Archive for May 2021

Gitaris Band Britpop dan Gitar-gitar Andalannya

by Tyo Harsono on May 31, 2021

Setelah era musik British Invansion pada 1960an, musisi-musisi asal Inggris Raya kembali merajai dunia 30 tahun berselang. Kali ini lewat Britpop dan band-band macam Blur, Oasis, Radiohead, dan lain-lain.

Pada awal 1990an, gerakan Grunge dari Amerika Serikat menjamuri dunia. Band-band yang terkenal dengan julukan Seattle Sound itu mengakhiri dominasi Hair Metal di industri musik.

Ciri khas mereka adalah musik yang keras tetapi memiliki lirik gelap serta depresif. Band-band seperti Nirvana, Pearl Jam, dan Soundgarden merupakan 'bapak'-nya Seattle Sound.

Seolah tidak mau kalah, musisi Britania Raya juga memiliki gerakan sendiri. Walau sama-sama mengusung rock alternatif, tetapi terdapat perbedaan signifikan.

Kalau Seattle Sound punya warna yang gelap, Britpop lebih terang. Apabila Seattle Sound cenderung depresif, Britpop lebih optimistis.

Regerensi musik Britpop berawal dari skena Madchester yang digawangi oleh the Stone Roses dan Inspiral Carpets.

Pada era ini, banyak gitaris-gitaris top muda bermunculan. Mereka menjadi ujung tombak dari band masing-masing.

Bicara soal Britpop dan gitaris, rasanya enggak afdol kalau enggak bicara soal gear yang mereka pakai. Jagoan dari masing-masing band punya gitaris andalan masing-masing.

Siapa saja gitaris berpengaruh di era Britpop? Apa saja gear yang mereka pakai? Simak pembahasan berikut ini!

Graham Coxon

Mari bicara soal Blur lebih dulu. Graham Coxon terkenal sering memakai Fender Telecaster. Tetapi yang paling melekat dari Coxon adalah Telecaster Deluxe.

Bahkan, Fender sempat merilis signature Coxon. Gitar Telecaster signature-nya punya humbucker di neck (seperti Deluxe) dan single coil di bridge (seperti Telecaster pada umumnya).

Meski demikian, bukan berarti Coxon anti dengan gitar lain. Beberapa kali dia terlihat menggunakan produk Gibson seperti Les Paul atau ES-335.

Kalau pedalboard Coxon cukup banyak. Namun, untuk ampli, pria yang lahir di Jerman Barat itu mempercayakan kepada sepasang Marshall 1959 SLP ke 4x12 cabinet keluaran 1968.

Noel Gallagher

Beralih ke kubu Oasis, rival Blur. Pada awal kariernya, Noel sering memakai gitar-gitar Epiphone. Sebut saja seri Les Paul, Riviera, dan Sheraton.

Epiphone sempat membuatkannya gitar signature dengan nama Supernova (diambil dari lagu Champagne Supernova). Gitar itu sendiri berasal dari Sheraton.

Selanjutnya Noel sempat beberapa kali upgrade dari Epiphone ke Gibson. Dia menggunakan Gibson ES-335 lalu Gibson Firebird.

Ciri khas utama Noel adalah menggunakan gitar hollow body. Entah itu keluaran Gibson maupun Epiphone. Namun, akhir-akhir ini dia memakai Nash Jazzmasters.

Nick McCabe

Bicara Britpop, salah satu band paling berpengaruh adalah The Verve. Band asal Wigan ini terkenal berkat lagu andalan mereka, Bittersweet Symphony.

Di posisi gitaris, The Verve mengandalkan Nick McCabe. Uniknya, McCabe menggunakan Marshall solid state bass amp untuk amplifier-nya yang disambungkan ke Mesa/Boogie Mark III Combo dan Roland JC120.

Dari segi efek, McCabe enggak terlalu ribet. Andalannya Roland RE-201, Boss OD-1, Ibanez FL9, Roland GP-8, DigiTech Whammy, dan Boss CS-3.

