Archive for October 2019

Tahu Nggak Sih? Ini Loh Gitar-gitar Paling Ikonik Sejagat Raya

by Tyo Harsono on Oct 31, 2019

Sudah berabad-abad berlalu sejak kali pertama gitar diciptakan. Peninggalan sejarah pertama soal gitar ditemukan jejaknya sejak abad ke-12.

Meski begitu, terdapat lukisan batu berumur 3300 tahun yang menunjukkan instrumen musik seperti gitar. Lukisan batu tersebut ditemukan di Babilonia.

Hingga awal abad ke-20, praktis tidak banyak perkembangan soal gitar. Sampai akhirnya gitar-gitar elektrik mulai bermunculan pada dekade 1930an.

Kala itu kebanyakan gitar listrik berbentuk seperti gitar akustik yang diberi pickup. Baru pada akhir 1940an Leo Fender menggebrak industri gitar dengan Fender Telecaster-nya.

Sekal saat itu gitar elektrik dengan berbagai jenis yang memiliki desain dan konfigurasi berbeda mulai bermunculan. Hasilnya, para gitaris pun memiliki favoritisme terhadap sejumlah jenis gitar.

Beberapa di antaranya menggapai kesan ikonik yang digandrungi jutaan gitaris. Pada umumnya, gitar-gitar tersebut bisa dilihat sebagai senjata andalan mereka.

Kali ini, kami akan merangkum sejumlah gitar ikonik yang lazim digunakan oleh gitaris top. Bahkan, gitar-gitar ini sampai memiliki penggemar tersendiri. Berikut ini adalah daftarnya:

Fender Telecaster



Pada akhir dekade 1940an, Leo Fender memperkenalkan dua gitar. Pertama adalah Esquire yang memiliki satu pickup dan disusul Broadkaster dengan dua pickup.

Karena satu dan lain hal, Fender harus mengubah nama Broadkaster menjadi Telecaster. Kedua kreasi Leo Fender itu pun menjadi gitar elektrik pertama yang berhasil dirilis secara masal di dunia.

Tampilan Fender Telecaster sangatlah sederhana, tetapi mewujudkan kesan yang elegan. Dengan suara khas-nya yang twangy, Telecaster menjadi pilihan selama tujuh dekade.

Hebatnya, meski diciptakan sudah cukup lama, Fender Telecaster tetap memiliki penggemar. Gitaris top seperti Keith Richards, Prince, Brad Paisley, dan Bruce Springsteen identik dengan Telecaster.

Selain itu, Fender Telecaster juga cocok digunakan untuk berbagai jenis musik. Mulai dari rock, country, funk, blues, hingga R&B bisa dilahap oleh gitar ini.

Gibson Les Paul



Berawal dari keresahan gitaris jazz, Les Paul, sebuah mahakarya tercipta. Berkolaborasi dengan Gibson, Les Paul sukses menelurkan gitar Gibson Les Paul pada 1952.

Pada awalnya, Gibson menolak desain Les Paul yang diajukan pada 1946. Namun popularitas Fender Telecaster membuat mereka akhirnya memutuskan untuk bekerja sama dengan Les Paul.

Pada awal kemunculannya, Gibson Les Paul menggunakan pickup P-90. Namun, sejak 1957 Gibson melakukan perubahan dengan menggunakan pickup berjenis humbucker.

Sejumlah varian Gibson Les Paul pernah beredar di pasaran. Mulai dari sunburst yang legendaris, goldtop, hingga black beauty pernah dikeluarkan oleh Gibson.

Banyak musisi top yang mennggunakan Gibson Les Paul sebagai gitar andalannya. Sebut saja Jimmy Page, Gary Moore, Slash, Billie Joe Armstrong, hingga Bob Marley.

Fender Stratocaster


Leo Fender merasa tersaingi dengan kehadiran Gibson Les Paul. Inventor industri gitar tersebut pun meluncurkan Fender Stratocaster dua tahun berselang, tepatnya pada 1954.

