Archive for the 'Exclusive' Category

Riko Mocca dan Cinta Pertama Pada Gitar

by Tyo Harsono on Sep 29, 2021

RIKO MOCCA DAN CINTA PERTAMA
DENGAN GITAR



Siapa sih yang enggak kenal Mocca? Pasti akrab dong dengan gitaris sekaligus pencipta lagu nya, Riko Prayitno? Sekarang Riko akrab dengan gitar Gretsch. Namun, apakah itu cinta pertamanya?

Sejak meroket bersama album My Diary, Mocca mulai dikenal di belantika musik Indonesia. Nama Riko sendiri naik sebagai gitarisnya.

Riko dikenal menyenangi gitar-gitar buatan Gretsch. Namun, rupanya awalnya dia ingin menjadi drummer karena Alex Van Halen, meski nasib berkata lain.

"Sama nyokap dikasihnya gitar nilon, lungsuran dari kakak sepupu. Waktu SMA kelas dua belajar kunci dasar lagu 4 non Blondes," kata Riko ketika mengobrol dengan Smosyu Music.

"Tetapi baru benar-benar tertarik main gitar karena dengar album Pump-nya Aerosmith. Joe Perry keren banget, sampai sekarang," lanjutnya.

Mengidolakan sosok Joe Perry, Riko langsung membeli gitar sendiri. Waktu itu dia membeli gitar akustik Genta saat awal masuk kuliah.

"Awalnya dikasih duit sama nyokap buat bikin SIM. Tetapi duitnya gue pakai buat beli gitar," kenang Riko.

Dari situ Riko tergabung dengan band kampus. Sampai akhirnya dia membentuk Mocca dengan Arina Ephipania Simangunsong. Awalnya dia meminjam gitar milik bassist Mocca, Toma.

Waktu itu gitarnya adalah Les Paul Samick. Riko memakai gitar itu untuk latihan dan menggodok materi album pertama Mocca.

"Sesaat sebelum rekaman album My Diary, kayaknya gue butuh gitar yang lebih serius. Jadi, beli gitar akustik Brunswick," tutur Riko.

"Waktu itu pinjam uangnya Arina (vokalis Mocca). Kalau untuk gitar elektriknya, di album itu pinjam Maison hollow body model ES-175."

"Nah setelah album keluar baru restu orang tua keluar. Dikasih 1,5 juta buat beli gitar dan anehnya bisa dapat Gibson Marauder dari orang butuh duit," tambah Riko.

Beruntung bagi Riko, popularitas Mocca membuatnya bisa membeli gitar lain. Sebagai gitar cadangan dia membeli Fender Mustang dan untuk persiapan album kedua dia membeli Ibanez Artcore AF75t.

"Ibanez Artcore sempat jadi main axe gue sampai album ketiga. Dari gitar-gitar yang gue sebutkan, gue masih simpan Brunswick, Fender Mustang, dan Ibanez Artcore," ujarnya.

Nah, mengenai alasan identik dengan Gretsch, Riko menyebutnya atas nama eksplorasi. Walau, dia juga masih menyimpan merk lain.

"Akhirnya gue merapat ke Gretsch. Sekarang main axe gue Country Gentleman, Tennesse Rose, dan G6120," pungkas Riko.

Sampai saat ini, Riko masih mengidolakan Joe Perry. Selain itu dia terinspirasi juga dengan Peter Svensson (The Cardigans), Jonny Bull (Rialto), dan Brian Setzer.

Beberapa gitar pernah datang dan pergi dalam kehidupan Riko. Selain gitar-gitar yang disebutkan di atas, dia juga pernah memakai Gretsch Electromatic G5120, Greco Les Paul, dan G&L Comanche.

Mau nonton berbagai film dan acara musik seru? Klik banner di bawah ini!


