Squier, Senjata Rahisia Fender untuk Bisa Dijangkau Gitaris dari Berbagai Kalangan

by Tyo Harsono on Nov 17, 2021

Ambisi Fender mengeluarkan gitar low budget sudah ada sejak dekade pertama mereka. Sayangnya Fender baru berhasil pada akhir 1970an atau awal 1980an melalui anak perusahaannya, Squier.

Seperti diketahui, Fender mengeluarkan beberapa jenis gitar pada dekade 1950an sampai 1960an yang ditujukan untuk gitaris pemula atau gitaris low budget. Sebut saja Musicmaster, Duo-Sonic, dan Mustang.

Sayangnya produk-produk itu gagal bersaing di pasaran. Malah, copy dari produk Fender semcam Telecaster dan Stratocaster yang dijual di pasaran oleh produsen asal Asia yang meroket.

Hal tersebut membuat Fender menghentikan produksi Musicmaster, Duo-Sonic, dan Mustang. Pada akhir dekade 1970an, Fender hampir kalah bersaing. Mereka nyaris bangkrut.

Beruntung, sebuah keputusan di awal 1980an terbukti tepat. Tepatnya paa 1981, Fender ingin mengembalikan kejayaan. Pertama dengan membuat gitar secara benar dan memperbaiki reputasi.

Salah satu cara awal yang ditempuh adalah dengan menciptakan merk baru, di Jepang. Namun, merk itu masih merupakan kepanjangan tangan dari Fender sendiri, untuk bersaing dengan Tokai dan FujiGen (dua produsen copy Fender terbesar saat itu).

Otak di balik keputusan itu adalah John McLaren, William Schultz, dan Dan Smith. Ketiganya merupakan otak di balik kesuksesan Yamaha di pasar Amerika Serikat dekade sebelumnya.

Kebetulan pada 1960an Fender sempat membeli perusahaan Squier. Saat itu, Squier merupakan produsen senar yang cukup ternama.

Seri pertama Squier dinamakan Bullet dan dibuat di Jepang. Saat itu mereka menjual versi low budget dari dua gitar ternama Fender, Stratocaster dan Telecaster.

Fender sendiri bekerja sama dengan FujiGen dan Kanda Shokai dalam memproduksi Squier. Pada 1982, terciptaah Fender Japan yang merupakan gabungan Fender dengan dua distributor asal Jepang.

Menariknya, awalnya orang-orang Amerika Serikat meragukan kualitas Squier. Apalagi di dekade 1980an Jepang hanya terkenal sebagai peniru produk papan atas.

Hal itu yang membuat Fender tidak langsung memasarkan Squier ke Amerika Serikat. Mereka mencoba pasar Eropa terlebih dulu dan mendapat kesuksesan di Inggris Raya.

Lucunya pada 1985 sempat terjadi krisis di Fender. Perusahaan itu dijual! Setelah penjualan pabrik di Fullerton pun ditutup karena mereka membuat pabrik baru di Corona, California.

Selama proses itu terjadi, Fender hanya memproduksi gitar di Jepang. Jadi selama 1985, mayoritas Fender yang dijual dibuat di Jepang.

Setelah itu Fender pun mulai perlahan membuat gitar di Jepang dengan nama mereka. Menariknya, Squier justru sempat beberapa kali memindahkan produksinya. Setelah dari Jepang, mereka pindah ke Korea Selatan, lalu China, dan Indonesia.

Beberapa gitar Squier sendiri sempat mencuri perhatian publik. Termasuk di antaranya yang terbaru adalah Squier Classic Vibes. Tak sedikit yang menganggap Squier seri tersebut lebih baik dari Fender Standard Mexico.

Pada akhirnya Fender melakukan perubahan dengan meningkatkan kualitas gitar buatan Mexico mereka. Salah satunya dengan mere-branding Fender Standard Mexico menjadi Fender Player Series.

Mau nonton berbagai film dan acara musik seru? Klik banner di bawah ini!