Archive for June 2021

Ketika Behringer dan TC Electronics Menantang Dunia

by Tyo Harsono on Jun 30, 2021

Meski terkenal sebagai produsen pedal andal, Behringer kerap dianggap remeh. Semua berubah ketika mereka mengakuisisi TC Electronics.

TC Electronic sendiri berdiri sejak 1976. Saat itu, dua musisi kakak beradik, Kim dan John Rishoj, membangun perusahaan itu.

Produk pertama mereka adalah SCF (Stereo Chorus + Pitch Modulator & Flanger). Produk itu cukup laris sehingga merilis delay pada 1985.

Banyak produk mereka yang sukses di pasaran. TC Electronic terkenal sebagai produsen pedal berkualitas.

Semua berubah mulai Agustus 2015. Tak banyak yang tahu kalau sejak saat itu raksasa produsen pedal lain, Behringer mengakuisisi mereka.

Behringer sendiri berdiri sejak 1989 dengan nama Music Group. Pendiri mereka adalah Uli Behringer dan didirikan di Manila, Filipina.

Sejak berdiri, Behringer memiliki reputasi sebagai pembuat pedal kloning Boss. Mereka sering dianggap remeh karena memiliki enclosure plastik.

Meski demikian, bukan berarti Behringer enggak laku. Model bisnis mereka sedikit berbeda karena Behringer kerap memproduksi komponen langka untuk membuat pedal.

Punya uang banyak dan reputasi kurang bagus di dunia pedal, Behringer mencari cara meningkatkan penjualan. Behringer pun mengakuisisi TC Electronics.

Salah satu langkah yang Behringer lakukan untuk merebut pasar adalah dengan merilis pedal baru dengan nama TC Electronics.

Sebelumnya nama TC Electronics memang tengah hangat karena inovasi yang mereka keluarkan. Sebut saja varian Toneprint lewat Hall of Fame atau Corona.

Dalam varian terbaru, TC Electronic mengeluarkan barisan pedal analog. Beberapa di antaranya adalah Cinders (overdrive), Echobrain (delay), dan Rusty (fuzz).

Rupanya seri baru dari TC Electronics tersebut menggunakan sirkuit Behringer. Perubahan sengaja dilakukan untuk rebranding Behringer.

Behringer seolah ingin menunjukkan pedal buatan mereka sebenarnya mumpuni. Dengan perubahan enclosure, citra buruk mereka bisa hilang.

Sekitar enam tahun setelah bergabung dengan Behringer, TC Electronics masih merilis produk analog mereka. Menariknya, produk TC Electronics mendapat sambutan lebih baik ketimbang Behringer. Aneh bukan?

Enggak mau ketinggalan nonton pertandingan EURO 2020 dan dapetin kesempatan memenangi gitar? Klik banner di bawah ini!


Eric Clapton, Blackie, dan Pengaruh Besar Jimi Hendrix

by Tyo Harsono on Jun 28, 2021

Semasa masih berkarier di Cream, Eric Clapton identik dengan Gibson Les Paul. Namun, semua berubah sejak memasuki dekade 1970an.

Pengaruh Jimi Hendrix dan Steve Winwood membuat Clapton 'murtad'. Dia tanggalkan humbucker dan single cut dan menukarnya untuk Fender Stratocaster.

Double cutaway yang dimiliki oleh Stratocaster serta pickup single coil pun menjadi identitas baru Clapton di dekade 1970an.

Stratocaster pertama Clapton diberi nama Brownie. Nama itu muncul karena warna cokelat dari sunburst yang melekat dalam tubuh gitar itu.

Merasa ketagihan, pada tahun itu, Clapton membeli enam Stratocaster produksi tahun 1950an. Dari enam gitar, tiga di antaranya dia berikan untuk teman-temannya.

Satu gitar dia berikan untuk Winwood. Sementara dua lainnya menjadi milik George Harrison dan Pete Townshend.

Dari sisa tiga gitar, Clapton memilih bagian terbaik dari masing-masing Stratocaster. Kemudian gitaris asal Inggris tersebut membawanya ke seorang luthier.

Dari situ lah gitar yang dia beri nama Blackie lahir hasil perkawinan tiga Stratocaster produksi 1956 dan 1957. Nama itu diambil dari warna hitam gitar tersebut.