Wawancara Eksklusif Reney Scaller: Mempermudah Setup Sulit demi Live yang Ideal

by Tyo Harsono on Sep 13, 2021

Berkarya bersama pasangan bukan hal baru. Demikian pula di Indonesia yang memiliki pasangan Scaller yang digawangi Rene Karamoy dan Stella Gareth.

Berdiri sejak dekade 2010an, duo ini meramaikan industri musik tanah air. Mengusung musik yang tidak terlalu keras maupun ringan, mereka menawarkan hal baru. Gak tanggung-tanggung salah satu lagu mereka yang berjudul Chaos & Order proses mastering dibantu oleh Brian Lucey, seorang mastering engineer yang pernah menangani lagu-lagu karya musisi Internasional, seperti Arctic Monkeys, The Black Keys, dan Chet Faker. 

Dalam band tersebut, Reney bertugas sebagai gitaris. Mengusung musik yang berada di tengah-tengah, tentu tidak mudah untuk Scaller.

Reney sendiri tampil dengan gitar plus rangkaian efeknya. Layaknya seorang gitaris pasti mencoba berbagai macam setup efek dan saat ini Reney sudah menemukan setup yang paling nyaman untuk kebutuhan live & recording.

Dengan musik yang mereka usung, tugas Reney sebagai gitaris tentu tidak mudah. Pasalnya dia perlu meng-cover berbagai sound di tengah keterbatasan anggota.

Nah, kebetulan Smosyu Music mendapat kesempatan untuk ngobrol santai dengan Reney ngebahas setup gitar dan efeknya. Seperti apa obrolan kami? Simak di bawah ini!

Halo Reney, boleh tahu gitar yang lo pakai sekarang?

Gitar yang gue pakai sekarang Fender Starcaster Classic upgrade Mojotone Wide Range Humbucker. Terus gitar lain Fender American Deluxe Telecaster.

Kalau isi pedalboard lo?

Nah ini isi pedalboard gw

Ok menarik nih, routingnya gimana tuh Ren??

Dari gitar ke MJM London Fuzz, lalu EP Booster masuk ke input Line 6 HX FX. Untuk POG dan Digitech Digidelay masuk ke FX loop 1 HX FX. Digi delay cuma gue pakai mode lopper aja sebagai Stutter.

Nobels Overdrive sama EQD Bit Commander masuk ke FX loop 2 HX FX. Output dari HF FX ke Strymon Timeline dan Strymon Big Sky. Terus masuk input Orange Rocker 32.

Kalau HX FX lo pakai efek apanya? Terus kenapa POG, Digitech, Nobels, Bit Commander, lo masukkan ke FX Loop HX?

Kalau di HX FX nya, biasanya modulasi (phaser, chorus, trem). Salah satu alasan gue pakai HX FX karena ada fitur MIDI-nya. Gue pake buat kontrol preset Timeline dan Big Sky.

Selain itu fitur snapshot-nya mempermudah untuk live set. Jadi setiap lagu udah ada preset gue sendiri.

Nobels Overdrive tetap enak masuk ke FX Loop?

Di kuping gue sih enak saja hehehe. Gue enggak menyalakan fitur bufered bypass-nya.

Berarti di setup lo, HX FX bisa pakai efek plus fitur MIDI-nya? Bisa berbarengan juga?

Iya betul. Setelah gonta-ganti setup berulang kali, so far ini sih yang bisa mengkomodir kebutuhan live dan rekaman.

Berarti membantu sekali ya HX FX ini?

Membantu sekali, praktis. Jadi solusi yang tidak terlalu mahal juga sih.

Kalau Orange lo pakai clean channel saja atau ambil drive dari situ juga?

Nah, jadi ampli si ampli Orange Rocker  ini ada clean channel nya tapi gak gue pake. Gue cuma pake drive channel dengan setup gain minim. Karena gue suka basic tone yang edge of break up. Gue maunya seperti itu.

Mau tanya, switch Strymon fungsinya buat apa? Apa bedanya dengan kontrol yang dari HX FX?