Fender Stratocaster merupakan bentuk evolusi dari Fender Telecaster. Hal itu karena Stratocaster memiliki tiga pickup dan double cutaway yang mengadopsi dari Fender Precision Bass.

Sejumlah inovasi diciptakan oleh Leo Fender saat menciptakan Fender Stratocaster. Ini merupakan gitar pertama yang menggunakan tiga pickup dan memiliki sistem vibrato (atau tremolo).

Pada awalnya, Fender Stratocaster dibuat untuk gitaris swing, Bill Carson. Namun, gitar ini justru populer karena Buddy Holly dan Hank Marvin yang memuncaki tangga lagu.

Digunakan oleh gitaris sekelas Jimi Hendrix, Eric Clapton, dan Stevie Ray Vaughan, bukti kalau Fender Stratocaster bisa digunakan untuk berbagai jenis musik. Mulai dari rock, pop, blues, hingga country.

Gibson ES-335



Memang Gibson sudah merilis kategori ES (Electric Spanish) sejak dekade 1930an. Namun, mereka membuat gebrakan dengan mengeluarkan Gibson ES-335 pada 1958.

Seri ES Gibson sebelumnya kebanyakan adalah gitar hollowbody. Sementara itu, Gibson ES-335 memiliki tipe semi hollowbody (untuk lebih jelas mengenai perbedaannya, cek tulisan ini).

Gibson ES-335 merupakan babak baru dalam dunia gitar. Setelah gitar akustik elektrik, hollowbody, dan solid body, ES-335 memperkenalkan varian baru, semi hollowbody, yang memiliki karakter dua gitar lain.

Seperti gitar hollowbody yang lahir sebelumnya, Gibson ES-335 identik dengan musisi blues dan jazz. Namun, tidak menutup kemungkinan juga genre lain cocok dengan gitar ini.

Gibson Lucille milik BB King merupakan evolusi dari Gibson ES-335, yaitu Gibson ES-355. Demikian pula Gibson Trini Lopez yang identik dengan Dave Grohl adalah satu di antara varian ES-335.

Gibson SG



Boleh percaya atau tidak, pada 1961 Gibson mengubah desain Gibson Les Paul. Paling mencolok adalah perubahan dari single cutaway menjadi double cutaway.

Perubahan yang dilakukan selain itu adalah bentuk tubuh gitar yang lebih tipis dan ringan. Sayangnya Les Paul tidak menyukai perubahan yang dilakukan oleh Gibson tersebut.

Saat itu, Les Paul protes kepada Gibson karena lebih menyukai desain lama. Akhirnya, pada 1963, Gibson mengubah nama gitar baru mereka menjadi Gibson SG (Solid Guitar).

Meski memiliki dua humbucker seperti Gibson Les Paul, Gibson SG terkenal punya suara yang lebih agresif. Hasilnya, SG pun identik dengan musik keras seperti rock n'roll.

Terbukti, gitaris yang identik dengan Gibson SG kebanyakan memainkan aliran musik tersebut. Sebut saja Angus Young, Tony Iommi, hingga Pete Townshend.

Mau tahu lebih banyak soal musik? Klik link ini.


Spesial untuk Kamu yang Baru Mulai Membangun Pedalboard

by Tyo Harsono on Oct 30, 2019

"Aku suka Slash dan memakai gitar Les Paul yang sama seperti dia, kok suaranya beda ya?" "Kenapa sih suara gitar Tom Morello atau Jonny Greenwood bisa seperti itu?"

Dua pertanyaan di atas mungkin sering berada di pikiran gitaris yang baru memulai kariernya memetik enam senar. Walaupun ada juga sih, yang tahu kalau suara semacam itu terkadang dibantu oleh panduan efek gitar.

"Waduh, efek gitar kak? Yang pakai pedal-pedal injakan itu ya? Wah, ada banyak kak, aku bingung melihatnya." Sssst, tenang, tenang, tak usah bingung atau bersedih, kami akan memberikan tips mingguan seperti biasa.

Ya, kami tahu sih, buat gitaris yang baru mulai, terkadang melihat pedalboard milik musisi favoritnya cukup mengintimidasi. Apalagi banyak terdapat varian pedal.