Sejak 1973, Blackie menjadi gitar nomor satu Clapton. Sayangnya Clapton tidak lagi memakai gitar itu sejak 1985 karena usia gitar yang semakin menua.

Menariknya, Fender sudah membuat replika Blackie sejak 1983. Namun, saat itu mereka hanya memberikannya untuk Clapton sebagai gitar cadangan.

Baru sejak 1985, ketika memensiunkan Blackie, gitar signature Clapton baru lahir. Dengan teknologi saat itu, mereka mengkreasi ulang Blackie lama.

Saat itu pembuatan Blackie ditangani langsung oleh beberapa master builder Fender. Termasuk di antaranya Dan Smith serta John Page.

Meski sudah menjalin kesepakatan sejak 1985, baru dua tahun berselang kontrak antara Clapton dan Fender terjalin.

Sejak saat itu beberapa kali varian Blackie keluar sebagai signature Clapton. Mulai dari seri signature reguler Fender sampai custom shop.

Perbedaan utama Blackie dengan Stratocaster lain adalah penggunaan sepotong kayu maple untuk neck nya. Selain itu bentuk neck adalah V (yang jarang dipakai di gitar modern).

Menariknya, dua di antara tiga pickup Blackie punya spesifikasi Stratocaster 1950an. Sementara satu lainnya spesifikasi 1970an.

Perbedaan lain adalah penggunaan lima per di bagian belakang gitar. Padahal biasanya Stratocaster hanya memakai tiga per.

Enggak mau ketinggalan nonton pertandingan EURO 2020 dan dapetin kesempatan memenangi gitar? Klik banner di bawah ini!



Timnas Inggris dan Kutukan Paten Mick Jagger

by Tyo Harsono on Jun 25, 2021

"You can't always get what you want. But if you try, sometimes you'll get what you need," - The Rolling Stones.

Mick Jagger adalah musisi rock papan atas di Inggris. Namun, kehadirannya tidak diharapkan oleh pendukung timnas Inggris pada ajang-ajang besar.

Bukan tanpa alasan, Jagger di dunia sepak bola identik dengan kutukannya. Tim yang dia dukung sering menelan kekalahan.

Contoh terbarunya di Piala Dunia 2018 silam. Saat itu, pentolan The Rolling Stones tersebut 'membuat' timnas Inggris kalah dari Kroasia di semifinal.

Semua bermula dari Piala Dunia 2010. Saat itu, Jagger mendukung tiga tim, Inggris, Brasil, dan Amerika Serikat. Ketiganya tumbang begitu saja.

Paling terkenal adalah di Piala Dunia 2014. Saat itu, Jagger dua kali memberikan dukungan untuk The Three Lions yang berujung kekalahan.

Prediksi Jagger adalah Italia dan Inggris bakal mengalahkan Uruguay. Nyatanya kedua tim gagal mengatasi La Celeste.

Selain itu dia sempat mendukung Brasil saat melawan Jerman. Hasilnya? Neymar dan kawan-kawan kalah 1-7 dari Der Panzer.

Lucunya, di media sosial Jagger seolah mengakui kutukan tersebut. Menurutnya, dia mungkin bertanggung jawab atas gol pertama Jerman, tetapi tidak enam lainnya.

"Kalian boleh menyalahkan saya atas gol pertama Jerman, saya bertanggung jawab. Tetapi tidak dengan enam gol lainnya," tulis Jagger ketika itu.

Setelah kejadian itu, orang-orang di Jerman punya julukan baru untuknya, Pe Frio (arti harafiahnya si kaki dingin, tetapi di Brasil diberikan untuk orang-orang yang membawa nasib buruk).

Menariknya, Jagger membuat lagu yang seolah membenarkan kutukan itu. Dalam single-nya, dia menulis lagu berjudul England Lost.

Di tengah pandemi Covid-19, nampaknya Mick Jagger enggak bisa hadir di EURO 2020. Patut dinanti, bisakah Inggris juara tanpa kehadiran Jagger?

Enggak mau ketinggalan lihat perjuangan timnas Inggris berusaha memutus kutukan Mick Jagger di EURO 2020 dan punya kesempatan menangin gitar? Klik link ini!


