John Mayer dan PRS, Air Jordan-nya Dunia Gitar

by Tyo Harsono on Jun 23, 2021

John Mayer dan Fender Stratocaster hitam-nya bagai pasangan enggak terpisah. Sejak masuk ke skena mainstream lewat album Continuum, Mayer identik dengan gitar itu.

Lewat Continuum dan Try! John Mayer Trio, Mayer sukses mengukuhkan diri sebagai guitar hero awal abad ke-21.

Fender sendiri sampai menciptakan guitar signature untuk Mayer. Black1 yang diproduksi oleh Fender Custom Shop pada 2020.

Sayangnya kebersamaan Mayer dan Fender berpisah pada 2014. Menariknya pernyataan sang gitaris saat itu menyiratkan produsen gitar asal California tersebut memiliki masalah.

"Gue cinta gitar-gitar buatan Fender dan bakal terus mainin mereka. Sayangnya perusahaan itu udah enggak sama kayak dulu," tulis Mayer di akun Twitter-nya pada 2014.

Satu tahun setelah berpisah dengan Fender, Mayer enggak langsung kerja sama dengan produsen lain. Mayer sering terlihat memakai gitar Charvel.

Mulai 2015, dia mengumumkan kerja sama dengan Paul Reed Smith (PRS). Keputusan yang mengejutkan karena PRS terkenal sebagai gitar humbucker sementara Mayer lebih akrab dengan single coil.

Baru tiga tahun berselang Mayer dan PRS menghebohkan dunia gitar. Waktu itu keduanya merilis gitar signature terbaru Mayer, Silver Sky.

Banyak yang waktu itu menganggap remeh Silver Sky. Mereka menyebut itu cuma Stratocaster dengan headstock PRS.

Padahal enggak cuma itu perbedaannya. Mulai dari hal kecil, Mayer dari awal udah bilang dia enggak mau pakai warna yang identik dengan Fender kayak sunburst atau daphne blue.

Malah Mayer menjadikan mobil Tesla sebagai referensi warna Silver Sky. Selain itu dia mengikuti tren warna di perusahaan modern macam Apple, Samsung, sampai Leica.

Enggak sampai di situ, si gitaris sendiri ngaku cukup cerewet soal pickup. Menurutnya, PRS membuat pickup dengan keinginannya.

Mayer mau pickup dengan karakter Stratocaster tahun 1950an. Namun, dia enggak mau nunggu 50 sampai 100 tahun supaya gitar itu bisa bersuara kayak gitu.

Salah satu caranya adalah melemahkan magnet yang ada di dalam pickup. Jadi, Silver Sky punya suara vintage bahkan ketika masih baru.

Hal yang sama membuat Silver Sky enggak punya masalah out of phase kayak di Stratocaster pada umumnya. Terutama di poisis empat dan dua.

Lucunya dari segi neck, Mayer malah ingin seperti di Stratocaster tahun 1960an. Silver Sky punya 22 fret dan panjang scale 25,5 inchi.

Mayer dan PRS sendiri menjadikan kesuksesan Nike dan Michael Jordan saat meluncurkan Air Jordan pada 1984 sebagai acuan.

Hampir 40 tahun berlalu sejak Nike dan Jordan merilis Air Jordan. Awalnya Air Jordan cuma dianggap sebagai sepatu yang dipakai pemain basket.

Akan tetapi, akhirnya Air Jordan memiliki identitas sendiri. Itu tujuan di balik pembuatan Silver Sky, menyempurnakan gitar yang sudah ada dan membuat identitas sendiri.

Sepertinya tujuan John Mayer dan PRS menyempurnakan Stratocaster sudah berada di jalan yang tepat. Kini Silver Sky perlahan sudah menjadi entitas sendiri.

Gitaris yang awalnya meremehkan Silver Sky, mulai penasaran untuk mencobanya. Nah, apa kamu tertarik dengan Silver Sky?

Enggak mau ketinggalan nonton pertandingan EURO 2020 dan dapetin kesempatan memenangi gitar? Klik link ini!