Menilik Betapa Langkanya Tonewood dan Menjawab Pertanyaan: Kenapa Sih, Harga Gitar Semakin Mahal?

by Tyo Harsono on Nov 17, 2019

Kalau dilihat-lihat, kebanyakan forum gitar online berisi pembahasan tentang tonewood. Lalu, apa sih sebenarnya tonewood itu? Seberapa besar pengaruhnya terhadap penjualan gitar?

Bagi pencinta gitar, selain suara tentunya penampilan dari instrumen berdawai enam itu juga penting. Serat kayu yang biasa terlihat pada beberapa gitar bisa memengaruhi keindahannya.

Tonewood sendiri merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut kayu tertentu. Jenis kayu yang dimaksud adalah yang menjadi bahan baku instrumen musik, termasuk gitar.

Sayangnya, beberapa tonewood seperti rosewood mulai memasuki kategori langka. Hal tersebut bisa dilihat sempat adanya aturan CITES terkait kayu yang biasa disebut sonokeling itu.

Belum lagi ditambah dengan aktivis lingkungan hidup yang semakin gencar berdemo untuk kelangsungan fauna yang ada di bumi. Kondisi itu akhirnya memaksa pihak berwajib lebih ketat mengawasi sumber daya alam mereka.

Alhasil, harga komoditi tonewood di pasaran pun melambung drastis. Apalagi, tidak ada lagi hutan rahasia yang bisa menjadi sumber daya alam.

Produsen gitar sendiri tidak membantu untuk membuat mereka lebih diterima oleh para pencinta alam. Contohnya seperti Gibson yang dua kali tertangkap mengimpor kayu eboni dari Madagaskar pada 2009 dan 2011.

Dimulai dari hadirnya CITES (badan yang mengatur jual beli barang yang terbuat dari material langka) pada 1975. Mereka melindungi sekitar 35.000 spesies flora dan fauna yang langka.

Di antara 35.000 spesies tersebut, beberapa di antaranya adalah tonewood. Yang paling terkenal adalah rosewood, meski ada juga material lain seperti bubinga.

Hal itu diikuti dengan pemerintah Amerika Serikat yang mengamandemen undang-undang tahun 1900 pada 2008. Mereka mewajibkan agar setiap produk yang terbuat dari tanaman untuk mengimpor bahan secara legal.

Secara keseluruhan, terdapat sekitar 200 spesies kayu biasa dipakai untuk membuat alat musik berada dalam ancaman. Bukan hanya gitar, tetapi juga violin dan cello.

Menurut Chris Herrod yang merupakan seorang distributor kayu, terdapat perubahan dalam alur penjualan tonewood dalam lima tahun terakhir. Pengakuannya, harga mahoni, alder, dan rosewood naik sekitar 30 persen.

Sementara itu, jumlah yang lebih gila adalah untuk produk ebony yang melonjak hingga 75 persen. "Perlu diketahui, margin kami tidak mengalami peningkatan, justru menurun ketimbang lima tahun lalu," katanya.

Luthier Mercantile International (LMI) sebagai tempat Chris Herrod bekerja juga menjalin kerja sama dengan organisasi pencinta lingkungan. Seperti di antaranya Forest Stewardship Council atau SmartWood.

Bukan saja kayu-kayu di atas, tetapi beberapa spesies tonewood juga mulai hilang. Contohnya adalah maple Eropa atau kayu spruce dari Sitka. Bahkan koa atau walnut yang tidak langka saja mulai sulit untuk dicari.

Menurut data yang dikumpulkan Reverb pada 2016, butuh setidaknya 80 hingga 100 tahun agar tonewood siap kembali dipanen. Cara mengakalinya adalah dengan menggunakan sejumlah jenis kayu baru sebagai pengganti.

Kondisi tersebut membuat penjualan satu papan tonewood bisa mencapai 60 US$ (sekitar Rp 840 ribu). Namun, untuk papan kayu untuk dibuat gitar bernilai hampir dua kali lipatnya.

Bahkan untuk kayu tertentu, harganya bisa lebih gila lagi. Contohnya untuk ebony yang berharga 350 US$ (sekitar Rp 5 juta) dan hanya menghasilkan dua fretboard.

Andaikan mengirim empat papan kayu saja, sudah memakan ongkos sekitar 760 US$ (sekitar Rp 10,9 juta). Artinya, di beberapa negara harus membayar pajak tambahan sampai 15 persen.

Itu baru dari kayu saja, yang total bisa mencapai Rp 13,04 juta untuk ongkos produksi. Belum material lain seperti elektronik (pickup, potentio, capacitator), hardware (bridge, tuner), dan lain-lain.

Dengan semakin langkanya beberapa jenis tonewood, maka setiap kayu harus terdokumentasi dengan baik. Hal itu membuat proses pembuatan gitar bisa mengintimidasi sejumlah produsen.

Perlunya dokumen-dokumen pendukung untuk hasil inspeksi kayu membuat harga tonewood semakin melonjak. Sekali lagi, ini semua baru dari kayu saja, belum berbicara dengan bahan lagi.

Lagi-lagi situasi ini yang memaksa sejumlah produsen beralih ke kayu yang lebih murah. Sebut saja wenge atau pau ferro yang kerap menjadi alternatif.

Produsen gitar akustik ternama, Taylor, merupakan satu di antara korban. Sejak 2011, mereka tidak bisa lagi sembarangan mengirimkan kayu ebony dari Afrika.

Tidak mau kehilangan akal, Taylor membuat perusahaan bernama Paniolo Tonewoods. Mereka bertugas menanam serta memanen kayu koa untuk digunakan pada masa depan.

Akibat rangkaian peristiwa di atas, tidak heran apabila akhirnya harga gitar pun meroket. Teruntuk kalian yang mempunyai gitar lama, rawat baik-baik. Bagi kalian yang ingin membeli gitar baru pun, setidaknya kini kalian punya alasan untuk mengeluarkan banyak uang.

Mau tahu lebih banyak soal musik? Klik link ini.