Archive for August 2021

Demi Mimpinya, John Suhr Berani Meninggalkan Fender

by Tyo Harsono on Aug 30, 2021

Tak terasa sudah 47 tahun John Suhr membuat gitar. Setelah awalnya bekerja menjadi Master Builder di Fender, Suhr membuat produsen gitar sendiri.

Awal karier Suhr bermula di New York. Kala itu dia bekerja di suatu toko gitar bertugas sebagai teknisi gitar.

Terinspirasi dengan gitar-gitar, Suhr mulai membuat gitar sendiri pada 1974. Sampai akhirnya dia menjadi murid dari Rudy Pensa pada 1980an.

Pada 1984 Suhr mulai membuat gitar pertamanya. Kemudian dia menerima order pembuatan gitar dengan nama Pensa-Suhr untuk gitaris ternama.

Tercatat nama-nama besar pernah meminta dibuatkan gitar oleh Pensa-Suhr. Sebut saja Pete Frampton, Eric Clapton, serta Mark Knopfler.

Merasa sudah cukup pengalaman, Suhr meninggalkan New York. Ketika itu dia terobsesi mempelajari cara membuat amplifier.

Setelah empat tahun, dia merasa dunia pembuatan amplifier bukan untuknya. Kemudian dia mendapat tawaran bekerja di Fender Custom Shop.

Tidak tanggung-tanggung, Suhr langsung mendapat jabatan tinggi. Dia ditunjuk menjadi Senior Master Builder di sana.

Pete Frampton rupanya masih menyukai hasil karya Suhr. Hal itu membuat Frampton menjadi langganannya ketika bekerja di Fender.

Meski begitu, bekerja untuk orang lain nampaknya bukan passion Suhr. Dia merasa tidak betah berlama-lama di Fender.

Toh dia memiliki mimpi yang besar. Memiliki produsen gitar sendiri yang menghasilkan produk dari otaknya sendiri.

Hanya dua tahun saja akhirnya Suhr bekerja di Fender. Mulai 1997, dia berhenti dan membuat perusahaan sendiri yang dinamakan Suhr Guitars.



Ketika itu dia bekerja sama dengan Steve Smith. Suhr bertugas membuat desain gitar sementara Smith mengurusi pemograman mesin.

Awalnya Suhr hanya menerima custom order. Mereka membuat gitar dengan spesifikasi tinggi berdasarkan permintaan konsumen.

Pada saat yang sama Suhr juga mulai memproduksi pickup sendiri. Uniknya pickup buatannya justru lebih mendunia terlebih dulu ketimbang gitarnya.

Gebrakan Suhr mulai terasa pada 2005 ketika memperkenalkan Silent Single Coil pickup. Produk itu mengubah lanskap dunia gitar saat itu.

Sebelumnya pickup single coil terkenal memiliki suara bising. Namun Suhr mengakalinya dnegan memberikan coil tambahan untuk mereduksi suara bising.

Saat ini produk Suhr cukup beragam. Mulai dari Classic yang terinspirasi dari Fender Stratocaster sampai Modern yang terinspirasi dari Superstrat.

Awalnya banyak yang cibiran karena menganggap produk Suhr banyak terinspirasi dari Fender. Toh dia memang sempat menimba ilmu di sana.

Akan tetapi, sekarang pujian terus mengalir ke Suhr. Bahkan, mereka sampai berani menyebut gitar buatan Suhr sebagai penyempurnaan dari gitar-gitar Fender.

Sejumlah gitaris ternama menggunakan gitar buatan Suhr. Sebut saja Scott Henderson, Mateus Asato, sampai Mark Knopfler.

Mau nonton berbagai film dan acara musik seru? Klik banner di bawah ini!


Apa Ini? Jenis Pedal Baru yang Enggak Butuh... Gitar?

by Tyo Harsono on Aug 27, 2021

Delay, reverb, fuzz, chorus, dan lain-lain. Banyak banget jenis efek gitar. Hal itu membuat kita semua sering bertanya-tanya, apa lagi selanjutnya?

Mungkin banyak yang menganggap multi effect adalah evolusi lanjutan dari pedal tersebut. Namun, multi effect hanya menggabungkan beberapa efek menjadi satu.

Ya modelan efek seperti Line 6 HX Effect atau Boss GT-1000 sudah lama muncul. Lalu kemudian muncul multi effect yanf ditambah modeler.

Seperti misalnya Line 6 Helix atau Kemper. Tetapi lagi-lagi sebenarnya enggak ada yang baru selain menambah amp/cab simulator ke multi effect.

Nah, kini mungkin jawaban dari evolusi efek gitar mulai terjawab. Beberapa tahun belakangan, mulai muncul efek yang juga... instrumen.