Kalau multi switch digunakan untuk kontrol looper Timeline. Jadi, gue selalu bisa pakai mode looper timeline disemua preset.

Lo pakai satu channel todong doang ya berarti?

Seringnya satu channel saja kalau buat live. Kalau di panggung yang agak besar, gue bawa satu ampli lagi, Vox AC30.

Kalau mic pakai apa lo?

Mic yang dipakai Beyerdynamic TG 88 dan Sennheiser E906.

Oh iya, urutan kabel MIDI dari HX ke Timeline dan Big Sky bagaimana ya?

Urutannya MIDI Out dari HX FX ke MIDI In di Timeline. Lalu daisy chain dari timeline ke Big Sky. Jadi command dari HX FX bisa ke Timeline dan Big Sky. 

Okay Reney, Thanks yaudah mau share gear yang lo pake. Pastinya ini berguna banget buat referensi temen-temen yang mau bikin setup gear nya. Sukses terus broo

Sama-sama.


Wawancara Eksklusif Rey KPR: Penggila SG dan Dirt Sound

by Tyo Harsono on Aug 6, 2021

Berasal dari Jakarta, Kelompok Penerbang Roket (disingkat KPR) sudah berdiri sejak 2011. Band ini punya tiga personel.

Ketiga personel mereka adalah John Paul Patton (bass, vokal), Rey Marshall (gitar), dan Igusti Vikranta (drum). Nah, namanya yang unik ternyata terinspirasi dari lagu klasik Indonesia.

Mereka memilih nama KPR karena lagu milik Duo Kribo yang berjudul Mencarter Roket. Perjalanan musik KPR menanjak berkat aksi panggung gokil mereka.


Mengusung musik rock ala 1970an tentu bukan perkara mudah. Namun KPR sudah berhasil menelurkan tiga album berjudul Teriakan Bocah (2015), HAAI (2015), dan Galaksi Palapa (2018).

Berdasar dari keinginan membangkitkan musik rock Indonesia, KPR punya misi yang enggak mudah. Kiblat mereka jelas, musisi rock 1970an.

Nah, apa yang identik dengan musisi rock 1970an? Gibson SG serta dirt sound yang bisa didapat dari ampli atau pedal.

Terbayang dong, ketika Smosyu Music mendapat kesempatan ngobrol dengan Rey, pasti dirt sound dan SG pastinya enggak lepas dari obrolan.

Nah, mau tahu seperti apa obrolan Smosyu Music dan Rey KPR? Simak wawancara eksklusif kami dengan Rey Marshall-nya KPR di bawah ini!

Halo Rey, boleh tahu rig yang lo pakai saat ini enggak?


Kalau gitar gue pakai Gibson SG 68. Nah gue pakai wireless Shure PGX4. Dari situ masuk ke polytune dan Bogner Burnley.

Nah kemudian lanjut ke Solasound Tonebender, Fulltone Octafuzz, Crybaby 535q, terus EHX Neo Clone. Lalu Boss Space Echo, Boss Phaser PH-1, dan Orange Thunderverb 100.

Berarti lo pakai dua fuzz ya?

Iya, Octafuzz biar nge-boost kalau solo saja sih.

Dari Orange lo ambil clean saja atau drive juga?

Clean saja.

Oke, berarti distortion dari pedal semua ya?

Kadang kalau bosan gue pakai drive ampli sih. Tetapi crew gue Tapi crew gw kasihan, soalnya kalo pake drive amp, modulasi gw masukin send return hahaha. Jadi kalau sekarang iya (distortion dari pedal semua).

Distorsi utama lo dari Bogner Burnley berarti kan? Atau lebih sering pakai fuzz?

Salah satu saja sih, tergantung suasana hati. Cuma gue taruh dua saja. Kadang kalau ketemu cabinet yang kurang bagus, fuzz jadi kampret sound-nya. Jadi biar aman gue bawa distorsi juga.

Kalau todong lo pakai mic apa?

