Gitar Signature dan Pengaruhnya untuk Brand

by Tyo Harsono on Sep 10, 2021

Hampir 100 tahun sejak gitar signature pertama dirilis. Tanpa disadari, sejak awal kehadiran gitar signature memang untuk menambah pundi-pundi uang.

Salahkan Gibson terkait munculnya gitar-gitar signature. Semua bermula dari kerja sama mereka dengan gitaris jazz awal abad ke-20, Nick Lucas.

Kala itu nama Gibson sebagai produsen gitar belum seperti sekarang. Gibson masih kalah dari nama-nama besar semacam Epiphone, Harmony, atau Washburn.

Maklum, Gibson memang belum fokus ke produksi gitar sampai awal abad ke-20. Gibson lebih terkenal sebagai produsen banjo atau mandolin.

Tentu saja mereka memutar otak agar bisa bersaing di industri gitar. Maklum, gitar mulai dianggap sebagai instrumen seksi setelah pergantian abad.

Di sinilah Gibson melihat popularitas Lucas sebagai jalan keluar. Mendompleng, atau pansos pun mereka lakukan dengan membuat gitar signature untuknya.

Efek dari gitar signature Nick Lucas ternyata luar biasa. Popularitas Gibson meningkat drastis. Selain gitar Lucas, gitar lain seperti Gibson L-1 pun laris manis di pasaran.

Tak cukup dengan Lucas, Gibson mencari gitaris lain untuk dibuat signature-nya. Mereka bahkan menikung Roy Smeck pada 1934 dari rivalnya, Harmony.

Pada era gitar elektrik pun, Gibson lagi-lagi menjadi pelopor gitar signature. Masih bersama gitaris jazz, kali ini Les Paul.

Berkat strategi menggunakan gitar signature, Gibson pun menjelma menjadi raksasa di industri gitar. Ketika para pesaingnya gulung tikar, Gibson justru tak terhentikan.

Gilanya, Gibson bahkan mampu mengakuisisi rival mereka, Epiphone. Gibson membeli Epiphone pada 1957 dengan harga murah.

Strategi Gibson ini mulai diikuti oleh beberapa produsen gitar lain. Mulai dari Gretsch dengan Chet Atkins sampai Fender bersama Eric Clapton mengukuhkan status mereka.

Bahkan ada beberapa produsen yang selamat dari kebangkrutan karena gitar signature. Contohnya Hofner yang nyaris kolaps tetapi bisa bangkit berkat bass signature Paul McCartney (dengan cara me re-branding Hofner Beatle Bass).

Strategi menggunakan gitar signature pun membuat produsen asal Jepang seperti Yamaha dan Ibanez mulai dianggap serius. Sebelumnya mereka hanya dianggap sebagai peniru produk Gibson atau Fender.

Mereka menggandeng beberapa nama besar di industri musik. Sebut saja Ibanez yang bekerja sama dengan Paul Gilbert dan Steve Vai atau Yamaha yang menggandeng Billy Sheehan.

Tak hanya produsen lama yang diuntungkan dengan adanya gitar signature. Terutama di industri bass, beberapa nama benar-benar terbantu oleh seri signature.

Modulus misalnya yang memanfaatkan hubungan buruk Flea dengan Music Man. Namun yang paling fenomenal belum lama ini adalah kemunculan Sire.

Brand asal Korea Selatan itu mencuri perhatian pada pertengahan dekade 2010an. Bagaimana tidak, mereka berhasil meyakinkan bassist legendaris Marcus Miller untuk membuat bass signature.

Dalam waktu kurang dari 10 tahun, Sire sudah menjadi nama yang diperhitungkan. Setelah Miller, mereka bekerja sama dengan gitaris jazz legendaris, Larry Carlton.

Tak bisa dipungkiri, gitar signature merupakan alat pansos produsen gitar sekaligus pundi-pundi uang mereka. Namun, salah besar kalau ada yang menganggap semua itu hanya gimmick belaka.

Toh gitar-gitar signature disesuaikan dengan spesifikasi yang diinginkan oleh si gitaris. Dengan gitar tersebut, kamu bisa memiliki gitar unik dengan spesifikasi berbeda.

Mau nonton berbagai film dan acara musik seru? Klik banner di bawah ini!