Bahkan, terkadang satu jenis pedal saja sudah banyak jenisnya. Atau, satu merk menjual beberapa jenis pedal yang mempunyai fungsi berbeda-beda.

Kami sendiri mengalami hal yang sama saat pertama kali ingin membeli efek gitar pertama. "Duh, harus beli apa ya?" atau "beli tipe apa dulu yang sesuai permainanku?" adalah yang ada di benak kami saat itu.

Oiya, sebelumnya, apa yang akan kami tulis selanjutnya bukan merupakan paduan mutlak. Namun, buat kamu yang masih bingung ingin membeli efek gitar, tulisan ini bisa menjadi solusi.

Menurut kami, dirt pedal merupakan efek gitar pertama yang cocok untuk kamu beli. Maklum, dengan menggunakan dirt pedal, kamu akan langsung mendapat perbedaan suara yang cukup drastis.

Dirt pedal sendiri dibagi menjadi tiga, overdrive, distortion, dan fuzz. Di sini, kamu bebas memilih mau menggunakan tipe yang mana. Paling umum sih, biasanya Ibanez Tube Screamer bisa menjadi pilihan.

Setelah itu, kamu bisa membeli efek modulasi. Terdapat beberapa jenis efek modulasi, seperti chorus, phaser, atau flanger. Namun, yang umum digunakan adalah chorus.

Pada umumnya, efek modulasi bertugas mewarnai suara gitar kamu. Untuk chorus sendiri, kamu bisa mendengar suara seolah gitarmu menggunakan 12 senar.

Setelah itu ada dua jenis efek gitar yang mirip tapi kamu butuhkan untuk pedalboardmu. Pertama adalah reverb, lalu delay. Meski tidak masalah kalau kamu hanya punya salah satu, lebih kalau ada keduanya, bukan?

Fungsi reverb adalah untuk mengemulasi suara gaung yang ada di tempat besar seperti gimnasium. Dengan menggunakan reverb, suara gitarmu akan menjadi lebih tebal.

Sementara itu, delay memproduksi suara yang diulang dari gitarmu. Biasanya, delay akan menunjukkan kemampuan terbaiknya saat dipadukan dengan distortion atau overdrive. Seperti JHS Panther Cub Delay ini contohnya.

Sebenarnya masih banyak lagi jenis efek gitar, seperti misalnya wah atau volume. Namun, kami merasa jenis-jenis di atas adalah yang paling penting untuk kamu yang baru mulai belajar main efek gitar.

Ya, anggaplah kamu sudah membeli efek-efek di atas. Lalu, apa yang harus kamu lakukan? Lengkapi dengan membeli velcro, kabel patch, adaptor, pedalboard, dan kabel penghubungnya.

Untuk adaptor, kalau bisa gunakan adaptor power supply yang bisa memberikan tenaga untuk ke beberapa efek sekaligus. Lalu kalau pedalboard, kamu bisa memanfaatkan koper atau papan yang tidak terpakai andai belum memiliki dana untuk membelinya.

Oke, oke mari anggap semuanya sudah siap. Pertama, pasang velcro di pedalboard dan efek gitar milikmu. Kemudian, siapkan power supply untuk memberikan tenaga ke efek gitarmu.

"Kak, bagaimana cara menyusun pedalboard-nya?" Sabar, sabar, dalam paragraf selanjutnya, kami akan memberikan tips cara menyusun efek gitar dengan baik. Oh, lagi-lagi, ini bukan hal yang mutlak ya.

Agar mendapatkan suara yang paling aman, gunakan dirt pedal sebagai efek yang paling ujung setelah gitar. Hal tersebut karena mereka memiliki fungsi ganda, bisa sedikit mengkompres suara gitar.

Setelah itu, sambungkan efek gitar ke modulasi untuk mewarnai suara gitarmu. Terakhir, sebelum menuju ke amplifier adalah delay atau reverb. Kalau kamu menggunakan keduanya, sebaiknya reverb duluan ya.