Oiya, mic todong (Shure SM)57. Kalau vokal pakai BeyerDynamic TGV70.

Berarti biasanya lo satu channel todong saja?

Tetep pakai DI (box) sih, backup saja). DI gue pakai punya panggung biasa.

Kalau gitar backup lo apa Rey?


Backup gue Gibson SG Reissue 62. Sama ada Firebird juga kalau bosan SG hahaha. Namun gue lupa ini seri apa.

Oke deh Rey, terima kasih sudah mau sharing ya

Sama-sama.

Mau lihat penampilan live Kelompok Penerbang Roket? Klik gambar di bawah ini!


Wawancara Eksklusif Iga Massardi: Setup Stereo ala Iga Massardi

by Tyo Harsono on Jul 12, 2021

Pencinta musik tanah air mana yang enggak kenal sama Iga Massardi? Boleh dibilang, pria yang kerap tampil dengan batik itu adalah salah satu gitaris papan atas di Indonesia saat ini.

Awalnya dia merupakan gitaris di The Trees and the Wild dan Soulvibe. Namun namanya mulai diperhitungkan ketika menuai sukses sebagai vokalis sekaligus gitaris Barasuara.

Sebelum pandemi menyerang, Iga dan Barasuara tidak pernah absen mengisi panggung berbagai acara. Mulai dari pentas seni sekolahan sampai panggung besar, tak lengkap rasanya tanpa Barasuara.

Barasuara sendiri hadir dengan format yang cukup unik. Apabila biasanya sebuah band memiliki satu vokalis, Barasuara punya tiga!

Selain Iga, ada Putri Chitara dan Asteriska Widiantini. Selain itu ada gitaris jazz ternama, Gerald Situmorang, di posisi pembetot bass, lalu Marco Steffiano sebagai penggebuk drum, serta TJ Kusuma yang mengisi gitar.

Aksi Barasuara sendiri kerap dinanti para Penunggang Badai (sebutan untuk fans mereka). Namun, yang enggak kalah menarik tentu saja gear milik Iga.

Bukan rahasia kalau Iga adalah gitaris yang hobi mengulik gear. Melalui akun YouTube atau Instagram-nya, dia sering membagikan info mengenai gitar dan gear nya

Iga sendiri sering membuat video yang berisi review gear. Selain itu gitaris berusia 35 tahun tersebut sering menjawab pertanyaan gitaris-gitaris lain melalui akun Instagram-nya.

Banyak gitaris menjadikan Iga sebagai panutan mereka dan banyak yang penasaran dengan gear yang dipakai olehnya.

Nah, kebetulan Smosyu Music mendapat kesempatan mengobrol dengan gitaris satu ini yang baru saja membuka usaha kuliner

Kalau mau tahu seperti apa obrolan kami dengan bapak dua anak ini, jangan beranjak dulu. Kami banyak mengobrol soal isi pedalboard-nya sampai kiatnya mengatasi ground loop. Simak wawancara eksklusif Smosyu Music dengan Iga Massardi di bawah ini!

Halo Iga, boleh tahu enggak isi pedalboard yang lo pakai saat ini?

Halo, coba gw gambarin aja efeknya yaa



1. Death by Audio - Interstellar overdriver

2. Mojohand - 1979

2.1 Chasebliss Audio - Automatone preamp mk2

3. Goodwood audio - the interfacer

4. Chasebliss audio - Condor

4.1 Hologram Electronics - Microcosm

4.2 Boss MD200

5. Empress Echosystem

6. Chasebliss audio - CMX1978

7. Victory VC35 / Orange Cab 112 / Celestion V30 / Sennheiser e906

8. Victory V40 / Tech 21 112/ Celestion V30 / Shure SM7B with Cloudlifter

Itu gear yang gw pake, oya Power supply gw pakai Voodoo Lab Pedal Power 3.

