Kabar Gembira untuk Pencinta Rosewood, Larangan CITES Bakal Dicabut!

by Tyo Harsono on Oct 20, 2019

Selama ratusan tahun, rosewood menjadi primadona dalam pembuatan fretboard untuk gitar. Sejak zaman dahulu, kayu yang di Indonesia disebut sonokeling itu merupakan andalan bersama dengan kayu ebony.

Bahkan, penggunaan kayu lain seperti maple baru pada sekitar pertengahan abad ke-20. Adalah Fender yang memprakarsai penggunaan maple sebagai alternatif untuk fretboard.

Meski begitu, popularitas rosewood sebagai bahan utama pembuatan fretboard tidak semerta menghilang. Selama beberapa dekade setelah munculnya maple, rosewood tetap memiliki penggemar sendiri.

Karakter yang unik dengan suara lebih kaya dari maple membuat rosewood tetap menjadi kayu yang paling umum untuk fretboard. Karakternya yang keras menghasilkan artikulasi nada yang jelas.

Sayangnya, sejak 2017 produksi gitar dengan rosewood dibatasi. Aturan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) atau konvensi perdagangan internasional tumbuhan dan satwa liar spesies terancam manjadi alasan.

Bukan tanpa alasan, hal tersebut disebabkan rosewood sebagai satu di antara spesies kayu yang terancam punah. Sejatinya, aturan itu dikeluarkan karena langkanya kayu rosewood Brasil.

Akan tetapi, karena pengawasan kayu rosewood Brasil cukup sulit, maka dari itu seluruh barang yang terbuat dari kayu itu dibatasi. Padahal, sejatinya rosewood India tidaklah terancam.

Sejatinya aturan CITES dibuat untuk mengurangi pembuatan furnitur berbahan rosewood. Namun, industri fitar ikut menjadi korban karena demi mempermudah pengawasan.

Penggunaan rosewood sebagai bahan industri secara masif membuat CITES mengeluarkan aturan tersebut. Hal itu karena mereka khawatir kayu tersebut bisa punah.

Sejumlah industri gitar pun mencari alternatif dari rosewood. Pasalnya, meski masih bisa memproduksi, namun diperlukan sertifikat khusus yang berharga cukup mahal.

Alhasil, sejumlah produsen, terutama gitar-gitar murah mulai berganti dari rosewood. Mulai dari ebony, pao ferro, indian laurel, hingga jatoba menjadi alternatif.

Fender menjadi produsen gitar yang paling kelihatan menyingkirkan rosewood dari produk murah mereka. Demikian juga dengan Martin & Taylor guitar.

Selain itu, akibat aturan tersebut, banyak gitar yang tertahan di tempat pengiriman. Produsen gitar pun merugi karena sejumlah gitar buatan mereka tidak bisa dijual.

Musisi yang memiliki instrumen berbahan rosewood juga menjadi korban. Mereka terpaksa mengganti gitar andalannya apabila ingin menjalani tur ke luar negeri.

Beruntung bagi kalian para pencinta gitar dengan fretboard rosewood, terdapat wacana pengangkatan aturan tersebut untuk industri gitar. CITES dikabarkan memberikan pengecualian untuk instrumen musik.

Pada Agustus silam, komite CITES mengadakan pertemuan di Jenewa, Swiss, untuk membahas soal mengangkat aturan terkait rosewood dari industri gitar. Menurut laporan NPR, hasil pertemuan berjalan cukup positif.

Menurut salah satu petinggi CITES, larangan itu membuat industri musik kehilangan instrumen dengan kualitas tertinggi. Namun, tidak ada efek langsung untuk konservasi rosewood.

Kondisi tersebut membuat komite CITES menyetujui pengecualian jual beli rosewood untuk industri musik. Selain gitar, termasuk juga part dan aksesoris untuk alat musik.

Artinya, gitar yang memiliki kayu rosewood bisa kembali dijual dan dibawa secara bebas ke seluruh dunia. Dengan demikian, tidak perlu lagi surat izin untuk membawa gitar berbahan rosewood.

Akan tetapi, penjualan rosewood secara komponen masih membutuhkan surat izin khusus. Namun, setidaknya kini musisi bisa membawa gitar kesayangan mereka dengan bebas.

Pun demikian dengan produsen gitar, mereka kembali bisa memproduksi gitar berkualitas tinggi dengan bahan rosewood. Nah, menurutmu, aturan terkait rosewood ini menguntungkan, atau merugikan?

Mau tahu lebih banyak soal musik? Klik link ini.