Gitar andalan McCabe adalah Gibson Les Paul. Namun terkadang di atas panggung dia memakai gitar 12 senar atau gitar akustik Ovation.

Jonny Greenwood

Selain Coxon, ada satu lagi sosok gemar menggunakan Fender Telecaster. Siapa lagi kalau bukan gitaris Radiohead, Jonny Greenwood.

Kakak Collin Greenwood (bassist Radiohead) itu memakai Fender Telecaster Plus. Dia melakukan modifikasi dengan mengganti pickup menjadi Lace Sensor.

Gaya bermainnya yang agresif membuat Greenwood butuh efek dirt. Kebutuhannya terpenuhi lewat Marshall ShredMaster serta pitch-shifter DigiTech Whammy.

Mengenai amplifier, Greenwood punya beberapa pilihan. Pada awal kariernya dia memakai Fender Deluxe 85 sebelum beralih ke Fender Bassman dan Fender Twin Reverb Silverface.

John Squire

Nama John Squire mungkin lebih terkenal sebagai gitaris the Stone Roses. Namun, setelah keluar dari band itu dia mengeluarkan band baru bernama The Seahorses.

Apabila pada era Stone Roses Squire akrab dengan Gibson Les Paul Goldtop, perubahan terjadi saat dia menggawangi The Seahorses. Gibson Gibson Les Paul Black Beauty lebih akrab dengannya.

Uniknya, ternyata Gibson Les Paul Goldtop yang dia pakai di Stone Roses rupanya milik band. Jadi, saat keluar, Squire tidak membawanya.

Selain itu gitar tersebut sekarang berada di gitaris top lain. Mantan gitaris Bon Jovi, Ritchie Sambora, diketahui menjadi pemilik eks gitar Squire itu.