Lalu amplinya Victory VC35/Orange Cab 112/Celestion V30 dengan microphone Sennheiser e906. Ampli satunya Victory V40/Tech21 112/Celestion V30 pakai mic Shure SM7B dengan Cloudlifter.

Berarti lo pake Interfacer buat wet dry ya? Yang ampli kedua untuk dry?

Enggak, memang stereo saja.

Berarti 2 ampli nyala berbarengan ya?

Iya. Fungsi interfacer itu buat isolated out, mencegah ground loop karena dia ada transformer-nya.

Jadi  Condor, Microcosm, MD200, Echosystem, CMX1978 bukan keluar di set ampli pertama?

Enggak, mereka semua keluar di kedua ampli.

Gw coba tebak lagi, interfacer fungsinya kayak effect loop (send return di ampli ya, tetapi dia bisa di luar ampli jadi bisa stereo ke dua ampli?

Jadi sebenarnya interfacer enggak gue pakai juga bisa. Jadi semua pedal gue paralel langsung out-nya ke dua ampli via efek terakhir, CMX1978.

Problem-nya ketika lo ketemu stereo ampli, kadang-kadang ada ground loop. Jadi ada arus balik yang membuat hum.

Nah untuk ini makanya gue pakai interfacer supaya bisa isolated ke satu di antara ampli. Jadi nanti enggak akan terjadi ground loop.

Karena salah satu output-nya ada transformer yang mencegah si arus balik itu. Jadi karena ini juga bisa nge-split, nge-buffer, bisa melindungi dari ground loop, dan ada mute button untuk tuner.

Ok, gw nangkep. Intinya lo bisa saja langsung stereo out dari efek terakhir, tetapi buat mencegah ground loop pakai interfacer ya?

Nah!

Dari ampli ambil clean doang berarti ya?

Iya.

Terus kalo stereo gini, out di depan panning kanan kiri atau panning-nya disamakan?

Bisa dua2nya, gw suka main satu ampli juga, tergantung kebutuhan, kalo gw perform sendiri pake stereo panning kanan kiri, Nah ini ajaibnya interfacer. Dia bisa langsung sum stereo jadi mono signal. Jadi enggak usah re-route.

Oya, gw liat lo pake Chasebliss MK II, kan lo udah pake 2 ampli, kenapa pake MK II lagi yang fungsinya bisa jadi preamp?

MK II gw cuma pake FUZZ nya aja

Ok, Kalau gitar bawa apa saja?

Sekarang gw pake Bacchus Surfbreaker sama Bacchus Jazzmaster yang pink

Oke deh Iga, terima kasih ya sudah mau sharing ya. Semoga pandemi ini cepat berlalu dan kita bisa liat Barasuara manggung lagi

Okayyy, Amiinn-amiin. Thanks juga yaa

Mau lihat penampilan live Barasuara? klik gambar dibawah. dan mau punya kesempatan menangin gitar? Klik gambar di bawah ini!


Wawancara Eksklusif Pamungkas: Eksplorasi Sound dan Resep Paten To the Bone

by Tyo Harsono on Jul 2, 2021

Usaha memang enggak pernah mengkhianati hasil. Pamungkas tahu betul soal hal tersebut. Kecintaannya terhadap musik yang membuatnya enggak mau menyerah.

Lahir di Jakarta pada 1993 dengan nama Rizki Rahmahadian Pamungkas, dia sudah mengenal musik sejak berumur delapan tahun.

Usaha Pamungkas untuk sengetop sekarang enggak main-main. Mulai dari main reguler di kafe sampai pengiring acara religi di stasiun televisi dia jalani.

Hebatnya kalimat "hidup dari musik" benar-benar dia terapkan. Mulai dari beli alat musik sampai biaya pendidikan Pamungkas hasilkan dari bermusik.

Kerja keras Pamungkas mulai terbayar dari album Walk the Talk (2018). Lewat I Love You but I'm Letting Go, dan One Only, namanya mulai akrab di telinga pencinta musik tanah air.