Germanium atau Silicon Fuzz, Mana yang Paling Cocok untuk Kamu?

by Tyo Harsono on Jun 23, 2021

Buat gitaris atau bassist, perdebatan soal fuzz sering menghiasi perbincangan. Terutama soal germanium atau silicon fuzz, mana yang paling kece?

Pencinta germanium berani bilang cuma bahan itu yang harus menjadi bahan pembuatan fuzz. Sementara lainnya lebih suka silicon. Tetapi ada juga yang suka keduanya.

Pertanyaannya, apa sih sebenernya yang membedakan kedua jenis transistor itu? Sebelum masuk ke fuzz, mari kita bahas dulu soal transistornya.

Banyak yang bilang transistor adalah salah satu penemuan paling penting pada abat ke-20. Banyak barang modern seperti ponsel atau komputer yang memakai bahan itu.

Transistor punya dioda yang terbuat dari silikon atau germanium. Nah, walau sama-sama terbuat dari bahan yang mirip ada bedanya loh.

Mengenal perbedaan germanium dan Silicon

Germanium

Germanium adalah bahan pertama yang digunakan untuk membuat transistor. Awalnya bahan itu banyak dipakai untuk radio sebelum pedal pada dekade 1960an.

Pedal fuzz ternama yang pakai germanium adalah Tone Bender. Bahan itu membuat karakter lebih smooth, warm seperti dari ampli tabung.

Sayangnya germanium punya beberapa masalah. Salah satunya adalah bahan itu sudah langka saat ini. Jadi kalau kamu mau beli pedal fuzz dengan bahan itu, susah mencarinya sekarang.

Selain itu, setiap transistor dengan germanium bisa menghasilkan suara yang berbeda di tiap pedal

Parahnya setiap transistor bisa menghasilkan karakter suara yang berbeda. Selain itu karena mereka punya voltase yang berubah sehingga mengubah tone.

Pedal dengan germanium juga sensitif terhadap temperatur. Kabarnya, pada masa lalu banyak gitaris yang menaruh pedalnya dalam mesin pendingin sebelum rekaman.

Silicon

Sementara itu, silicon adalah pengembangan dari germanium. Mereka dibuat untuk mencari konsistensi dan lebih baik dari berbagai sisi.

Contoh pedal fuzz yang memakai silicon transistor adalah Big Muff Pi. Secara tone, pedal dengan silicon lebih punya karakter suara treble.

Nah mari masuk ke perbedaan keduanya. Pedal yang memakai germanium agak sedikit terdengar kayak overdrive bawaan ampli.

Sementara itu peda dengan silicon mayoritas mengedepankan treble. Perbedaan lain adalah germanium lebih responsif terhadap perubahan volume dan tone dari gitar.

Germanium punya suara yang lebih tebal, gain lebih kecil, dan enggak konsisten. Silicon lebih bright, punya gain lebih tinggi dan cukup konsisten.

Selain itu transistor silicon juga enggak sensitif terhadap temperatur udara. Silicon juga enggak masalah dengan voltase yang terkadang lebih tinggi.

Faktor lain, silicon lebih murah ketimbang germanium. Jadi dengan harga lebih murah, produsen fuzz bisa mendapat keuntungan dan kestabilan lebih besar.

Konklusi

Sebenarnya, transistor hanya satu bagian dari pedal fuzz. Jadi, banyak faktor lain yang sebetulnya memengaruhi karakter si pedal.

Mungkin purist enggak setuju, tapi banyak faktor eksternal maupun internal yang bisa pengaruhi karakter suara sebuah fuzz.

Misalnya dari jenis kayu di gitar, ampli, atau speaker. Bisa saja kamu suka suara germanium di single coil, tetapi enggak suka di humbucker. Atau sebaliknya.

Germanium punya suara yang lebih tebal, gain lebih kecil, dan enggak konsisten. Suaranya sedikit mirip distorsi dari ampli tabung. Silicon lebih bright, punya gain lebih tinggi dan cukup konsisten.

Sebetulnya enggak ada salahnya pakai dua fuzz. Toh lewat fuzz dengan germanium bisa dapat karakter sound 1960an sedangkan fuzz yang punya silicon bisa dapat karakter sound 1970 sampai 1990an.

Nah, menurutmu, mana fuzz yang lebih oke dan cocok untuk kebutuhanmu?

