Flying V: Eksperimen Gibson yang Melampaui Waktu

by Tyo Harsono on May 17, 2021

Pikiran Seth Lover melanglang buana di ruangannya di kantor pusat Gibson. Tangannya mencoret-coret desain yang nantinya akan dikenal sebagai Flying V.

Dekade 1950an mulai memasuki akhir. Dunia, khususnya Amerika Serikat terobsesi dengan mobil-mobil yang memiliki bentuk futuristik.

Mulai dari Ford Thunderbird, Chrysler Plymouth Fury, sampai Cadillac Coupe deVille. Hal tersebut membuat industri lain mulai meniru desain futuristik.

Tidak terkecuali di industri gitar. Tiga produsen gitar yang tengah naik daun pada 1950an, Gibson, Fender, dan Gretsch berlomba-lomba menciptakan 'gitar masa depan.'

Gretsch yang memenangi perlombaan tersebut. Ketika Gibson masih sibuk dengan Les Paul dan Fender mengandalkan Stratocaster dan Telecaster, Gretsch muncul dengan gebrakan.

Pada 1955, Gretsch merilis White Falcon. Saat itu mereka terinspirasi dengan mobil-mobil futuristik saat merilis White Falcon. Sempat diragukan, ternyata gitar itu cukup sukses.

Jelas saja Fender dan Gibson kebakaran jenggot. Seth Lover memutar otak mencari gitar yang bisa menyaingi White Falcon.

Gitar idaman Seth adalah yang tidak menghilangkan khas Gibson, tetapi dengan rasa futuristik yang tiada dua. Dari sini muncul tiga desain yang melewati zaman.

Satu di antaranya adalah Flying V. Bentuk seperti huruf V terbalik mengingatkan seperti bagian belakang mobil-mobil futuristik.

Seth langsung menginstruksikan Gibson untuk memproduksi FV. Tepatnya pada November 1957, Gibson sudah menyiapkan promosi untuk gitar futuristiknya.

Empat bulan berselang, akhirnya FV muncul di katalog Gibson. Saat itu, harganya sekitar 250 dolar (saat ini sekitar 2000 dolar atau kurang lebih Rp 28 juta).

Saat pertama dibuat, FV menggunakan kayu Korina. Kayu tersebut berasal dari wilayah Afrika Barat dan sering mendapat komparasi dengan mahogany.

Sayang, pada tahun pertamanya hanya 81 FV yang terjual. Jumlah tersebut berbanding terbalik dengan Les Paul Junior yang terjual 2408 buah.

Tahun berikutnya lebih parah. Hanya 17 V yang terjual. Rupanya dunia belum siap dengan desain futuristik seperti FV.

Akhirnya, pada 1959, Gibson memutuskan menghentikan produksi gitar tersebut. Sempat bangkit pada 1962 dan 1963, V mati suri kembali.

Empat tahun berselang, Gibson memutuskan untuk kembali memproduksi V. Setelah itu, rasanya gitaris mulai bisa menerima konsep futuristik V.

Sejak saat itu berbagai varian dari Flying V mulai bermunculan. Sebut saja produksi Epiphone atau versi bass dari gitar tersebut.