Berawal dari Tiruan, Bacchus Mulai Diperhitungkan di Industri Gitar

by Tyo Harsono on Nov 9, 2019

Nagano, Jepang, 1977. Di pojok kota tersebut, terdapat sejumlah pengrajin gitar ternama. Saat itu, mereka fokus membuat gitar akustik dengan merk Headway.

Berawal dari keinginan membuat gitar elektrik, para pengrajin gitar itu bersatu dan membentuk perusahaan bernama Deviser. Ketika itu, mereka membuat gitar tiruan Martin, Taylor (akustik), dan Gibson (elektrik).

Sayangnya bencana menerpa mereka enam tahun setelah berdiri. Terjadinya kebakaran membuat pabrik milik Deviser terbakar habis. Butuh waktu bertahun-tahun untuk mereka bangkit.

Perlahan tapi pasti, Deviser mulai membangun kembali reputasinya pasca kebakaran. Namun, terdapat hikmah di balik musibah. Deviser memutuskan untuk mengubah strateginya.

Sejak 1991, Deviser membuat divisi baru untuk gitar dan bass elektrik. Bernama Bacchus, diambil dari nama Dewa Yunani yang gemar berpesta. Cocok untuk tujuan pembuatan gitar, menyemarakan suasana.

Pada awalnya, Bacchus hanya membuat gitar-gitar tiruan. Dua raksasa di industri gitar, Fender dan Gibson, menjadi panduan mereka untuk memproduksi barang.

Perkembangan yang lancar membuat Bacchus mulai memproduksi pickup dan komponen elektronik gitar. Dinamakan Bacchus by Deviser, hal itu tidak biasa bagi produsen gitar asal Jepang.

Hebatnya, pickup buatan Bacchus tidak bisa dianggap remeh. Suaranya dianggap mendekati gitar yang mereka tiru. Contohnya single coil yang mirip dengan pickup Fender atau humbucker dengan presisi seperti Gibson PAF.

Hasilnya, perlahan gitar buatan Bacchus pun mulai diakui oleh dunia. Reputasi mereka membuat perusahaan asal Jepang itu menjadi tolok ukur gitar asal Jepang.

Selain itu, kualitas Bacchus yang sudah terbukti membuat tidak banyak yang melakukan perubahan di pickup atau komponen lain. Hal yang tidak biasa untuk gitar buatan Jepang.

Merasa percaya diri dengan gitar buatannya, Bacchus menghentikan produksi gitar tiruan Fender dan Gibson pada 2005. Mereka membuat gitar sendiri.

Menyadari tidak bisa melulu menjual gitar dengan harga mahal membuat Bacchus mulai masuk ke pasar gitar murah. Mereka meluncurkan seri Universe untuk para pemula.

Berbeda dengan seri sebelumnya, Bacchus Universe dibuat di China. Pemilihan China sebagai tempat produksi bukan tanpa alasan, ongkos tenaga kerja di sana lebih murah ketimbang di Jepang.

Mengawali kiprah di industri gitar dengan membuat gitar tiruan, kini nama Bacchus mulai diperhitungkan. Tidak sedikit musisi dunia yang mulai mengakui kualitas produsen asal Jepang itu.

Di Indonesia sendiri, demam Bacchus mulai menerpa selama beberapa tahun terakhir. Sejumlah gitaris dan bassist top sudah mulai menggunakannya seperti Iga Massardi, Wanda Omar, dan Andre Dinuth.

Mau tahu lebih banyak soal musik? Klik link ini.