Indonesia, Calon Raksasa Industri Gitar

by Tyo Harsono on Jul 16, 2021

Dalam beberapa tahun terakhir gitar-gitar merk yang sudah populer, diproduksi Indonesia mulai merajalela. Memang ada beberapa pihak yang meragukannya, tetapi kualitas gitar bikinan Indonesia sudah mulai mendapat pengakuan dunia.

Menilik sejarahnya, awalnya gitar-gitar produksi Asia kerap dipandang sebelah mata. Maklum, dari segi alat dan sumber daya memang belum seperti sekarang.

Sampai masuklah Jepang dan lawsuit era mereka. Produsen gitar asal Negeri Sakura mulai membuat gitar berkualitas dengan harga sangat murah.

Kondisi tersebut membuat produsen gitar asal Amerika Serikat seperti Fender dan Gibson (lewat Epiphone-nya) melebarkan sayap ke Benua Kuning.

Kualitas Fender produksi Jepang era 1980an bahkan mendapat pengakuan dari pencinta gitar di seluruh dunia. Bahkan banyak yang merasa Fender Jepang era 1980an lebih baik ketimbang buatan Amerika era yang sama.

Ketika SDM di Jepang semakin mahal, produsen gitar dunia pun mulai memutar otak. Mereka mencari alternatif memproduksi gitar murah dengan kualitas wahid.

Awalnya mereka bergeser sedikit ke Korea Selatan. Sebelum akhirnya merambah China dan kemudian Indonesia.

Di Indonesia sendiri awalnya hanya Squier versi terbawah yang diproduksi. Namun kelamaan ternyata kualitas gitar produksi Indonesia semakin menanjak.

Mulai dekade 2010an, Indonesia mulai dikenal sebagai produsen gitar berkualitas dengan harga terjangkau. Dengan mudahnya mendapatkan sumber daya seperti kayu, akhirnya produsen gitar pun berinvestasi di Indonesia.

Bukan hanya Squier dan Epiphone saja. PRS SE sudah punya pabrik di Indonesia, diikuti Ibanez, Yamaha, sampai Sterling by MUsicman.

Banyak kabar beredar, sekarang ini pabrik paling baru, modern, dengan teknologi paling canggih untuk industri gitar ada di Indonesia.

Produsen gitar ternama merasa lebih murah membangun itu karena adanya kayu yang berlimpah serta tenaga kerja yang relatif tidak terlalu mahal.

Bandingkan dengan biaya terus menerus mendatangkan kayu ke Amerika Serikat atau Jepang. Belum lagi ongkos tenaga kerja yang lebih mahal di sana.

Kualitas produksi asal Indonesia yang semakin meningkat membuat beberapa produsen berani membuat gitar kualitas premium di Indonesia.

Sebut saja PRS yang membuat beberapa seri SE Custom di Indonesia. Jujur saja, itu seolah menjadi pengakuan bagi kualitas gitar produksi Indonesia.

Selain itu Classic Vibes yang merupakan seri tertinggi dan unggulan Squier juga dipindah produksinya dari China ke Indonesia.

Sterling by Musicman malah mayoritas produknya dibuat di Indonesia dengan harga yang bahkan bersaing dengan gitar-gitar buatan Korea dan Meksiko.

Nah di sini muncul pertanyaan kenapa mulai muncul gitar produksi Indonesia yang harganya cukup mahal? Jawabannya satu, kualitas bahan.

Sebut saja begini, gitar buatan Amerika Serikat atau Jepang dengan roasted maple neck, flamed maple top, dan pickup kualitas terbaik bisa seharga motor.

Sementara itu konfigurasi yang sama di gitar produksi Indonesia? Hanya seharga versi standar dari gitar produksi Meksiko atau Korea.

Kondisi tersebut membuat banyak pencinta gitar di luar negeri yang memprediksi Indonesia akan menjadi raksasa dalam industri gitar.

Toh apa yang Indonesia alami saat ini seperti Jepang pada medio 1980an atau Meksiko pada 1990an. Namun kini gitar dari kedua negara itu sudah mulai diakui.

Sayangnya keraguan akan kualitas gitar produksi Indonesia justru muncul dari dalam negeri. Padahal di luar sana pengakuan untuk gitar produksi Indonesia justru bermunculan. Forum-forum gitar luar,sudah banyak sekali yang membahas bahwa gitar made in Indonesia mempunyai QC yang baik.

Kini tinggal menunggu waktu sampai munculnya produsen/brand gitar asli Indonesia yang diakui dunia. Toh di Jepang sendiri mulai banyak produsen lokal dengan kualitas tinggi seperti Bacchus.

Mau nonton berbagai film dan acara musik seru dan dapetin kesempatan memenangi gitar? Klik banner di bawah ini!