Nah, bagaimana, sudah sedikit mengerti kan soal efek gitar? Semoga tips ini bisa membantu kamu ya! "Kok pembahasannya cuma sedikit kak?" Tenang, nanti akan ada lagi tips-tips lainnya kok!

Mau tahu lebih banyak soal musik? Klik link ini.


Gibson Melebarkan Sayap ke Industri Merchandise

by Tyo Harsono on Oct 29, 2019

Nama Gibson terkenal di dalam industri musik sebagai salah satu produsen gitar terbaik di dunia. Berdiri sejak 125 tahun silam, Gibson menjadi teman musisi sejak dulu kala.

Berbagai musisi top menggunakan gitar buatan Gibson sejak era Robert Johnson, BB King, Slash, hingga terbaru Gary Clark Jr. dan Joe Bonamassa. Itu seolah menjadi bukti kualitas gitar buatan Gibson.

Diawali oleh Orville Gibson pada 1894 dan mulai menjadi perusahaan sejak 1902, Gibson berasal dari Kalamazoo, Michigan. Kini nama Gibson seolah menjadi tolok ukur keberhasilan gitaris.

Selama satu seperempat abad berkiprah di industri gitar, terdapat berbagai inovasi yang mereka lakukan. Termasuk di antaranya adalah sempat membuat teknologi Robot Tuner.

Sayangnya inovasi-inovasi yang dilakukan oleh Gibson hanya dilakukan sebatas pada produksi gitar. Apalagi gitar buatan mereka terkenal cukup mahal.

Hasilnya, dari segi brand recognition pun, Gibson tertinggal jauh dari pesaingnya, Fender, yang membuat berbagai merchandise. Bahkan, nama Gibson kerap tertutup Epiphone yang notabene 'adik' mereka.

Ditambah dengan inovasi mereka yang gagal, Gibson sempat hampir bangkrut pada 2018 (untuk mengetahui lengkap, baca link ini). Beruntung, terdapat konsorsium yang menyelamatkan mereka.

Langkah pertama Gibson adalah mengembalikan gitar-gitar klasik yang kerap mereka lupakan pada era pemilik sebelumnya. Kini, mereka menawarkan gitar dalam seri modern dan klasik.

Bisa dibilang, langkah tersebut tepat untuk Gibson. Kini, cara yang perlu mereka lakukan adalah meningkatkan brand recognition di kalangan musisi muda.

Gibson mengawalinya dengan merilis gitar dengan harga lebih terjangkau. Selain itu, mereka menggandeng beberapa musisi untuk membuat gitar signature seperti Billie Joe Armstrong dan Joe Perry.

Langkah selanjutnya adalah mulai merambah industri merchandise. Cara ini bisa berguna untuk musisi muda agar termotivasi untuk menabung agar bisa membeli gitar buatan Gibson.

Akhirnya, Gibson pun menggandeng perusahaan pembuat capo ternama, Thalia. Bukan tanpa alasan, Thalia terkenal sebagai pembuat capo dengan menggunakan kayu eksotis.

Dalam kerja sama ini, Gibson dan Thalia merilis tiga kategori produk. Pertama adalah capo dengan tema Gibson, lalu case ponsel yang terbuat dari pearl atau inlaid.

Capo yang dirilis memiliki inlay berbeda sesuai dengan desain inlay yang ada di fretboard Gibson. Contohnya seperti paralleolgram atau trapezoid. Ada juga yang memiliki logo Gibson Hummingbird atau Les Paul.

Sedangkan pada case ponsel dari pearl, terdapat desain yang identik dengan headstock gitar buatan Gibson. Bahan dasar pembuatan adalah Hawaiian Koa, Indian Rosewood, atau Santos Rosewood.

Sementara case ponsel dari inlaid memiliki gambar gitar-gitar buatan Gibson. Bahan dasar pembuatannya adalah Hawaiian Koa, Santos Rosewood, Purpleheart Wood, atau Black Ebony.