Starter Pack untuk Jadi Gitaris Era Britpop
Setelah era musik British Invansion pada 1960an, musisi-musisi asal Inggris Raya kembali merajai dunia 30 tahun berselang. Kali ini lewat Britpop dan band-band macam Blur, Oasis, Radiohead, dan lain-lain.
Pada awal 1990an, gerakan Grunge dari Amerika Serikat menjamuri dunia. Band-band yang terkenal dengan julukan Seattle Sound itu mengakhiri dominasi Hair Metal di industri musik.
Ciri khas mereka adalah musik yang keras tetapi memiliki lirik gelap serta depresif. Band-band seperti Nirvana, Pearl Jam, dan Soundgarden merupakan 'bapak'-nya Seattle Sound.
Seolah tidak mau kalah, musisi Britania Raya juga memiliki gerakan sendiri. Walau sama-sama mengusung rock alternatif, tetapi terdapat perbedaan signifikan.
Kalau Seattle Sound punya warna yang gelap, Britpop lebih terang. Apabila Seattle Sound cenderung depresif, Britpop lebih optimistis.
Regerensi musik Britpop berawal dari skena Madchester yang digawangi oleh the Stone Roses dan Inspiral Carpets.
Pada era ini, banyak gitaris-gitaris top muda bermunculan. Mereka menjadi ujung tombak dari band masing-masing.
Bicara soal Britpop dan gitaris, rasanya enggak afdol kalau enggak bicara soal gear yang mereka pakai. Jagoan dari masing-masing band punya gitaris andalan masing-masing.
Siapa saja gitaris berpengaruh di era Britpop? Apa saja gear yang mereka pakai? Simak pembahasan berikut ini!
Graham Coxon
Mari bicara soal Blur lebih dulu. Graham Coxon terkenal sering memakai Fender Telecaster. Tetapi yang paling melekat dari Coxon adalah Telecaster Deluxe.
Bahkan, Fender sempat merilis signature Coxon. Gitar Telecaster signature-nya punya humbucker di neck (seperti Deluxe) dan single coil di bridge (seperti Telecaster pada umumnya).
Kalau pedalboard Coxon cukup banyak. Namun, untuk ampli, pria yang lahir di Jerman Barat itu mempercayakan kepada sepasang Marshall 1959 SLP ke 4x12 cabinet keluaran 1968.
Noel Gallagher
Beralih ke kubu Oasis, rival Blur. Pada awal kariernya, Noel sering memakai gitar-gitar Epiphone. Sebut saja seri Les Paul, Riviera, dan Sheraton.
Epiphone sempat membuatkannya gitar signature dengan nama Supernova (diambil dari lagu Champagne Supernova). Gitar itu sendiri berasal dari Sheraton.
Selanjutnya Noel sempat beberapa kali upgrade dari Epiphone ke Gibson. Dia menggunakan Gibson ES-335 lalu Gibson Firebird.
Ciri khas utama Noel adalah menggunakan gitar hollow body. Entah itu keluaran Gibson maupun Epiphone. Namun, akhir-akhir ini dia memakai Nash Jazzmasters.
Nick McCabe
Bicara Britpop, salah satu band paling berpengaruh adalah The Verve. Band asal Wigan ini terkenal berkat lagu andalan mereka, Bittersweet Symphony.
Di posisi gitaris, The Verve mengandalkan Nick McCabe. Uniknya, McCabe menggunakan Marshall solid state bass amp untuk amplifier-nya yang disambungkan ke Mesa/Boogie Mark III Combo dan Roland JC120.
Dari segi efek, McCabe enggak terlalu ribet. Andalannya Roland RE-201, Boss OD-1, Ibanez FL9, Roland GP-8, DigiTech Whammy, dan Boss CS-3.
Gitar andalan McCabe adalah Gibson Les Paul. Namun terkadang di atas panggung dia memakai gitar 12 senar atau gitar akustik Ovation.
Jonny Greenwood
Selain Coxon, ada satu lagi sosok gemar menggunakan Fender Telecaster. Siapa lagi kalau bukan gitaris Radiohead, Jonny Greenwood.
Kakak Collin Greenwood (bassist Radiohead) itu memakai Fender Telecaster Plus. Dia melakukan modifikasi dengan mengganti pickup menjadi Lace Sensor.
Gaya bermainnya yang agresif membuat Greenwood butuh efek dirt. Kebutuhannya terpenuhi lewat Marshall ShredMaster serta pitch-shifter DigiTech Whammy.
Mengenai amplifier, Greenwood punya beberapa pilihan. Pada awal kariernya dia memakai Fender Deluxe 85 sebelum beralih ke Fender Bassman dan Fender Twin Reverb Silverface.
John Squire
Nama John Squire mungkin lebih terkenal sebagai gitaris the Stone Roses. Namun, setelah keluar dari band itu dia mengeluarkan band baru bernama The Seahorses.
Apabila pada era Stone Roses Squire akrab dengan Gibson Les Paul Goldtop, perubahan terjadi saat dia menggawangi The Seahorses. Gibson Gibson Les Paul Black Beauty lebih akrab dengannya.
Uniknya, ternyata Gibson Les Paul Goldtop yang dia pakai di Stone Roses rupanya milik band. Jadi, saat keluar, Squire tidak membawanya.
Selain itu gitar tersebut sekarang berada di gitaris top lain. Mantan gitaris Bon Jovi, Ritchie Sambora, diketahui menjadi pemilik eks gitar Squire itu.


Wawancara Eksklusif Rama dMasiv: Keracunan Efek Digital dan Cita-cita Jadi Produser

by Tyo Harsono on May 29, 2021

Nama adalah doa, demikian kepercayaan orang tua zaman dulu. Rasanya kepercayaan itu berlaku bagi d'Masiv, arti nama yang bagus itu bagai menjadi doa bagi kesuksesan mereka.

Ketika membentuk band pada 3 Maret 2003, bisa jadi itu keyakinan para personel d'Masiv. Namanya diambil dari kata dalam Bahasa Inggris, massive, yang memiliki arti kuat, kukuh, besar, raksasa.

Hampir dua dekade setelah berdiri, nama dan doa para personelnya bisa dibilang terbayar. Usaha memang tidak mengkhianati hasil, kerja keras d'Masiv terbayar lunas.

