Richie Kotzen, Gitaris Pengembara yang Adaptif

by Tyo Harsono on Jul 28, 2021

Poison, Mr. Big, The Winery Dogs, merupakan nama-nama besar di industri musik rock. Apa persamaan dari ketiga band itu? Richie Kotzen.

Kalau dilihat sekilas, Poison, Mr. Big, dan The Winery Dogs punya style yang berbeda. Hebatnya, Kotzen bisa menyesuaikan diri.

Adaptif, mungkin kata itu yang paling bisa menggambarkan Kotzen sebagai gitaris. Mau main blues? Ayo, hair metal? Bisa.

Kemampuannya untuk beradaptasi dengan genre dan gaya bermain apa pun dia tunjukkan bersama band-band di atas. Bahkan, sejak awal dia sudah seperti bunglon.

Ketika masih muda, Kotzen sangat mengidolakan Kiss. Sejak umur tujuh tahun dia sudah belajar gitar elektrik karena band tesebut.

Dia pun sempat membuat band bernama Arthur's Museum. Namun namanya mulai dikenal saat berusia 19 tahun dan merilis album instrumentalnya, Richie Kotzen.

Hanya dua tahun berselang, Kotzen yang baru berusia 21 tahun diajak bergabung ke Poison. Posisi keduanya sangat berbeda saat itu.

Kotzen masih menjadi gitaris pemula yang menggantikan C.C. DeVille. Sementara itu, Poison adalah salah satu band hair metal ternama.

Sayangnya kebersamaan kedua belah pihak hanya berjalan selama dua tahun. Hal itu lantaran Kotzen ketahuan selingkuh dengan tunangan drummer Poison.

Pasca Poison, Kotzen fokus dengan karier solonya. Sampai kesempatan besar kembali mendatanginya enam tahun berselang.

Kali ini Mr. Big yang terkenal sebagai salah satu band hard rock papan atas sedang mencari gitaris baru. Pasalnya gitaris mereka Paul Gilbert keluar.

Kotzen bergabung dengan Mr. Big sampai band itu bubar pada 2003. Lagi-lagi karier solo menjadi pelarian gitaris yang kini berusia 51 tahun itu.

Meski demikian, hasrat nge-band Kotzen masih besar. Buktinya dia membuat supergroup The Winery Dogs bersama Mike Portnoy (drum, eks Dream Theater) dan Billy Sheehan (bass, Mr. Big, Racer X).

Selain itu dia juga membuat Smith/Kotzen. Kali ini adalah hasil kolaborasinya dengan gitaris Iron Maiden, Adrian Smith.

Berbagai proyek di atas membuktikan kemampuan Kotzen beradaptasi di berbagai genre. Dia sendiri merasa hal itu adalah yang paling penting untuknya.

"Sebagai gitaris, kamu harus bisa bermain solo di semua kunci. Baik mayor mau pun minor. Itu apabila kamu berencana bermain musik," kata Kotzen dalam sebuah wawancara.

"Aku sering melihat di musik hard rock, banyak musisi yang baru bermain enam bulan. Setelah itu mereka dipaksa hanya memainkan satu gaya."

"Aku bukan musisi jazz, tetapi bisa memainkan lick jazz palsu. Aku bukan George Benson. Menurutku, dia adalah gitaris terhebat sepanjang masa," lanjutnya.

Untuk urusan gitar sendiri, Kotzen selalu memakai Fender. Bahkan dia punya dua seri signature, Telecaster dan Stratocaster.

Ciri khas dari gitar Kotzen (baik Tele maupun Strat) adalah di berbagai fiturnya. Kedua gitar punya body dari ash dengan flame maple caps.

Kemudian neck terbuat dari maple yang menjadi satu dengan fretboard-nya. Biasanya gitar-gitar tersebut juga punya pickup DiMarzio Chopper T/DiMarzio Twang King (Tele) dan DiMarzio custom (Strat).

Tertarik memakai gitar signature Kotzen? Klik di sini untuk varian Telecaster dan klik di sini untuk varian Stratocaster.

Mau nonton berbagai film dan acara musik seru dan dapetin kesempatan memenangi gitar? Klik banner di bawah ini!