gallagher terkenal sebagai musisi pekerja keras. Sayang, Gallagher lebih dikenal di Eropa dan kurang mendapat penerimaan di Amerika Serikat.

"Rory Gallagher adalah musisi paling bekerja keras. Sayangnya dia kurang sukses di Amerika Serikat. Padahal, dia adalah gitaris blues terhebat. Semangat Irlandia-nya tidak dimiliki oleh musisi asal Britania Raya lain," kata jurnalis musik, Roy Hollingworth.

"Selain itu, Rory Gallagher adalah penulis lagu yang hebat. Dia bisa memainkan gitar dengan keras, tetapi merupakan seorang penulis puisi. Beberapa orang menyebut, sulit bekerja sama dengannya. Tetapi itu wajar," lanjut sang jurnalis mengenang.

Akan tetapi, bukan berarti talenta Rory Gallagher tidak menerima pengakuan dari musisi asal Amerika Serikat. Buktinya, dia diajak bermain dengan Jerry Lee Lewis dan Muddy Waters pada acara London Sessions milik Chess Records yang legendaris.

Selain itu, Rory Gallagher sempat menerima undangan untuk bergabung dengan The Rolling Stones pada 1975. Kala itu, Stones memang tengah mencari gitaris baru untuk menggantikan Mick Taylor.

Sempat melakukan jamming dengan The Rolling Stones, pada akhirnya Rory Gallagher batal bergabung. Alasannya sederhana, dia lebih senang dengan karier solonya.

Perjalanan karier Rory Gallagher pun tidak selalu berjalan mulus. Sempat terjadi pergolakan politik di Republik Irlandia yang membuat musisi dilarang menjalani tur ke luar negeri.

Kala itu, Rory Gallagher memilih untuk memberontak dari aturan tersebut. Pada akhirnya, Gallagher justru menjadi anutan musisi asal Republik Irlandia lainnya.

Menjelang akhir hayatnya, Rory Gallagher menderita fobia terbang. Kematian Stevie Ray Vaughan disinyalir menjadi alasannya takut naik pesawat.

Rory Gallagher pun mendapatkan sejumlah obat untuk mengatasi sakitnya tersebut. Sayangnya obat-obatan tersebut justru bagai menjadi senjata makan tuan untuknya.

Pada 1995, diketahui liver Rory Gallagher mengalami masalah. Saat itu, satu-satunya cara untuk menyelamatkan hidupnya adalah transplantasi liver yang sayangnya terlambat dilakukan.

Setelah 13 pekan menerima perawatan secara intensif, Rory Gallagher menderita infeksi. Pada akhirnya, Gallagher pun meninggal dunia pada usia 47 tahun.

Meski telah meninggal dunia, bukan berarti Rory Gallagher terlupakan begitu saja. Tidak jarang yang menyandingkan pria yang akrab dengan celana jeans itu sebagai Jimi Hendrix-nya Republik Irlandia.

Tidak sembarangan, Jimi Hendrix sendiri membuat pernyataan mengejutkan soal Rory Gallagher. Cerita bermula ketika Hendrix ditanyai bagaimana rasanya menjadi gitaris terbaik di dunia.

Saat itu, Jimi Hendrix berkata dalam sebuah wawancara, "saya tidak tahu (rasanya menjadi gitaris terbaik di dunia). Coba tanyakan hal itu kepada Rory Gallagher."

Mungkin nama Rory Gallagher di kalangan penikmat musik awam tidak terlalu terdengar. Namun, gitaris asal Irlandia seperti The Edge, Davy Knowles, dan Gary Moore terang-terangan mengaguminya.

Saat ini, boleh jadi raga Rory Gallagher telah mati dan terkubur di dalam bumi. Namun, karya serta warisannya akan terus abadi, terutama untuk musisi asal Republik Irlandia.

Mau tahu lebih banyak soal musik? Klik link ini.


