Kata Siapa Main Gitar Sudah Gak Populer? Baca Hasil Penelitian Ini!

by Tyo Harsono on Oct 11, 2019

Dekade 2010an kerap disebut-sebut sebagai era di mana gitar sudah tidak lagi populer. Hal tersebut bisa dilihat dari semakin minimnya peran gitar dalam musik populer pada awal dekade tersebut.

Tak sedikit yang menganggap gitar kembali menjadi instrumen kelas dua. Hilang sudah pahlawan-pahlawan bergitar seperti dekade sebelumnya semisal Chuck Berry (50an), Jimi Hendrix (60an), Slash (80an), dll.

Synth menjadi idola bagi musisi yang meraih kejayaan pada dekade 2010an. Selain itu populernya musik hip-hop ditambah K-Pop yang tidak mendewakan gitar membuat instrumen berdawai enam itu tidak lagi seksi.

Hasilnya, tidak sedikit yang menganggap era kejayaan gitar sudah berakhir. The Washington Post contohnya, yang membuat artikel berjudul 'Why My Guitar Gently Weeps' pada 2017.

Di sana, The Washington Post menjabarkan secara gamblang alasan gitar tak lagi digemari. Mereka menulis seolah gitar kehilangan tempatnya pada era modern.

Kondisi tersebut diperparah dengan kabar bangkrutnya Gibson. Raksasa industri gitar itu sempat mengalami pailit dan terancam likuidasi pada awal 2018.

Akan tetapi, benarkah kenyataan di lapangan seperti itu? Rupanya tidak benar juga. Setidaknya, demikian laporan investigasi Rolling Stone serta hasil penelitian tim research and development Fender.

Munculnya sejumlah pahlawan bergitar baru seperti Ed Sheeran, James Bay, Christone "Kingfish" Ingram, dan Jake Kiszka (gitaris Greta van Fleet) menjadi alasan gitar masih dianggap sexy.

Menurut penelitian Fender, 42 persen responden mereka masih menganggap gitar sebagai bagian dari hidup. Sementara itu, 46 persen memainkan gitar dalam musik yang mereka buat dan 72 persen membeli gitar untuk kali pertama.

Data tersebut tentunya membantah artikel The Washington Post. Pasalnya, Fender mengambil sampel secara acak dari 500 responden untuk melakukan penelitian.

Dari penelitain yang dilakukan oleh Fender, diketahui 50 persen pemain gitar adalah perempuan. Sementara 25 persen memiliki ras Latin dan 19 persen sisanya adalah Afrika Amerika.

Petinggi Fender, Andy Mooney, menyebut musisi top banyak membantu mengubah industri gitar. Menurutnya, sejumlah musisi memberikan contoh cara baru bermain gitar yang menarik minat gitaris baru.

"Saat ini pemain gitar lahir di tengah kultur musik yang berbeda. Musisi seperti Mura Masa, Tash Sultana, Ed Sheeran mengubah cara gitar digunakan," tutur Andy Mooney seperti dilansir dari Reverb.

Pernyataan Fender itu diamini oleh Rolling Stone yang merilis artikel berjudul "Guitars Are Getting More Popular. So Why Do We Think They’re Dying?".

Di dalam artikel tersebut, Amy X. Wang selaku penulis menyebut kebangkrutan Gibson pada 2018 tidak bisa menjadi tolok ukur popularitas gitar. Hal itu karena pada kenyataannya gitar masih sangat populer.

Berdasarkan penelitian Rolling Stone, sekitar 2,6 juta gitar terjual di Amerika Serikat pada 2018. Jumlah itu naik 300.000 gitar dibandingkan pada 2009, berdasarkan data dari NAMM (National Association of Music Merchant).

Menurut sumber yang sama, setidaknya pembelian gitar akan terus bertambah hingga 2022. Bahkan, penjualan Gibson naik 10 persen dari 2017 ke 2018.

Rolling Stone menyebut demografi pemain gitar memang tengah mengalami perubahan. Dari sebelumnya dominan pria, kini lebih akrab dengan pemain gitar wanita.

Apabila menilik data-data di atas, bisa kita buktikan kalau gitar tidaklah kehilangan peminat. Bahwasanya sampai kapan pun, masih banyak pahlawan-pahlawan bergitar yang akan bermunculan.

Industri gitar terbukti baik-baik saja dan tidak memiliki masalah. Memang terdapat perubahan demografi, tetapi bukan berarti gitar kehilangan popularitasnya. Maka dari itu, yuk main gitar!

Mau tahu lebih banyak soal musik? Klik link ini.