Kini d'Masiv merupakan satu di antara band-band papan atas Indonesia. Band yang digawangi Rian Ekky Pradipta (vokal), Dwiki Aditya Marsall (gitar), Rayyi Kurniawan Iskandar Dinata (bass), Nurul Damar Ramadan (gitar), dan Wahyu Piadji (drum) itu benar-benar menjadi massive.

Perjalanan d'Masiv sendiri enggak bisa dibilang gampang. Mereka benar-benar bekerja keras untuk meraih kesuksesan saat ini.

Para personelnya sendiri terkenal memiliki skill yang mumpuni. Pada awal kariernya, mereka terkenal sering memenangi berbagai kompetisi dengan meng-cover lagu pop menjadi progresif.

Empat tahun setelah dibentuk, langkah awal menggapai puncak karier d'Masiv mulai terlihat. Mengikuti kompetisi musik ternama buatan produk rokok, mereka keluar sebagai pemenang.

Satu tahun setelah memenangi kompetisi tersebut, album perdana d'Masiv yang bertajuk 'Perubahan' pun rilis. Dengan single 'Cinta Ini Membunuhku', band asal Jakarta ini mulai menancapkan kuku di industri musik tanah air.

Kebetulan, Smosyu Music mendapat kesempatan mewawancarai salah satu personel d'Masiv. Tepatnya gitaris mereka, Nurul Damar Ramadan, atau yang akrab dengan sapaan Rama d'Masiv.

Dengan ramah, Rama menjawab satu per satu pertanyaan kami. Tentu saja paling banyak obrolan membahas seputaran gear dong.

Mau tahu seperti apa obrolan kami dengan Rama d'Masiv? Simak wawancara eksklusif Smosyu Music dengan Rama d'Masiv di bawah ini!

Halo Rama, boleh tahu setup apa yang sekarang lagi sering dipakai?

Gue lagi sering pakai setup ini nih (kasi liat foto efek di WhatsApp). Gue sekarang sering main direct dan stereo.

Dari gitar ke wah, lalu tuner, ke BB PreAmp, Rocket Pedal Drive, kemudian EP Booster. Setelah itu ke Line6 HX Stomp, terus ke mixer. Preamp sama Cabsim gue pakai dari HX Stomp. Output LR dari Line6 HX Stomp langsung direct mixer.

Model PreAmp dan cab yang paling sering dipakai di HX?

Model preamp yang sering gue pakai itu Soldano dan Matchless, cab Marshall. 4x12 dan 2x12, kadang-kadang tergantung lagu. Setiap lagu bisa beda set preamp dan cabsim .

Kalau gitar lo pakai apa aja?

Gitar-nya pakai Suhr Classic Pro dan Gibson ES-335.

Kalau akustiknya pakai apa?

Akustik gue pakai Martin OMJM masuk ke ampli akustik Fishman Loudbox 100 di panggung amplinya taruh depan menghadap ke gue sekalian buat monitor, line out dari Fishman langsung ke mixer.

Ok, kita balik ke setup elektrik. Modulasi, delay, dll lo ambil dari mana?

Modulasi delay, reverb, amp cab, semua dari HX Stomp. Pedal drive dan booster dari yang dari stompbox.

Simple banget ya sekarang, kayaknya dulu efek lo lumayan ribet?

Iya itu beda lagi. Sekarang kalau tour ngapain ribet-ribet ya, teknologi sudah canggih banget. Mas Denchas yang racunin gue pakai setup kayak gini haha.

Nah, ini setup gue yg dulu. Kalau pakai switcher kayak gini kudu buat kayak manual book, biar crew gampang ngurutinnya kalau tiba-tiba ada trouble.  Oya, gue masih  ada rack system Bradshaw kayak Kang Baron sama Mas Budjana.

Haha kayaknya bisa jadi barang purbakala nan berharga bentar lagi tuh ya. Oya, setup lo yang dulu kan analog semua. Menurut lo gimana perbedaannya sama setup yang sekarang?