Bagian samping dibuat dengan polikarbon kelas militer untuk menjamin ketahanan. Sayangnya berbeda dengan Fender, merchandise Gibson dibanderol harga yang lumayan mahal.

Mau tahu lebih banyak soal musik? Klik link ini.


Mengenang The Dirty Mac, Superband Terbesar yang Tak Terwujud

by Tyo Harsono on Oct 28, 2019

Kamu mengaku suka musik? Pasti minimal pernah dong, mendengar nama-nama berikut ini: The Beatles, The Rolling Stones, Cream, dan The Jimi Hendrix Experience?

Lalu, bagaimana jadinya kalau masing-masing band di atas menyumbangkan satu personil dan membentuk band baru? Bisa dipastikan bakal heboh mengingat betapa besarnya band lama mereka.

Ya, itulah yang terjadi di The Dirty Mac. Sebuah grup musik yang tampil di acara televisi bertajuk The Rolling Stones Rock and Roll Circus pada Desember 1968.

The Beatles menyumbangkan frontman mereka, John Lennon. Sementara Keith Richards-nya The Rolling Stones bertugas membetot bass. Eric Clapton dari Cream bermain gitar dan dilengkapi penggebuk drum The Jimi Hendrix Experience, Mitch Mitchell.

Cerita bermula ketika The Rolling Stones mendapatkan tawaran membuat acara televisi oleh BBC. Kala itu, mereka mengundang sejumlah musisi seperti John Lennon, the Who, Taj Mahal, dan lain-lain untuk tampil.

Acara tersebut direkam di Wembley Intertel Studio pada 11 Desember 1968. The Rolling Stones Rock and Roll Circus juga menjadi penampilan terakhir Brian Jones dengan The Rolling Stones.

Meski mendatangkan nama-nama besar, The Rolling Stones Rock and Roll Circus mendapatkan berbagai masalah. Contohnya adalah para musisi yang teler hingga kerusakan beberapa alat.

Secara keseluruhan, pengambilan gambar The Rolling Stones Rock and Roll Circus memakan waktu 15 jam. Bahkan, The Rolling Stones sebagai band utama baru naik ke atas panggung pada pukul lima pagi.

Bukan hanya The Rolling Stones, musisi lain yang tampil juga mendapat kesempatan untuk membawakan lagu-lagu sendiri. Namun, yang menjadi sorotan adalah ketika Mick Jagger berbincang dengan John Lennon yang tengah memakan semangkuk mie.

Saat itu John Lennon menyebutkan nama-nama yang akan dia ajak untuk bermain bersama di The Dirty Mac. Uniknya, Lennon melafalkan nama Winston Leg-Thigh saat memperkenalkan diri.

Ini juga menjadi penampilan pertama John Lennon sejak The Beatles pensiun dari tur pada Agustus 1966. Anehnya lagi, dari sekian pemain bass yang hadir, Lennon memilih Keith Richards yang sejatinya gitaris The Rolling Stones.

The Dirty Mac membawakan dua lagu pada The Rolling Stones Rock and Roll Circus. Pertama adalah cover lagu The Beatles, Yer Blues, kemudian lagu baru berjudul Whole Lotta Yoko.

Ketika bermain dengan The Dirty Mac, John Lennon menggunakan gitar Epiphone Casino andalannya. Sementara itu, Eric Clapton masih setia dengan Gibson ES-335 sebelum beralih ke Fender Stratocaster.

Keith Richards sendiri menggunakan Fender Precision Bass saat tampil bersama The Dirty Mac. Kehadiran Mitch Mitchell dengan drum Ludwig-nya melengkapi band tersebut.

Kala itu banyak media di Inggris yang tidak mengetahui keberadaan The Dirty Mac. Hal itu karena The Rolling Stones Rock and Roll Circus baru dirilis tiga dekade setelahnya.

Setelah dirilis pun sebagian besar pencinta musik menyayangkan The Dirty Mac yang bubar terlalu cepat. Tentunya tidak ada yang tahu seperti apa karya mereka andai membuat album secara serius.