Tentu saja di sini kami bukan membahas gitar yang punya built in effect, melainkan pedal yang bisa "menggambar" instrumen. Loh, maksudnya bagaimana? Sabar, sabar.

Jadi, beberapa tahun belakangan, muncul efek yang juga memiliki MIDI controller. Inspirasinya tentu dari digital audio workstation (DAW).

Seperti diketahui, melalui DAW, kita bisa "menggambar" berbagai jenis instrumen. Maksudnya terdapat suara dari instrumen tanpa perlu memainkannya.

Nah, kini teknologi tersebut diadaptasi ke dalam bentuk pedal. Dengan pedal baru tersebut, kita bisa "menggambar" instrumen.

Paling terkenal tentu saja Empress ZOIA. Empress sudah merilis pedal tersebut sejak April 2019 silam.

Dalam keterangan di situsnya, Empress menyebut ZOIA sebagai synthesizer dalam bentuk pedal. Bukan sembarang synth, tetapi modular synth.

Pada ZOIA, terdapat beberapa blok modulasi seperti envelope, filters, reverb, delay, tremolo, dan lain-lain. Artinya, gitaris bisa saja memakainya secara normal.

Akan tetapi, buat apa membeli ZOIA mahal-mahal kalau memakainya secara "biasa saja". Toh efek tersebut punya kelebihan tersendiri.

ZOIA punya oscillator sendiri yang bisa dipakai untuk menghasilkan suara. Dengan menggunakan MIDI controller pun, sudah cukup menghasilkan suara apa pun.

Artinya pengguna ZOIA enggak perlu gitar untuk tampil di hadapan publik. Toh keberadaan oscillator di sana sudah cukup untuk kebutuhan kita.

Meski demikian, ZOIA bukan satu-satunya efek sejenis. Setidaknya ada dua efek yang cukup mirip dengan mereka, yaitu Poly Beebo dan Mod Devices Mod Dwarf.

Bedanya, Beebo dan Mod Dwarf tidak punya pad fisik untuk menggambar musik. Melainkan penggunaan digital yang ada di dalam pedal.

Jadi, bisa dibilang sebenarnya jenis efek ini adalah gabungan antara MIDI Controller dengan multi effect. Dalam beberapa sumber mengenai efek seperti ini, pengguna bahkan diminta untuk melupakan efek secara tradisional.

Hasilnya di media-media musik di luar negeri mulai heboh mengenai, apa sih kategori yang tepat untuk efek seperti ini? Pedal workstations? Atau modular pedal?

Seperti yang pernah kami bahas di sini sebelumnya, mungkinkah perkembangan teknologi akan menggantikan peran alat musik?

Dengan munculnya efek-efek seperti ZOIA dan kawan-kawan, rasanya seperti mewajarkan gitaris tidak bisa memainkan gitar pada masa depan.

Toh dengan pedal macam ini, musisi tidak perlu lagi memainkan gitar. Jadi menurut kalian bagaimana? Apakah pedal jenis ini akan menggantikan alat musik seperti gitar?

Mau nonton berbagai film dan acara musik seru? Klik banner di bawah ini!


Keane yang Sudah Enggak Malu-malu Lagi Bermain Gitar

by Tyo Harsono on Aug 25, 2021

Kemunculan Keane pada dekade 2000an memantik kontroversi dari anak band saat itu. Alasannya? Mereka enggak pakai gitar atau bass!

Sekarang sih, band tanpa gitaris hal yang sudah biasa. Namun hampir dua dekade lalu? Bukan sesuatu yang lazim.

Beberapa gitaris bahkan sempat mengecam Keane. Termasuk di antaranya gitaris Oasis Noel Gallagher yang sebenarnya idola anggota Keane.

Jadi Keane sebenarnya sudah berdiri sejak 1995. Saat itu mereka bernama The Lotus Eaters dengan memiliki Dominic Scott sebagai gitaris.

Sayangnya Keane enggak laku-laku. Sampai akhirnya karena kurang sukses secara finansial dan ribut dengandnegan Tim Rice-Oxley, yang merupakan keyboardist sekaligus pemain bass Keane saat itu, Scott pun hengkang.

Kepergian Scott yang akhirnya membuat Keane memutuskan enggak mencari gitaris baru. Tom Chaplin mencoba hal baru, enggak memakai gitar.

Rupanya keputusan tersebut membuat Keane malah meledak. Album Hopes and Fears yang rilis pada 2004 menjadi roket yang meluncurkan Keane.

Tembang Somewhere Only We Know dan Everybody's Changing meledak saat itu. Album tersebut membuat mereka memenangi Brit Awards tahun berikutnya.

Sukses dengan Hopes and Fears rupanya enggak membuat Keane puas. Beberapa bulan setelah memenangi Brit Awards, mereka mulai rekaman album keduanya.

Judulnya Under the Iron Sea. Pada album keduanya, Keane mengandalkan Is It Any Wonder? yang lagi-lagi juga meledak.