Pasti beda. Cuma teknologi sekarang bisa bikin sound nya mendekati analog menurut gue. Alat hanya media saja, semua alat balik ke kuping dan tangan. Mau pakai alat apa pun, pasti di tune lagi sesuai sound keinginan kita.

Gue suka Marshall, tapi kuping gue enggak terlalu cocok. Makanya gue pakai Soldano dan Matchless, selera.

Btw kelebihan dari digital efek sangat membantu mobilitas kita. Misal nih saat tour, kita punya Helix dua, terus yang satu rusak. Habis itu preset yang sudah ada di laptop tinggal copy ke Helix yang satu, main lagi deh.

Ngomong-ngomong, sekarang lo arahnya ke produser ya?

Iya, cita-cita gue dari dulu, jadi arranger dan produser. Mau juga bikin solo instrument, tetapi belum jalan. Ini malah membantu orang lain dulu. Alhamdulillah, dapat penghasilan lain pas pandemi. Ternyata banyak orang yang mau bikin lagu atau musik, tapi bingung caranya.

Jadi selain d'Masiv, gue juga banyak proyek musik di luar d'Masiv (producing dan arranging). Kadang ada juga yang meminta lagu sekalian musik. Kadang lagunya doang atau musiknya doang. Scoring bisa team sama d'Masiv. Gue paling sering buat band atau solis sih.

Kebanyakan artis atau Youtuber atau orang awam juga?

Semuany! Hehe, nanti gue rencana mau share semua project gue, bikin konten di Instagram.

Bikinin video juga, sepaket? Biasanya kan mereka mau posting di Youtube juga klipnya

Iya bisa saja. Sekarang gue lagi buat musik untuk Fatin dan film. Dangdut juga gue ambil hahaha.

Oke deh Rama, terima kasih ya sudah mau bagi-bagi ilmu

Aman, sama-sama. Thanks ya.


Fender Ultra Luxe Sebagai Jawaban Fender ke Para Pesaingnya

by Tyo Harsono on May 26, 2021

Fender dan gitar adalah dua kata yang hampir menjadi sinonim. Di tengah kompetisi antara produsen gitar, Fender mengeluarkan Ultra Luxe sebagai jawaban ke para pesaingnya.

Siklus dua tahunan Fender dalam berinovasi terus berlanjut. Setelah sebelumnya mengeluarkan American Profesional II, kini giliran seri Ultra yang bersolek.

Tak terasa sudah dua tahun berlalu sejak Fender merilis seri modern tertinggi mereka saat ini, Ultra. Ketika itu, seri Ultra menggantikan American Elite.

Dua tahun silam Fender menjawab tudingan malas berinovasi lewat Ultra. Beberapa perubahan yang sebenarnya sudah lama pesaing mereka lakukan, baru muncul.

Sebut saja kontur di bagian bawah yang membuat pemain bisa mengakses fret paling ujung. Lalu tambahan dua fret menjadi 22.

Kontur tersebut masih mereka pertahankan di Ultra Luxe. Selain itu, perubahan fret dari 20 ke 22 juga masih menjadi fitur andalan.

Selain itu, fitur baru terdapat dalam spesifikasi Ultra Luxe. Salah satunya adalah Augmented D neck profiled yang memiliki rolled fingerboard (baca selengkapnya di sini).

Lalu, apa sih Augmented D Neck profiled? Neck terbaru Fender itu merupakan penyempurnaan dari Modern 'D' neck.

Selain itu, dari segi pickup menggunakan Ultra Noiseless Vintage. Pickup baru ini menghasilkan suara klasik khas Fender, tanpa dengungan (hum-free).

Selain itu terdapat S-1 switch di knob volume. Fungsinya adalah agar bisa mengombinasikan neck pickup dengan bridge atau mengaktifkan ketiga pickup.

Oiya, untuk segi tampilan pun Ultra Luxe benar-benar deluxe loh. Mereka memberikan fitur matching headstock untuk seri tersebut.

Inovasi lain adalah bekerja sama dengan Floyd Rose. Artinya, ada opsi untuk memakai tremolo sistem pada seri Ultra Luxe ini.