Mengenang The Dirty Mac, Superband Terbesar yang Tak Terwujud

by Tyo Harsono on Oct 28, 2019

Kamu mengaku suka musik? Pasti minimal pernah dong, mendengar nama-nama berikut ini: The Beatles, The Rolling Stones, Cream, dan The Jimi Hendrix Experience?

Lalu, bagaimana jadinya kalau masing-masing band di atas menyumbangkan satu personil dan membentuk band baru? Bisa dipastikan bakal heboh mengingat betapa besarnya band lama mereka.

Ya, itulah yang terjadi di The Dirty Mac. Sebuah grup musik yang tampil di acara televisi bertajuk The Rolling Stones Rock and Roll Circus pada Desember 1968.

The Beatles menyumbangkan frontman mereka, John Lennon. Sementara Keith Richards-nya The Rolling Stones bertugas membetot bass. Eric Clapton dari Cream bermain gitar dan dilengkapi penggebuk drum The Jimi Hendrix Experience, Mitch Mitchell.

Cerita bermula ketika The Rolling Stones mendapatkan tawaran membuat acara televisi oleh BBC. Kala itu, mereka mengundang sejumlah musisi seperti John Lennon, the Who, Taj Mahal, dan lain-lain untuk tampil.

Acara tersebut direkam di Wembley Intertel Studio pada 11 Desember 1968. The Rolling Stones Rock and Roll Circus juga menjadi penampilan terakhir Brian Jones dengan The Rolling Stones.

Meski mendatangkan nama-nama besar, The Rolling Stones Rock and Roll Circus mendapatkan berbagai masalah. Contohnya adalah para musisi yang teler hingga kerusakan beberapa alat.

Secara keseluruhan, pengambilan gambar The Rolling Stones Rock and Roll Circus memakan waktu 15 jam. Bahkan, The Rolling Stones sebagai band utama baru naik ke atas panggung pada pukul lima pagi.

Bukan hanya The Rolling Stones, musisi lain yang tampil juga mendapat kesempatan untuk membawakan lagu-lagu sendiri. Namun, yang menjadi sorotan adalah ketika Mick Jagger berbincang dengan John Lennon yang tengah memakan semangkuk mie.

Saat itu John Lennon menyebutkan nama-nama yang akan dia ajak untuk bermain bersama di The Dirty Mac. Uniknya, Lennon melafalkan nama Winston Leg-Thigh saat memperkenalkan diri.

Ini juga menjadi penampilan pertama John Lennon sejak The Beatles pensiun dari tur pada Agustus 1966. Anehnya lagi, dari sekian pemain bass yang hadir, Lennon memilih Keith Richards yang sejatinya gitaris The Rolling Stones.

The Dirty Mac membawakan dua lagu pada The Rolling Stones Rock and Roll Circus. Pertama adalah cover lagu The Beatles, Yer Blues, kemudian lagu baru berjudul Whole Lotta Yoko.

Ketika bermain dengan The Dirty Mac, John Lennon menggunakan gitar Epiphone Casino andalannya. Sementara itu, Eric Clapton masih setia dengan Gibson ES-335 sebelum beralih ke Fender Stratocaster.

Keith Richards sendiri menggunakan Fender Precision Bass saat tampil bersama The Dirty Mac. Kehadiran Mitch Mitchell dengan drum Ludwig-nya melengkapi band tersebut.

Kala itu banyak media di Inggris yang tidak mengetahui keberadaan The Dirty Mac. Hal itu karena The Rolling Stones Rock and Roll Circus baru dirilis tiga dekade setelahnya.

Setelah dirilis pun sebagian besar pencinta musik menyayangkan The Dirty Mac yang bubar terlalu cepat. Tentunya tidak ada yang tahu seperti apa karya mereka andai membuat album secara serius.

Hingga kini, tidak ditemukan lagi bukti bahwa The Dirty Mac pernah bermain pada acara lain. Kemungkinan band itu berdiri terkubur bersama John Lennon dan Mitch Mitchell yang telah meninggal dunia.

Mau tahu lebih banyak soal musik? Klik link ini.