Hingga kini, tidak ditemukan lagi bukti bahwa The Dirty Mac pernah bermain pada acara lain. Kemungkinan band itu berdiri terkubur bersama John Lennon dan Mitch Mitchell yang telah meninggal dunia.

Mau tahu lebih banyak soal musik? Klik link ini.


Yuk Belajar Musik Bersama Fender!!!

by Tyo Harsono on Oct 27, 2019

Dewasa ini, banyak cara yang bisa dilakukan untuk belajar bermain gitar. Mulai dari kursus privat hingga menonton video di YouTube bisa menjadi cara untuk mempelajari instrumen tersebut.

Selain itu, terdapat sejumlah situs yang menunjukkan kunci gitar dari lagu-lagu populer. Ada pula beberapa aplikasi di ponsel yang memberikan tutorial bermain gitar.

Sayangnya, kursus secara online tidak selalu membuat Anda bisa memainkan lagu favorit Anda. Pasalnya, terkadang sumber tersebut tak selalu relevan.

Akan tetapi, tenang, kini Fender memberikan solusi untuk kalian yang baru mulai bermain gitar dan ingin mempelajarai lagu favorit kalian. Produsen gitar asal Amerika Serikat itu meluncurkan aplikasi baru.

Disebut dengan Fender Songs, aplikasi tersebut dirilis pada Oktober 2019. Lantas, apa sih sebenarnya fungsi dan kegunaan dari aplikasi tersebut?

Fender bekerja sama dengan Apple Music untuk meluncurkan lirik dan chords gitar, piano, serta ukulele bagi sekitar 750.000 lagu dan jumlah itu masih bisa bertambah.

Pengguna Fender Songs bisa memainkan lagu kesayangan mereka dengan sambil diiringi lagu aslinya lewat aplikasi tersebut. Selain itu, terdapat chords lagu-lagu tersebut.

Fender Songs merupakan inisiatif terbaru Fender untuk membantu gitaris pemula. Sebelumnya, mereka memiliki aplikasi untuk gitaris baru belajar bernama Fender Play.

Menurut CEO Fender, Andy Mooney, aplikasi ini memang kelanjutan dari Fender Play. Mooney menyebut Fender Play sebagai aplikasi yang diperuntukan untuk gitaris yang baru mulai belajar.

"Ini merupakan bagian dari kontribusi kami untuk membantu perkembangan pemain gitar pemula. Fender Play merupakan untuk mereka yang baru memulai bermain gitar," ujar Andy Mooney.

"Sementara itu, Fender Songs berguna untuk orang-orang yang ingin lebih mendalami bermain gitar. Kami ingin memberikan akses ke chords untuk lagu-lagu yang mereka dengar dan ingin mainkan," lanjutnya.

Tentunya aplikasi Fender Play akan memberikan keuntungan juga untuk para musisi. Terdapat prediksi jumlah pendengar bakal meningkat drastis yang menguntungkan label dan musisi.

Selain itu, pada masa depan Fender bakal mempromosikan album baru musisi lewat Fender Songs. Dengan demikian, sinergi antara Fender, musisi, dan penggemarnya akan berjalan.

Saat ini, Fender Songs baru memiliki akses untuk lagu-lagu yang ada di katalog Apple Music, Fender dalam waktu dekat akan bekerja sama dengan platform lain. Terdekat kemungkinan adalah Spotify.

Memang masih ada kendala soal lisensi karena di Amerika Serikat saja Fender butuh dua tahun untuk mendapatkan izin. Hal itu menjadi alasan Fender Songs baru ada di negara tersebut.

Pada aplikasi Fender Songs, akan terdapat tiga mode. Pertama adalah Practice Mode, kemudian terdapat Play-Along Mode, dan terakhir ada Perform Mode.

Saat ini, Fender Songs baru ada di Amerika Serikat. Namun, mereka menargetkan aplikasi tersebut dirilis di Inggris dan seluruh dunia pada awal 2020.

Untuk menggunakan aplikasi Fender Songs, pengguna wajib membayar 4.99 US$ atau 41.99 US$.

Mau tahu lebih banyak soal musik? Klik link ini.