Nah setelah Under the Iron Sea inilah Keane perlahan mulai bergeser. Niatan melanjutkan band tanpa gitar perlahan mulai luntur.

Dalam sebuah wawancara, Chaplin pernah berkata ingin membuat musik yang lebih organik. Namun, dia mengaku masih belum mau menggunakan gitar saat itu.

Rupanya di album ketiga mereka, Perfect Symmetry, Keane mulai berani memainkan gitar. Jesse Quin ditunjuk untuk memainkan bass dan gitar.

Hebatnya, meski mulai meninggalkan cita-cita lamanya, Keane tetap sukses. Perfect Symmetry menjadi album nomor satu di Inggris Raya pada 2008.

Nah sejak saat itu lah Tom Chaplin memegang peranan baru. Selain menjadi vokalis dan keyboardis, Chaplin kini juga memegang gitar.

Awalnya memang hanya gitar akustik. Sebelum akhirnya perlahan dia memainkan gitar listrik dalam beberapa kesempatan.

Sementara itu Quin yang tadinya hanya menjadi tenaga bantuan, mendapat status sebagai anggota resmi. Tepatnya mulai 2011.

Keane pun mengeluarkan dua album setelah Quin bergabung. Pertama adalah Strangeland lalu Cause and Effect yang mereka rilis setelah sempat hiatus.

Kedua album tersebut memang tidak sesukses album mereka sebelumnya. Namun, Keane tetap memiliki fans yang masif di seluruh dunia.

Meski kini sudah menggunakan gitar, Keane sempat menjadi bukti, berkarya tidak perlu menunggu satu atau lain hal.

Seperti alat musik mainan yang kami bahas beberapa waktu lalu di sini, dengan keterbatasan justru bisa menghasilkan karya yang unik.

Enggak mau ketinggalan aksi Keane menampilkan lagu-lagu andalan mereka? Klik link ini dan banner di bawah ini!


Telecaster Thinline, Ketika Telecaster Kawin Silang dengan ES-335

by Tyo Harsono on Aug 23, 2021

Hewan aneh yang seperti kawin silang beberapa spesies banyak terlihat di dunia, seperti Zebra atau Platipus. Nah di dunia gitar pun, hal seperti itu ada, seperti Telecaster Thinline misalnya.

Sejak keluar pada 1951, Telecaster dan Fender seolah menjadi anti tesis dari Gibson. Maklum, sampai awal 1950an, Gibson hanya memproduksi gitar akustik atau hollow body.

Semua berubah pada 1968. Fender mengeluarkan seri Telecaster Thinline. Tujuannya saat itu satu, menyaingi dominasi Gibson di pasar gitar hollow body.

Niatan Fender enggak tanggung-tanggung. Mereka sampai membajak Roger Rossmeisl yang sebelumnya pernah bekerja untuk Gibson dan Rickenbacker.

Menariknya, lubang berbentuk F yang biasanya ada dua di gitar hollow body, hanya ada satu di Telecaster Thinline.

Meski untuk mencuri pasar gitar hollow body, nyatanya Telecaster Thinline berbentuk semi hollow body. Hanya bagian atas gitar saja yang bolong.

Semua spesifikasi Telecaster Thinline sama persis dengan Telecaster normal. Dua single coil ada di tubuh gitar tersebut.

Akan tetapi perubahan terjadi pada 1972. Semakin ingin mengalahkan dominasi Gibson, Fender mengubah konfigurasi menjadi humbucker di neck dan bridge.

Berbeda dengan humbucker-nya Gibson, Fender memakai Wide Range Humbucker. Pickup tersebut dirancang oleh Seth Lover yang sebelumnya merancang humbucker Gibson.

Body gitar pun berubah dari sebelumnya menggunakan kayu mahogany, menjadi swamp ash. Sayangnya orang-orang saat itu lebih suka Telecaster biasa atau ES-335.

Akhirnya kesabaran Fender pun habis. Di tengah perpindahan kepemilikan, produksi Telecaster Thinline pun dihentikan pada 1979 karena mereka ingin fokus ke produk-produk andalannya.

Fender sendiri sempat memproduksi kembali Telecaster Thinline pada 1990an. Namun hanya sebentar karena saat itu Fender tidak mempromosikan Telecaster Thinline secara gencar.

Setelah itu pun percobaan membangkitkan kembali Telecaster Thinline sempat mereka lakukan. Sayangnya Thinline terlalu segmentif. Memang gitar ini mempunyai tempat sendiri bagi gitaris. Apalagi karakternya berbeda dengan sound khas twang dengan mid yang sangat khas dan sound yang sedikit lebih fat dari telecaster pada umumnya.

Sampai akhirnya Fender memutuskan memindahkan produksi Telecaster Thinline ke Squier. Di sana, gitar itu justru laku.

