Wawancara Eksklusif Rama dMasiv: Keracunan Efek Digital dan Cita-cita Jadi Produser

by Tyo Harsono on May 29, 2021

Nama adalah doa, demikian kepercayaan orang tua zaman dulu. Rasanya kepercayaan itu berlaku bagi d'Masiv, arti nama yang bagus itu bagai menjadi doa bagi kesuksesan mereka.

Ketika membentuk band pada 3 Maret 2003, bisa jadi itu keyakinan para personel d'Masiv. Namanya diambil dari kata dalam Bahasa Inggris, massive, yang memiliki arti kuat, kukuh, besar, raksasa.

Hampir dua dekade setelah berdiri, nama dan doa para personelnya bisa dibilang terbayar. Usaha memang tidak mengkhianati hasil, kerja keras d'Masiv terbayar lunas.

Kini d'Masiv merupakan satu di antara band-band papan atas Indonesia. Band yang digawangi Rian Ekky Pradipta (vokal), Dwiki Aditya Marsall (gitar), Rayyi Kurniawan Iskandar Dinata (bass), Nurul Damar Ramadan (gitar), dan Wahyu Piadji (drum) itu benar-benar menjadi massive.

Perjalanan d'Masiv sendiri enggak bisa dibilang gampang. Mereka benar-benar bekerja keras untuk meraih kesuksesan saat ini.

Para personelnya sendiri terkenal memiliki skill yang mumpuni. Pada awal kariernya, mereka terkenal sering memenangi berbagai kompetisi dengan meng-cover lagu pop menjadi progresif.

Empat tahun setelah dibentuk, langkah awal menggapai puncak karier d'Masiv mulai terlihat. Mengikuti kompetisi musik ternama buatan produk rokok, mereka keluar sebagai pemenang.

Satu tahun setelah memenangi kompetisi tersebut, album perdana d'Masiv yang bertajuk 'Perubahan' pun rilis. Dengan single 'Cinta Ini Membunuhku', band asal Jakarta ini mulai menancapkan kuku di industri musik tanah air.

Kebetulan, Smosyu Music mendapat kesempatan mewawancarai salah satu personel d'Masiv. Tepatnya gitaris mereka, Nurul Damar Ramadan, atau yang akrab dengan sapaan Rama d'Masiv.

Dengan ramah, Rama menjawab satu per satu pertanyaan kami. Tentu saja paling banyak obrolan membahas seputaran gear dong.

Mau tahu seperti apa obrolan kami dengan Rama d'Masiv? Simak wawancara eksklusif Smosyu Music dengan Rama d'Masiv di bawah ini!

Halo Rama, boleh tahu setup apa yang sekarang lagi sering dipakai?

Gue lagi sering pakai setup ini nih (kasi liat foto efek di WhatsApp). Gue sekarang sering main direct dan stereo.

Dari gitar ke wah, lalu tuner, ke BB PreAmp, Rocket Pedal Drive, kemudian EP Booster. Setelah itu ke Line6 HX Stomp, terus ke mixer. Preamp sama Cabsim gue pakai dari HX Stomp. Output LR dari Line6 HX Stomp langsung direct mixer.

Model PreAmp dan cab yang paling sering dipakai di HX?

Model preamp yang sering gue pakai itu Soldano dan Matchless, cab Marshall. 4x12 dan 2x12, kadang-kadang tergantung lagu. Setiap lagu bisa beda set preamp dan cabsim .

Kalau gitar lo pakai apa aja?

Gitar-nya pakai Suhr Classic Pro dan Gibson ES-335.

Kalau akustiknya pakai apa?

Akustik gue pakai Martin OMJM masuk ke ampli akustik Fishman Loudbox 100 di panggung amplinya taruh depan menghadap ke gue sekalian buat monitor, line out dari Fishman langsung ke mixer.

Ok, kita balik ke setup elektrik. Modulasi, delay, dll lo ambil dari mana?

Modulasi delay, reverb, amp cab, semua dari HX Stomp. Pedal drive dan booster dari yang dari stompbox.

Simple banget ya sekarang, kayaknya dulu efek lo lumayan ribet?

Iya itu beda lagi. Sekarang kalau tour ngapain ribet-ribet ya, teknologi sudah canggih banget. Mas Denchas yang racunin gue pakai setup kayak gini haha.

Nah, ini setup gue yg dulu. Kalau pakai switcher kayak gini kudu buat kayak manual book, biar crew gampang ngurutinnya kalau tiba-tiba ada trouble.  Oya, gue masih  ada rack system Bradshaw kayak Kang Baron sama Mas Budjana.

Haha kayaknya bisa jadi barang purbakala nan berharga bentar lagi tuh ya. Oya, setup lo yang dulu kan analog semua. Menurut lo gimana perbedaannya sama setup yang sekarang?

Pasti beda. Cuma teknologi sekarang bisa bikin sound nya mendekati analog menurut gue. Alat hanya media saja, semua alat balik ke kuping dan tangan. Mau pakai alat apa pun, pasti di tune lagi sesuai sound keinginan kita.

Gue suka Marshall, tapi kuping gue enggak terlalu cocok. Makanya gue pakai Soldano dan Matchless, selera.

Btw kelebihan dari digital efek sangat membantu mobilitas kita. Misal nih saat tour, kita punya Helix dua, terus yang satu rusak. Habis itu preset yang sudah ada di laptop tinggal copy ke Helix yang satu, main lagi deh.

Ngomong-ngomong, sekarang lo arahnya ke produser ya?

Iya, cita-cita gue dari dulu, jadi arranger dan produser. Mau juga bikin solo instrument, tetapi belum jalan. Ini malah membantu orang lain dulu. Alhamdulillah, dapat penghasilan lain pas pandemi. Ternyata banyak orang yang mau bikin lagu atau musik, tapi bingung caranya.

Jadi selain d'Masiv, gue juga banyak proyek musik di luar d'Masiv (producing dan arranging). Kadang ada juga yang meminta lagu sekalian musik. Kadang lagunya doang atau musiknya doang. Scoring bisa team sama d'Masiv. Gue paling sering buat band atau solis sih.

Kebanyakan artis atau Youtuber atau orang awam juga?

Semuany! Hehe, nanti gue rencana mau share semua project gue, bikin konten di Instagram.

Bikinin video juga, sepaket? Biasanya kan mereka mau posting di Youtube juga klipnya

Iya bisa saja. Sekarang gue lagi buat musik untuk Fatin dan film. Dangdut juga gue ambil hahaha.

Oke deh Rama, terima kasih ya sudah mau bagi-bagi ilmu

Aman, sama-sama. Thanks ya.