Wawancara Eksklusif Pamungkas: Eksplorasi Sound dan Resep Paten To the Bone

by Tyo Harsono on Jul 2, 2021

Usaha memang enggak pernah mengkhianati hasil. Pamungkas tahu betul soal hal tersebut. Kecintaannya terhadap musik yang membuatnya enggak mau menyerah.

Lahir di Jakarta pada 1993 dengan nama Rizki Rahmahadian Pamungkas, dia sudah mengenal musik sejak berumur delapan tahun.

Usaha Pamungkas untuk sengetop sekarang enggak main-main. Mulai dari main reguler di kafe sampai pengiring acara religi di stasiun televisi dia jalani.

Hebatnya kalimat "hidup dari musik" benar-benar dia terapkan. Mulai dari beli alat musik sampai biaya pendidikan Pamungkas hasilkan dari bermusik.

Kerja keras Pamungkas mulai terbayar dari album Walk the Talk (2018). Lewat I Love You but I'm Letting Go, dan One Only, namanya mulai akrab di telinga pencinta musik tanah air.

Satu tahun berselang, pria berusia 28 tahun itu mengukuhkan namanya sebagai salah satu raksasa di industri musik Indonesia.

Pada 2019, dia merilis album Flying Solo setelah sebelumnya didahului remix Walk the Talk. Dari album itu, To the Bone semakin meroketkan nama Pamungkas.

Lagu-lagu Pamungkas pun semakin sering diputar. Bahkan ada generasi yang menjadikan single macam One Only atau To the Bone sebagai 'lagu belajar main gitar' mereka.

Tidak hanya sebagai penyanyi dan pencipta lagu, Pamungkas juga serius dalam bermain gitar dan sangat concern sama gear yang digunakan. Semua isian lead gitar di lagunya dia yang isi lho.

Smosyu Music beruntung mendapat kesempatan mengobrol dengan Pamungkas. Tenang, kami juga memancingnya untuk membocorkan resep paten di balik sound menarik To the Bone.

Pamungkas sendiri mau loh berbagi cerita soal eksplorasi sound dan gear apa saja yang ada di balik To the Bone dan lagu-lagu lain yang fenomenal itu.

Mau tahu seperti apa obrolan kami dengan musisi ganteng satu ini? Simak wawancara eksklusif Smosyu Music dengan Pamungkas di bawah ini!

Halo Pam, apa kabar? Boleh tahu enggak pedalboard dan efek lo?


Sebentar tak rinciin. Jadi dari gitar ke tuner, terus Keeley Electronic Katana, habis itu ke Teisco Fuzz yang dilanjut ke JHS Crayon.

Kemudian lanjut ke Tube Screamer Mini dan Strymon Sunset dan Strymon Flint. Setelah itu EHX Pitch Fork, EHX Qtron, dan Strymon Blue Sky.

Delay ada di barisan belakang sebelum gate.

Kalau kelistrikannya seperti ini

Kalau gear lain untuk live apa saja?

Amplifier gue pakai Fender Blues Jr. Kalau microphone gue pakai Sennheiser E609 untuk todong.

Gitar yang utama ada tiga, PRS Silver Sky, Fender Albert Hammond, dan Epiphone Casino bigsby

Sekarang gue lagi belajar pakai ampli lagi nih. Kemarin coba sekali pakai ampli langsung enggak bisa balik ke direct lagi. Beda banget.

Itu TS Mini Pasti Riko (Mocca) nih racunnya

Iya hahaha.

Berarti pakai satu line saja todong Sennheiser ya Pam?

Iya, sebenarnya lagi mau coba todong belakang juga, tetapi occasional saja. Sebenarnya panggung yang memungkinkan saja.

Biasanya buat dapatin ambience ruangan juga kalau todong belakang ya

Iya, kalau rekaman biasanya di belakang todong lagi. Condenser tetapi di balik phasing-nya.

Kalau overdrive utama lo yang mana Pam? Itu berarti ada tiga overdrive ya?

Tube Screamer dan Sunset. Tube Screamer tipis-tipis doang.

Crayon gue set jadi fuzz yang dirt banget, jadi di pakai di lagu-lagu tertentu saja.

Cobain TS808 deh

Waduh, mantap. Gue ngeri terlalu (John) Mayer banget gitu.

Berarti karakter fuzz ada dua ya, Teisco dan Crayon

Iya, Teisco dijadiin kayak octaver/fuzz.

Yang octaver biasanya dipakai untuk lead lagu yang mana Pam?

Gue pakai biasanya di Closure, Deeper, Live Forever.

Kalau lead To the Bone lo pakai overdrive yang mana tuh?

Kalau ini cuma pakai Sunset, Katana, reverb, dan delay.

Berarti Blues Jr lo pakai clean ya? Enggak pernah crank driver-nya dari situ?

Iya betul.

Oke deh Pam, terima kasih ya

Sama-sama


Mau lihat penampilan live Pamungkas? klik gambar dibawah. dan mau punya kesempatan menangin gitar? Klik link ini!