Satu tahun berselang, pria berusia 28 tahun itu mengukuhkan namanya sebagai salah satu raksasa di industri musik Indonesia.

Pada 2019, dia merilis album Flying Solo setelah sebelumnya didahului remix Walk the Talk. Dari album itu, To the Bone semakin meroketkan nama Pamungkas.

Lagu-lagu Pamungkas pun semakin sering diputar. Bahkan ada generasi yang menjadikan single macam One Only atau To the Bone sebagai 'lagu belajar main gitar' mereka.

Tidak hanya sebagai penyanyi dan pencipta lagu, Pamungkas juga serius dalam bermain gitar dan sangat concern sama gear yang digunakan. Semua isian lead gitar di lagunya dia yang isi lho.

Smosyu Music beruntung mendapat kesempatan mengobrol dengan Pamungkas. Tenang, kami juga memancingnya untuk membocorkan resep paten di balik sound menarik To the Bone.

Pamungkas sendiri mau loh berbagi cerita soal eksplorasi sound dan gear apa saja yang ada di balik To the Bone dan lagu-lagu lain yang fenomenal itu.

Mau tahu seperti apa obrolan kami dengan musisi ganteng satu ini? Simak wawancara eksklusif Smosyu Music dengan Pamungkas di bawah ini!

Halo Pam, apa kabar? Boleh tahu enggak pedalboard dan efek lo?


Sebentar tak rinciin. Jadi dari gitar ke tuner, terus Keeley Electronic Katana, habis itu ke Teisco Fuzz yang dilanjut ke JHS Crayon.

Kemudian lanjut ke Tube Screamer Mini dan Strymon Sunset dan Strymon Flint. Setelah itu EHX Pitch Fork, EHX Qtron, dan Strymon Blue Sky.

Delay ada di barisan belakang sebelum gate.

Kalau kelistrikannya seperti ini

Kalau gear lain untuk live apa saja?

Amplifier gue pakai Fender Blues Jr. Kalau microphone gue pakai Sennheiser E609 untuk todong.

Gitar yang utama ada tiga, PRS Silver Sky, Fender Albert Hammond, dan Epiphone Casino bigsby

Sekarang gue lagi belajar pakai ampli lagi nih. Kemarin coba sekali pakai ampli langsung enggak bisa balik ke direct lagi. Beda banget.

Itu TS Mini Pasti Riko (Mocca) nih racunnya

Iya hahaha.

Berarti pakai satu line saja todong Sennheiser ya Pam?

Iya, sebenarnya lagi mau coba todong belakang juga, tetapi occasional saja. Sebenarnya panggung yang memungkinkan saja.

Biasanya buat dapatin ambience ruangan juga kalau todong belakang ya

Iya, kalau rekaman biasanya di belakang todong lagi. Condenser tetapi di balik phasing-nya.

Kalau overdrive utama lo yang mana Pam? Itu berarti ada tiga overdrive ya?

Tube Screamer dan Sunset. Tube Screamer tipis-tipis doang.

Crayon gue set jadi fuzz yang dirt banget, jadi di pakai di lagu-lagu tertentu saja.

Cobain TS808 deh

Waduh, mantap. Gue ngeri terlalu (John) Mayer banget gitu.

Berarti karakter fuzz ada dua ya, Teisco dan Crayon

Iya, Teisco dijadiin kayak octaver/fuzz.

Yang octaver biasanya dipakai untuk lead lagu yang mana Pam?

Gue pakai biasanya di Closure, Deeper, Live Forever.

Kalau lead To the Bone lo pakai overdrive yang mana tuh?

Kalau ini cuma pakai Sunset, Katana, reverb, dan delay.

Berarti Blues Jr lo pakai clean ya? Enggak pernah crank driver-nya dari situ?

Iya betul.

Oke deh Pam, terima kasih ya

Sama-sama


Mau lihat penampilan live Pamungkas? klik gambar dibawah. dan mau punya kesempatan menangin gitar? Klik link ini!