Sayangnya sejauh ini baru empat varian Ultra Luxe yang dirilis oleh Fender. Keempatnya berasal dari dua lini andalan produsen asal California itu, Telecaster dan Stratocaster.

Untuk seri Stratocaster, terdapat dua varian. Pertama adalah American Ultra Luxe Stratocaster yang tersedia dalam dua warna, two color sunburst dan plasma red burst.

Two color sunburst memiliki opsi fingerboard maple atau rosewood. Sementara plasma red burst hanya tersedia dengan maple.

Kemudian terdapat American Ultra Luxe Stratocaster Floyd Rose HSS. Ini adalah varian yang menggunakan Floyd Rose di bagian bridge.

Sayangnya hanya tersedia satu opsi warna, hitam. Selain itu, tak ada opsi fingerboard selain rosewood untuk seri ini.

Beralih ke Telecaster, terdapat American Ultra Luxe Telecaster. Varian ini punya dua warna, two color sunburst serta transparent surf green.

Menariknya, keduanya punya opsi berbeda. Two color sunburst hanya tersedia dengan maple, sementara transparent surf green hanya dengan rosewood.

Varian terakhir adalah American Ultra Luxe Telecaster Floyd Rose HH. Ini juga menggunakan Floyd Rose dengan konfigurasi dua humbucker.

Seperti di Stratocaster, sayangnya hanya tersedia satu warna, hitam. Sementara opsi fingerboard hanya maple untuk seri ini.


Short Scale Bass: Keuntungan, Sejarah, dan Semua yang Kamu Perlu Tahu

by Tyo Harsono on May 24, 2021

Akhir-akhir ini, sering terlihat bass dengan ukuran yang lebih pendek dari biasa. Sebut saja posting-an Kevin Parker di media sosialnya, atau saat Mike Kerr beraksi di atas panggung.

Short scale bass, demikian nama dari bass dengan tipe seperti itu. Sebenarnya short scale bass bukan barang baru, tetapi memang baru bangkit akhir-akhir ini.

Seperti kita semua ketahui, ketika merilis Precision Bass pada 1951, Fender bagai menetapkan standar untuk ukuran bass. Dari ujung nuts ke bridge, 34" (86,36 cm).

Dua tahun berselang, Gibson yang sudah lebih senior di industri musik tidak mau kalah. Mereka juga merilis bass buatan mereka.

Kala itu Gibson mengeluarkan bass yang berbeda jauh dari Fender. Tak mau ikut pakem pesaingnya, mereka membuat bass yang memiliki ujung nuts ke bridge 30" (76,2 cm).

Hasilnya, ketika itu muncul istilah long scale (34") dan short scale (30") bass. Kedua ukuran tersebut pun menjadi tolok ukur untuk pembuatan bass.

Sayangnya bass short scale awalnya sempat dianggap remeh. Banyak yang menilai bass ukuran itu untuk anak-anak atau pemula.

Barulah pada pertengahan dekade 1960 popularitas bass short scale mulai meroket. Beberapa pembetot bass dari era tersebut menggunakan bass short scale.

Sebut saja Paul McCartney (The Beatles) dengan Hofner 500/1. Atau Jack Bruce (Cream) dengan Gibson EB serta Bill Wyman-nya The Rolling Stones.

Sayangnya memasuki dekade baru, popularitas short scale tenggelam. Bahkan Gibson sendiri lebih fokus dengan bass ukuran Fender macam Thunderbird, Grabber, atau G3.

Sampai akhirnya pada pertengahan dekade 2010an, entah mengapa popularitas bass short scale mulai meledak. Beberapa produk short scale dengan harga terjangkau bermunculan.

Gibson mengeluarkan SG Bass yang diikuti dengan reproduksi EB-0 dan EB-3 lewat nama Epiphone. Fender bersama Squier mengeluarkan Mustang dan Jaguar short scale.

Terdapat beberapa alasan popularitas bass short scale meningkat. Satu di antaranya, dengan ukuran neck yang lebih kecil, jarak antara fret pun menipis.

