Overdrive, Distortion, sama Fuzz, Apa Aja Bedanya? Mana yang Paling Cocok Untukmu?

by Tyo Harsono on Jan 10, 2022

Dunia musik berubah drastis di 1950an. Kemunculan gitar elektrik, amplifier, dan berbagai perkembangan lain alasannya. Salah satunya? Dirt effect.

Apa sih dirt effect? Awalnya, semua bermula keenggak sengajaan dari ampli gitar yang belum sebesar sekarang. Tapi fungsinya adalah untuk ngebesarin volume yang dihasilin gitar.

Karena venue semakin besar, lama kelamaan volume yang dibutuhin juga semakin gede. Di sini akhirnya ampli jadul mulai enggak kuat sampe akhirnya ngehasilin suara break up.

Awalnya suara ini dianggep sebagai kerusakan. Sampe akhirnya di awal 1960an malah banyak yang suka dan nyari cara ngedapetin suara kayak gitu.

Di dekade yang sama, pedal fuzz pertama akhirnya diproduksi secara masal. Abis itu pelan-pelan muncul jadi kategori efek sendiri.

Dirt pedal, demikian namanya. Dari kategori ini, akhirnya bakal jadi tiga sub kategori yang familiar di kuping kita semua, overdrive, distortion, sama fuzz.

Nah apa aja bedanya? Mana yang paling tepat untukmu? Simak penjelasannya di bawah ini!

Overdrive

Bisa dibilang pedal ini jadi yang pertama dibeli sebagian besar gitaris. Tujuannya adalah untuk ngubah suara jadi kayak ampli tabung yang volumenya cukup kenceng.

Suara yang dihasilin sama overdrive ini cukup natural. Overdrive ini ngehasilin suara yang cukup bersahabat dan biasanya ngekompres frekuensi mid sama low.

Overdrive juga bisa jadi pengganti booster. Caranya dengan nge-setting gain di pedal seminimal mungkin dan maksimalin volume knob.

Distortion

Banyak yang nganggep distortion cuma versi lebih kasar dari overdrive. Secara prinsip sih memang iya, tapi ada beberapa hal yang beda untuk ngehasilin suara itu.

Suara yang dihasilin sama overdrive ini cukup natural. Overdrive ini ngehasilin suara yang cukup bersahabat dan biasanya ngekompres frekuensi mid sama low.

Overdrive juga bisa jadi pengganti booster. Caranya dengan nge-setting gain di pedal seminimal mungkin dan maksimalin volume knob.

Untuk ngehasilin suaranya, distortion pakai karakteristik semi konduktor kayak transisor atau sirkuit terintegrasi. Hasilnya pembatas sinyal suara pun jadi hilang dan drive yang dihasilin lebih besar dan voila, jadilah distortion.

Suara distortion sendiri lebih organik dan gampang nyatu dengan instrumen lain. Karena tingkat kekasarannya, distortion biasa dipakai di musik-musik keras.

Fuzz

Sirkuit fuzz dibuat dari dua atau tiga transistor yang bisa nge-boost sinyal yang tinggi. Abis itu sinyal tersebut malah dibatasin. Nah fuzz sendiri terdiri dari sillicon sama germanium.

Hasilnya sinyal yang keluar bakal "twang"-y di frekuensi mids sama high. Fuzz juga lebih sensitif sama frekuensi yang diterima dan dikeluarin.

Fuzz ini cukup bisa dipakai untuk hampir semua jenis musik. Untuk pemakaian sendiri, fuzz bisa dibilang cukup gampang disetting ketimbang dirt pedal lain.

Nah, bingung sound fuzz kayak gimana? Mungkin beberapa gitaris yang akrab pake fuzz kayak Matt Bellamy, Jack White, sama Jimi Hendrix mungkin bisa jadi acuan.