Romantisme Jack White, Seven Nation Army, dan Stadion Olimpico

by Tyo Harsono on Jun 14, 2021

Ketika masih muda, Jack White punya cita-cita menciptakan lagu tema James Bond. Dari mimpi itulah dia membuat Seven Nation Army.

Awalnya White ogah merilis lagu tersebut. Dia mengaku menyimpan Seven Nation Army apabila menerima permintaan mengisi tema James Bond (yang nantinya memang akan dia dapatkan, tetapi itu cerita lain).

Akhirnya White pun menyerah. Bersama band-nya, The White Stripes, akhirnya dia memasukan Seven Nation Army ke Elephant.

Siapa sangka justru lagu itu yang membuka jalan untuk White terkenal. Tak ada yang mengira lagu itu bakal mengantarkannya mendapat kesempatan mengisi lagu tema James Bond.

Dengan suara gitar Jack White yang menggunakan efek distorsi sebagai pusat, Seven Nation Army mengandalkan ketukan drum sederhana Meg White. Suara gitar yang menyerupai bass melengkapi lagu tersebut.

Seven Nation Army sukses memenangi Lagu Rock Terbaik pada Grammy 2004. Sayangnya, lagu itu tidak menembus pasar mainstream hingga dua tahun berselang. Rupanya, ada andil Piala Dunia saat itu.

Loh, kok Piala Dunia? Ya, semuanya saling berhubungan. Menariknya, ada juga hubungannya dengan Stadion Olimpico, tempat pembukaan EURO 2020 lalu.

Di tempat yang sama, Seven Nation Army memulai langkah meroketkan Jack White ke dunia. Terima kasih kepada klub asal Belgia, Club Brugge.

Semua bermula pada Oktober 2004, saat Brugge akan menjamu AC Milan di Liga Champions. Sebelum pertandingan fans mereka mendatangi sebuah bar.

Di sana mereka secara tidak sengaja mendengar Seven Nation Army di radio. Mereka pun merapalkan ritme lagu tersebut.

Rupanya hal tersebut menjadi tradisi baru bagi Brugge. Para pendukung tim tuan rumah menyanyikan ritme Seven Nation Army meski tidak mengetahui liriknya.

Seven Nation Army kemudian menjadi chant andalan Brugge. Setiap pertandingan, mereka selalu menyanyikan lagu ciptaan Jack White itu.

Hingga akhirnya Brugge berhadapan dengan AS Roma di Piala UEFA (sekarang Liga Europa). Di laga tersebut, fans I Lupi terkesan dengan Seven Nation Army.

Akhirnya, Seven Nation Army berkumandang di Stadion Olimpico. Dari sana, klub-klub Serie A lain mulai mengadaptasi lagu tersebut.

Menariknya, para pencinta sepak bola di Italia bersatu mendukung timnas Italia di Piala Dunia 2006 dengan Seven Nation Army.

Gli Azzurri melaju ke final dan menghadapi Prancis. Seven Nation Army (yang memiliki nama Po Po Po Song) bergema di Stadion Olimpiade Berlin.

Akhirnya Italia pun menang lewat adu penalti. Tebak apa yang terjadi setelah itu? Ya, Po Po Po Song berkumandang di jalan-jalan di Italia.

Setelah itu, Seven Nation Army menggapai puncak popularitas. Lagu tersebut dan The White Stripes mulai dikenal oleh khalayak ramai.

Sedangkan Seven Nation Army menjadi lagu tidak resmi di sepak bola. Lagu tersebut selalu diputar di stadion sebelum pertandingan pada EURO 2008 hingga terbaru Piala Dunia 2018.

Popularitas Seven Nation Army pun menyaingi We Will Rock You-nya Queen sebagai lagu di stadion. Banyak yang menganggap Jack White telah menghapus batas bahasa di stadion.

Setelah hampir dua dekade setelah Seven Nation Army rilis, popularitasnya tidak kunjung menurun. Hingga saat ini pun masih banyak yang tidak mengenal siapa Jack White atau The White Stripes.

Akan tetapi, satu hal yang pasti, Seven Nation Army bakal selalu abadi. Setidaknya selama masih ada pertandingan sepak bola.

Enggak mau ketinggalan nonton pertandingan EURO 2020 dan dapetin kesempatan memenangi gitar? Klik link ini!