Apalagi untuk orang-orang yang memulai proyek seorang diri dan bermain gitar serta bass sekaligus. Tengok saja Kevin Parker (Tame Impala).

Hasilnya, penggunaan bass short scale mempermudah. Selain itu, untuk pemain bass bertangan kecil, menggunakan short scale juga lebih nyaman.

Alasan lain menggunakan bass short scale adalah timbre yang unik. Dengan ukuran panjang senar yang berubah, karakter suara ikut berubah.

Hal tersebut membuat terdapat beberapa suara yang memang sulit didapat lewat bass normal. Terkadang hasilnya adalah teknik yang sulit dilakukan di bass biasa.

Dengan ukuran lebih kecil, tensi di neck pun berkurang. Kondisi itu menghasilan suara yang lebih gelap dan fokus ke nada-nada rendah.

Nah, itu keuntungan menggunakan bass short scale. Bagaimana, kamu tertarik mencoba, atau malah sudah punya?


Fender Telecaster Deluxe dan Kontribusi HRD untuk Dunia Gitar

by Tyo Harsono on May 21, 2021

Penggiat gitar pasti tidak asing dengan nama Seth E. Lover. Identik dengan Gibson, keputusan cerdas HRD ke Seth berujung ke lahirnya Fender Telecaster Deluxe. Kok bisa?

Popularitas Gibson dengan gitar humbucker meningkat pada akhir dekade 1960an. Fender yang identik dengan gitar single coil pun mulai tersingkir.

Saat itu musik semakin keras. Gitaris rock klasik (yang masih baru saat itu) memilih gitar dengan humbucker. Alasannya, gitar single coil dianggap terlalu tipis.

Fender yang saat itu sudah menjadi milik CBS mulai melakukan aksi pembajakan. Divisi HRD melakukan tugasnya dengan baik.

Awalnya, HRD Fender membajak Dick Evans dari Gibson. Kala itu Evans bertugas sebagai kepala insinyur di perusahaan rival mereka.

Di sini, kinerja HRD di Fender melakukan fungsi terbaiknya. Mereka melakukan riset mengenai siapa saja sosok di balik suksesnya Gibson dengan gitar humbucker.

Rupanya Evans sendiri (dengan persetujuan HRD tentunya) membawa tim terbaiknya ke California. Salah satu sosok yang dia ajak adalah Seth.

Bagi yang belum tahu, Seth adalah orang yang merancang humbucker pertama kali untuk Gibson. Tahu bakal mendapat karyawan berkualitas, Fender berani menawarkan gaji besar.

"Saya bisa mendapat uang lebih banyak di Fender. Sebelum meninggalkan Gibson, Evans bergabung ke Fender terlebih dulu," ujar Seth dalam wawancara dengan Tony Bacon.

"Evans mengontak saya dan menawari pekerjaan di sana. Saya bertanya mengenai bayarannya. Di Gibson, saya mendapat 9000 dolar per tahun."

"Ketika itu Fender menawari saya bayaran 12000 dolar per tahun. Setelah itu mereka membayari tiket pesawat saya ke sana," tambahnya.

Bergabung dengan Fender sejak 1967, Seth berusaha membuat desain humbucker berbeda. Lima tahun bereksperimen, akhirnya karyanya di Fender lahir.

Fender Telecaster Deluxe, demikian buah cinta Fender dan Seth dinamai. Gitar tersebut memiliki humbucker baru bernama wide range humbucker.

Tak hanya menjadi senjata Telecaster Deluxe, beberapa varian juga ada di berbagai produk Fender. Termasuk di antaranya Telecaster Custom dan Thinline.

Wide range humbucker juga ada di gitar anyar Fender, Starcaster. Seperti Gibson seri ES, Starcaster memiliki desain semi hollow-body.

Sayangnya Fender Telecaster Deluxe 72 sempat kalah bersaing dengan Gibson Les Paul. Hasilnya Fender menghentikan produksi sembilan tahun berselang.

Beruntung, sejak 2004 Fender kembali merilis Telecaster Deluxe. Bahkan, kini terdapat versi Squier dari gitar tersebut.