Short Scale Bass: Keuntungan, Sejarah, dan Semua yang Kamu Perlu Tahu

by Tyo Harsono on May 24, 2021

Akhir-akhir ini, sering terlihat bass dengan ukuran yang lebih pendek dari biasa. Sebut saja posting-an Kevin Parker di media sosialnya, atau saat Mike Kerr beraksi di atas panggung.

Short scale bass, demikian nama dari bass dengan tipe seperti itu. Sebenarnya short scale bass bukan barang baru, tetapi memang baru bangkit akhir-akhir ini.

Seperti kita semua ketahui, ketika merilis Precision Bass pada 1951, Fender bagai menetapkan standar untuk ukuran bass. Dari ujung nuts ke bridge, 34" (86,36 cm).

Dua tahun berselang, Gibson yang sudah lebih senior di industri musik tidak mau kalah. Mereka juga merilis bass buatan mereka.

Kala itu Gibson mengeluarkan bass yang berbeda jauh dari Fender. Tak mau ikut pakem pesaingnya, mereka membuat bass yang memiliki ujung nuts ke bridge 30" (76,2 cm).

Hasilnya, ketika itu muncul istilah long scale (34") dan short scale (30") bass. Kedua ukuran tersebut pun menjadi tolok ukur untuk pembuatan bass.

Sayangnya bass short scale awalnya sempat dianggap remeh. Banyak yang menilai bass ukuran itu untuk anak-anak atau pemula.

Barulah pada pertengahan dekade 1960 popularitas bass short scale mulai meroket. Beberapa pembetot bass dari era tersebut menggunakan bass short scale.

Sebut saja Paul McCartney (The Beatles) dengan Hofner 500/1. Atau Jack Bruce (Cream) dengan Gibson EB serta Bill Wyman-nya The Rolling Stones.

Sayangnya memasuki dekade baru, popularitas short scale tenggelam. Bahkan Gibson sendiri lebih fokus dengan bass ukuran Fender macam Thunderbird, Grabber, atau G3.

Sampai akhirnya pada pertengahan dekade 2010an, entah mengapa popularitas bass short scale mulai meledak. Beberapa produk short scale dengan harga terjangkau bermunculan.

Gibson mengeluarkan SG Bass yang diikuti dengan reproduksi EB-0 dan EB-3 lewat nama Epiphone. Fender bersama Squier mengeluarkan Mustang dan Jaguar short scale.

Terdapat beberapa alasan popularitas bass short scale meningkat. Satu di antaranya, dengan ukuran neck yang lebih kecil, jarak antara fret pun menipis.

Apalagi untuk orang-orang yang memulai proyek seorang diri dan bermain gitar serta bass sekaligus. Tengok saja Kevin Parker (Tame Impala).

Hasilnya, penggunaan bass short scale mempermudah. Selain itu, untuk pemain bass bertangan kecil, menggunakan short scale juga lebih nyaman.

Alasan lain menggunakan bass short scale adalah timbre yang unik. Dengan ukuran panjang senar yang berubah, karakter suara ikut berubah.

Hal tersebut membuat terdapat beberapa suara yang memang sulit didapat lewat bass normal. Terkadang hasilnya adalah teknik yang sulit dilakukan di bass biasa.

Dengan ukuran lebih kecil, tensi di neck pun berkurang. Kondisi itu menghasilan suara yang lebih gelap dan fokus ke nada-nada rendah.

Nah, itu keuntungan menggunakan bass short scale. Bagaimana, kamu tertarik mencoba, atau malah sudah punya?