Kolom Smosyu: Efek Analog, Mungkinkah Bakal Tergantikan?

by Tyo Harsono on Jun 4, 2021

Beberapa waktu lalu, gue sempat ngobrol dengan Mas Agha (Harlingga, pemilik Smosyu). Waktu itu, obrolan kami membahas soal efek analog dan digital.

Kebetulan, obrolan itu terjadi setelah kami mewawancarai Rama d'Masiv. Dari obrolan itu, Mas Agha takjub ketika mengetahui kini Rama memakai setup pedalboard yang cukup sederhana.

Hampir semua kebutuhannya terpenuhi lewat Line6 Helix. Butuh reverb? Ada. Perlu delay? Bisa. Tiba-tiba mau pakai flanger? Ada juga. Bahkan berbagai cabinet simulator dan ampli juga ada.

Singkat cerita, Mas Agha berpendapat, " Kayaknya 10 sampai 15 tahun kedepan rig analog udah bukan "makanan sehari-hari" gitaris lagi. Generasi di bawah kita, mungkin udah gak banyak yang cobain real analog amp & analog stompbox.

Dari obrolan tersebut, gue sedikit over thinking. Coba bayangin, sekitar 10 tahun lalu, waktu gue masih sekolah, efek digital sering dipandang sebelah mata.

Waktu itu stigma negatif soal efek digital masih beredar luas. Padahal ya efek digital udah mulai muncul di pasaran sejak dekade 1980an.

Sayangnya memang sampai saat itu, kualitas efek digital masih belum kayak sekarang. Pandangan remeh sendiri masih ada kalau ada yang nge-gig dan bawa efek digital.

Masih segar di ingatan gue, kalau ada yang bawa efek digital bakal ada suara kayak gini, "daripada beli efek all in one, mending beli satu-satu yang analog."

Tentu stigma kayak gitu perlahan mulai tergerus seiring berjalannya waktu. Lama-lama efek digital dengan kualitas tinggi mulai bermunculan.

Siapa sih yang enggak kenal efek digital semodelan Line6 Helix, Kemper, Fractal FM3, atau Eventide H9? Sekarang sih, udah mulai banyak yang pakai.

Menurut gue, alasan pemakaian efek digital dalam bentuk multi efek adalah kepraktisannya. Walaupun memang ada beda sama efek analog, untuk beberapa jenis efek, rasanya perbedaan enggak terlalu jauh.

Seperti kata Rama dalam wawancara kami beberapa waktu lalu, dia bilang, "pasti beda, cuma teknologi sekarang bisa bikin mendekati analog."

Selain itu, pedalboard yang biasanya besar bisa lebih ramping dengan adanya efek digital. Walau kalau dari pantauan gue, untuk efek dirt macam fuzz, distortion, atau overdrive sound yang terkesan organic belum bisa tergantikan oleh digital.

Ya soal kepraktisan ini gue rasa bukan sekadar dari yang tadinya bawa banyak pedal, sekarang cuma bawa efek digital dan sedikit pedal stompbox. Namun praktis karena ada pedal-pedal berbentuk stompbox yang di dalamnya menggunakan sirkuit dan sistem digital, sehingga memungkinan kita memilih beberapa tipe efek sejenis dan bisa menyimpannya di preset.

Memang bisa dibilang teknologi digital sangat mempermudah mobilitas, misalnya suatu saat lo mau manggung & efek digital tiba-tiba rusak, lo bisa menggunakan efek dengan tipe yang sama baru, lalu tinggal input preset efek yang sudah disimpan di PC ke efek yang baru. Alhasil, enggak perlu kulik-kulik sound dari 0 lagi.

Itu juga berlaku ya untuk efek digital yang stomp box. Gue misalnya, pernah punya TC Electronic yang Sub n' Up. Itu praktis banget, lo bisa simpan beberapa preset di smartphone.

Nah, di antara lagu, kalau lo mau ganti preset, tinggal pancarin sinyal dari smartphone ke si Sub n' Up itu. Jadi enggak perlu gonta-ganti lewat laptop gitu loh.


Dari segi efek juga enggak terkecuali ya. Kemarin pas iseng cari informasi, gue baru tahu kalau efek gitar udah ada sejak 1948. Waktu itu jenisnya tremolo dan bentuknya dicolok dari gitar ke ampli, belum jenis stomp box tapi ya.

Bahkan ternyata sampai 1960an efek berebentuk stomp box sebenernya baru mulai ramai di pasaran. Efek digital sendiri terbilang barang 'baru' karena baru muncul di dekade 1980an.

In my humble opinion, teknologi akan terus berkembang dan umumnya manusia senang akan hal yang praktis serta enggak merepotkan. Kalau sekarang bagi penggemar analog, sound yang menjadi masalah, digital enggak bisa menghadirkan sound yang organik. Siapa yang tau kalo ke depannya teknologi bisa membuat keduanya semakin sulit dibedakan sama telinga manusia?

Siapa yang sangka kaset digantikan cd, cd digantikan platform musik digital? siapa sangka koran mulai digantikan digital news? Semua produk-produk analog tersebut masih dikonsumsi sampai saat ini meski bukan lagi menjadi menu utama sehari-hari. Bagaimana menurut kalian??

(Penulis adalah jurnalis yang menggemari gitar, pedal, dan berbagai macam gear lainnya)