Oya, untuk referensi perbandingan soundnya bisa cek dari video yang kita ambil dari youtube, klik disini

Enggak mau ketinggalan nonton pertandingan EURO 2020 dan dapetin kesempatan memenangi gitar? Klik link ini!


John Mayer dan PRS, Air Jordan-nya Dunia Gitar

by Tyo Harsono on Jun 23, 2021

John Mayer dan Fender Stratocaster hitam-nya bagai pasangan enggak terpisah. Sejak masuk ke skena mainstream lewat album Continuum, Mayer identik dengan gitar itu.

Lewat Continuum dan Try! John Mayer Trio, Mayer sukses mengukuhkan diri sebagai guitar hero awal abad ke-21.

Fender sendiri sampai menciptakan guitar signature untuk Mayer. Black1 yang diproduksi oleh Fender Custom Shop pada 2020.

Sayangnya kebersamaan Mayer dan Fender berpisah pada 2014. Menariknya pernyataan sang gitaris saat itu menyiratkan produsen gitar asal California tersebut memiliki masalah.

"Gue cinta gitar-gitar buatan Fender dan bakal terus mainin mereka. Sayangnya perusahaan itu udah enggak sama kayak dulu," tulis Mayer di akun Twitter-nya pada 2014.

Satu tahun setelah berpisah dengan Fender, Mayer enggak langsung kerja sama dengan produsen lain. Mayer sering terlihat memakai gitar Charvel.

Mulai 2015, dia mengumumkan kerja sama dengan Paul Reed Smith (PRS). Keputusan yang mengejutkan karena PRS terkenal sebagai gitar humbucker sementara Mayer lebih akrab dengan single coil.

Baru tiga tahun berselang Mayer dan PRS menghebohkan dunia gitar. Waktu itu keduanya merilis gitar signature terbaru Mayer, Silver Sky.

Banyak yang waktu itu menganggap remeh Silver Sky. Mereka menyebut itu cuma Stratocaster dengan headstock PRS.

Padahal enggak cuma itu perbedaannya. Mulai dari hal kecil, Mayer dari awal udah bilang dia enggak mau pakai warna yang identik dengan Fender kayak sunburst atau daphne blue.

Malah Mayer menjadikan mobil Tesla sebagai referensi warna Silver Sky. Selain itu dia mengikuti tren warna di perusahaan modern macam Apple, Samsung, sampai Leica.

Enggak sampai di situ, si gitaris sendiri ngaku cukup cerewet soal pickup. Menurutnya, PRS membuat pickup dengan keinginannya.

Mayer mau pickup dengan karakter Stratocaster tahun 1950an. Namun, dia enggak mau nunggu 50 sampai 100 tahun supaya gitar itu bisa bersuara kayak gitu.

Salah satu caranya adalah melemahkan magnet yang ada di dalam pickup. Jadi, Silver Sky punya suara vintage bahkan ketika masih baru.

Hal yang sama membuat Silver Sky enggak punya masalah out of phase kayak di Stratocaster pada umumnya. Terutama di poisis empat dan dua.

Lucunya dari segi neck, Mayer malah ingin seperti di Stratocaster tahun 1960an. Silver Sky punya 22 fret dan panjang scale 25,5 inchi.

Mayer dan PRS sendiri menjadikan kesuksesan Nike dan Michael Jordan saat meluncurkan Air Jordan pada 1984 sebagai acuan.

Hampir 40 tahun berlalu sejak Nike dan Jordan merilis Air Jordan. Awalnya Air Jordan cuma dianggap sebagai sepatu yang dipakai pemain basket.

Akan tetapi, akhirnya Air Jordan memiliki identitas sendiri. Itu tujuan di balik pembuatan Silver Sky, menyempurnakan gitar yang sudah ada dan membuat identitas sendiri.

Sepertinya tujuan John Mayer dan PRS menyempurnakan Stratocaster sudah berada di jalan yang tepat. Kini Silver Sky perlahan sudah menjadi entitas sendiri.

Gitaris yang awalnya meremehkan Silver Sky, mulai penasaran untuk mencobanya. Nah, apa kamu tertarik dengan Silver Sky?

Enggak mau ketinggalan nonton pertandingan EURO 2020 dan dapetin kesempatan memenangi gitar? Klik link ini!