Telecaster Thinline sempat masuk beberapa seri Squier. Mulai dari Master Series, Vintage Modified, sampai Classic Vibes.

Sejak saat itu, Telecaster Thinline selalu menjadi bagian dari produksi Squier. Terbaru mereka mengeluarkan Cabronita Thinline Telecaster sebagai bagian dari Paranormal Series.

Sementara itu, Fender sendiri terakhir kali mengeluarkan Telecaster Thinline adalah pada 2016. Saat itu berada dalam seri American Elite.

Beberapa gitaris ternama pernah memakai Fender Telecaster Thinline. Seperti Bob Dylan, Daryl Hall (Hall & Oates), Curtis Mayfield, sampai Jonny Lang.

Jadi bagaimana menurutmu? Apakah Telecaster Thinline merupakan perkawinan sukses antara Telecaster dengan ES-335? Atau sebaiknya menggunakan kedua gitar tersebut secara terpisah?

Mau nonton berbagai film dan acara musik seru? Klik banner di bawah ini!


Robert Plant, Led Zeppelin, dan Loyalitas untuk Wolverhampton

by Tyo Harsono on Aug 20, 2021

Ketika masih kecil, bisa menonton pertandingan sepak bola favorit adalah hal yang luar biasa. Apalagi ketika pemain idolamu bersikap baik kepadamu.

Kalau tidak percaya, tanya saja kepada Robert Plant. Tanyakan apa yang membuatnya sebegitu mencintai Wolverhampton Wandereres meski bukan berasal dari kota Wolverhampton.

Plant lahir di West Bromwich, yang berjarak sekitar 30 menit dari Wolverhampton. Di kota kelahiranya juga ada klub yang lumayan oke, West Bromwich Albion.

Akan tetapi, pada dekade 1950an, Wolves adalah klub yang berprestasi di Inggris. Mereka meraih lima gelar Premier League (waktu itu masih bernama First Division) dan tiga kali menjadi runner up.

Wolves juga memenangi Piala FA pada dekade tersebut. Selain itu mereka memenangi empat Charity Shield (sekarang menjadi Community Shield).

Meski demikian, yang membuat Plant menggemari Wolves bukanlah prestasi-prestasi itu. Adalah bek mereka kala itu, Billy Wright.

Pada dekade 1950an Wright adalah kapten sekaligus andalan timnas Inggris. Wright mengawal lini belakang The Three Lions dalam 105 laga dengan koleksi tiga gol.

Ayah Plant mengajaknya ke stadion saat Wolves bermain melawan Liverpool. Sebelum pertandingan dimulai, keajaiban yang tak akan pernah Plant lupakan terjadi.

"Ketika berusia lima tahun, Billy Wright melambai kepadaku. Aku lupa bahwa ada sekitar 15 ribu orang di sisi yang sama. Sejak saat itu aku menjadi tergila-gila kepada Wolves," kenang Plant dalam sebuah wawancara.

"Bertahun-tahun kemudian aku bertemu dengan Billy dan mengatakan hal itu. Dia menyentuh pundakku dan berkata 'tentu saja aku melambai kepadamu Robert," lanjutnya.

Musim 1953-1954, hari di mana Plant mulai bersumpah menjadi penggemar Wolves terbukti membawa petuah. Musim itu Wolves memenangi gelar perdana mereka.

Seperti Wright, Plant sempat digila-gilai oleh penggemarnya. Terutama sejak dia bergabung dengan Led Zeppelin pada 1968.

Meski sudah menjadi rockstar, Plant tak melupakan cintanya untuk Wolves. Dia mengaku kerap menyanyikan chant klub kesayangannya sebelum beraksi di atas panggung.

Ketika Zeppelin bubar akibat meninggalnya John Bonham, Plant lebih sering hadir di Molineux Stadium. Bahkan dia sering terlibat dalam acara-acara Wolves.

Pernah suatu kali Plant menghadiri acara makan malam klub. Pada acara tersebut dia bernyanyi sementara Wolves memperkenalkan pemain mereka.

Sampai akhirnya, mulai 2009, Wolverhampton mengajak Plant untuk masuk ke dalam jajaran klub. Mereka menunjuknya menjadi Wakil Presiden Kehormatan.

Pada tahun yang sama, Plant juga mendapat kehormatan menendang bola pertama Wolves sebelum musim berlangsung. Saat itu mereka menghadapi West Ham United.

Gilanya, kecintaan Plant terhadap Wolves juga sempat mengancam pernikahannya. Mendiang istrinya Maureen Wilson tidak suka dengan kecintaan Plant terhadap sepak bola.

Kamu gila bola dan suka nonton Premier League? Enggak mau ketinggalan pertandingan tim favoritmu seperti Robert Plant? Klik banner di bawah ini!