Punya Uang Lebih? Investasikan pada Gitar!`

by Anindhito on Nov 30, 2019

Siapa yang tidak memikirkan investasi  usia tua? Mulai dari mengincar posisi di BUMN, bolak-balik ikut tes PNS, bermain saham, hingga jual-beli emas. Lalu bagaimana kalau kita memiliki hobi yang menghabiskan uang seperti bermain musik? Apa uang kita akan lenyap “hanya” untuk hobi?

Jangan khawatir, bermain musik juga merupakan investasi. Memang, bermain musik menghabiskan uang yang tak sedikit. Mulai dari hunting gitar, pedal, amplifier, hingga strap gitar pun terkadang harus sesuai selera.

Akan tetapi, layaknya hobi koleksi lainnya, mengoleksi gitar merupakan investasi yang baik. Mari berkaca pada aturan CITES untuk melindungi spesies flora dan fauna terancam punah dari ancaman komersialisasi.

Kini gitar sudah tak lagi menggunakan Brazillian Rosewood sebagai fretboard maupun body atau neck. Rosewood yang digunakan beralih pada Indian dan Indonesian Rosewood atau Pau Ferro. Produsen gitar raksasa, Fender, bahkan sudah mengganti fretboard gitar baru mereka dengan fretboard Pau Ferro.

Imbasnya, harga gitar-gitar ber-fretboard Brazillian Rosewood reissue “tahun muda” maupun vintage naik karena aturan CITES melarang impor produk yang mengandung Brazillian Rosewood dalam jumlah besar. Bahkan dealer besar mau tak mau harus mengimpor gitar-gitar Brazillian Rosewood secara individu untuk menghindari CITES.

Mengimpor secara individu tentu menaikkan biaya kirim yang berimbas pada harga jual. Mungkin CITES mengendorkan larangannya untuk Rosewood di Agustus lalu, namun, memproduksi gitar menggunakan Rosewood tetap harus menggunakan izin khusus yang pastinya berimbas pada harga produksi.

Gitar vintage juga dapat menjadi investasi yang baik. Gitar-gitar purwarupa produsen besar menjadi salah satu yang diincar oleh kolektor gitar. Gitar yang diproduksi saat Perang Dunia II seperti Gibson J-45 Jumbo dan SJ Southerner Jumbo yang diproduksi The Kalamazoo Gals juga menjadi barang koleksi yang mewah.

Memang, gitar langka seperti purwarupa atau produksi khusus seperti gitar produksi Kalamazoo memiliki harga selangit. Akan tetapi, tak melulu ‘gitar pertama seorang musisi ternama’ atau gitar purwarupa yang menjadi incaran kolektor. Gibson ES-335 Dot keluaran 2004 pun dapat dijual mahal 10 hingga 20 tahun lagi.

Gitar lama-tapi-baru layaknya Fender Standard Series dan Fender Classic Series pun bisa menjadi investasi yang baik, mengingat sejak 2017 Fender tidak lagi memproduksi kedua seri tersebut dan menggantinya dengan Player Series dan Vintera Series.

Negara tempat dibuatnya gitar juga dapat mempengaruhi harga jual gitar. Sudah barang tentu gitar made in USA akan berharga jauh lebih tinggi dari produksi negara lain, terutama gitar-gitar produksi lama.

Selain faktor usia gitar, lokasi manufaktur, dan bahan baku seperti yang dijabarkan di atas, gitar-gitar signature juga dapat dijadikan investasi. Tak harus musisi legendaris seperti Slash, Eric Clapton, atau B. B. King, gitar-gitar musisi dekade 2000-an dan 2010-an juga dapat menjadi opsi lain yang lebih murah.

Tengok James Bay, Taylor Swift, dan Ed Sheeran. Ketiganya merupakan millennials, namun mereka sudah diberikan gitar signature oleh 3 produsen gitar top: Epiphone – James Bay, Taylor – Taylor Swift, dan Martin & Co – Ed Sheeran.

Kiprah mereka mungkin tergolong baru jika disandingkan dengan Eric Clapton atau mendiang B. B. King. Namun, melihat kepopuleran, lagu-lagu mereka yang rutin memuncaki Billboard, serta segudang penghargaan, tak menutup kemungkinan harga gitar signature mereka akan melesat di kemudian hari.

Memiliki gitar langka, gitar vintage, atau signature, tak serta merta mendatangkan cuan. Kita juga harus paham pasar gitar kita. Gitar vintage mungkin dapat dijual tinggi ke musisi yang juga kolektor gitar. Tak hanya musisi luar, musisi Indonesia pun kerap berburu gitar vintage untuk dijadikan koleksi.

Dan gitar signature dapat kita jual ke penggemar berat sang musisi. Di saat musisi muda memiliki gitar signature dengan harga yang relatif murah, tak ada salahnya kita membeli gitar tersebut. Kalaupun memang investasi tersebut tidak berjalan lancar, Epiphone, Taylor, dan Martin & Co, bukan produsen gitar sembarangan.

Jadi, jangan takut merogoh kocek untuk gitar, terutama gitar-gitar seperti yang sudah disebutkan di atas. Memang, tak selamanya investasi berjalan mulus. Akan tetapi, bukankah kita ini pecinta musik sejati? Tak dapat dijual tinggi pun kita akan tetap bisa menikmati indahnya suara gitar koleksi sendiri.

Mau tahu lebih banyak soal musik? Klik link ini.