Kebangkrutan dan Pengaruhnya Terhadap Penjualan Gitar Gibson Bekas

by Tyo Harsono on Oct 9, 2019

Dunia musik sempat digegerkan kabar bangkrutnya merk gitar legendaris, Gibson, pada 2018 lalu. Bukan tanpa alasan, Gibson merupakan satu di antara produsen raksasa pada industri gitar.

Berdiri sejak 1894, kurang lebih Gibson telah hadir selama 125 tahun. Mulai memproduksi gitar elektrik hollowbody pada awal Abad ke-20, nama Gibson meroket sejak merilis gitar Les Paul sekitar dekade 1950an.

Berdasarkan laporan Forbes pada 1 Mei 2018 silam, Gibson mengakui kebangkrutan mereka. Saat itu, raksasa gitar tersebut meminjam sekitar 500 juta dollar agar bisa bertahan hidup.

Menurut Bloomberg, dari jumlah tersebut, 135 juta dollar di antaranya berhak disimpan oleh Gibson hingga mereka bisa kembali. Sejumlah perusahaan pun berniat mengakuisisi Gibson dan menyelamatkan mereka dari kebangkrutan.

Pada akhirnya, Gibson selamat dari kebangkrutan mulai Oktober 2018. Saat itu, terdapat kelompok investor yang menyuntikan dana untuk produsen yang bermarkas di Tennessee, Amerika Serikat, tersebut.

Sejumlah perubahan diciptakan oleh Gibson pada masa kebangkitannya. Termasuk di antaranya memecat mantan CEO mereka, Henry Juszkiewicz, dan menunjuk mantan petinggi Levi's, JC Curleigh, sebagai suksesor.

Kemudian Gibson menghentikan sejumlah produk inovasi mereka dan fokus memproduksi gitar-gitar klasik. Penjual gitar top, Mark Agnesi, juga direkrut sebagai petinggi.

Dengan kebangkrutan yang sempat menerpa mereka, tentu penjualan gitar buatan Gibson terpengaruh. Hasilnya, kini harga gitar bekas buatan Gibson memiliki harga yang kurang stabil.

Saat ini, berdasarkan penelitian dari situs Reverb, gitar-gitar Gibson yang diproduksi sepanjang 2018 tengah mengalami penurunan harga cukup drastis. Sebabnya, periode tersebut adalah saat Gibson terombang-ambing.

Banyak yang meragukan kualitas gitar buatan Gibson sepanjang 2018. Calon pembeli merasa takut gitar-gitar tersebut tidak diproduksi secara maksimal.

Berbanding terbalik dengan gitar produksi 2018, katalog terbaru Gibson justru diminati. Harga Gibson buatan 2019 cenderung naik dibandingkan tahun sebelumnya.

Hasilnya, penjualan gitar baru Gibson lebih baik ketimbang gitat bekas mereka pada 2019. Padahal, gitar produksi 2018 Gibson telah dijual dengan harga lebih rendah.

Di sisi lain, penjualan gitar buatan di bawah 2018 justru sedang menanjak. Berdasarkan grafik, pembeli lebih suka membeli gitar Gibson lama ketimbang produksi 2018.

Apalagi gitar-gitar Gibson buatan di bawah 2010 dan di atas 2000. Memiliki kualitas ciamik, harganya lebih murah ketimbang yang dibuat sebelum dekade 2000an.

Alhasil Gibson Les Paul atau SG buatan 2001 hingga 2009 menjadi primadona bagi pencinta gitar. Kebanyakan dari mereka dijual dengan harga lebih murah dengan kualitas ciamik.

Bagi Gibson sendiri, mereka memiliki strategi yang menggabungkan penjualan tradisional dengan model bisnis perusahaan startup. Setidaknya, demikian yang dikatakan JC Curleigh kepada Billboard.

"Gibson adalah perusahaan berusia 125 tahun. Kami akan melakukan pendekatan sebagaimana startup yang telah berumur 125 tahun. Kami siap menempuh masa depan," tuturnya.

Pada kesempatan lain, JC Curleigh juga mengaku memiliki pendekatan lain untuk Gibson. Saat ini, Curleigh mengungkapkan ingin fokus merangkul produsen gitar lain.

"Gibson sudah mencapai kesepakatan dengan sejumlah produsen gitar lain. Terdapat pembicaraan kreatif soal ini dan bisa menjadi awal bagus untuk masa depan," ungkap JC Curleigh.

Berdasarkan berbagai laporan di atas, ini merupakan saatnya kamu membeli gitar Gibson favoritmu. Maklum, ini merupakan saat di mana gitar mahal itu bisa dibeli dengan harga murah.

Bukan tidak mungkin nantinya justru keputusan tersebut bisa membawa keuntungan untukmu kan. Cek di sini untuk melihat harga gitar Gibson bekas ya!

Mau tahu lebih banyak soal musik? Klik link ini.