Rolled Fretboard Edges, Bikin Gitarmu Makin Nyaman!

by Tyo Harsono on May 14, 2021

Dalam beberapa tahun terakhir, sadar enggak sih ada beberapa tren baru di dunia gitar. Pertama, roasted maple neck, terus rolled fretboard edges.

Mari simpan roasted maple neck untuk lain kali. Sekarang, sepertinya lebih enak membahas rolled fretboard edges dulu.

Tren rolled fretboard edges awalnya muncul di gitar-gitar mahal. Sebenarnya, hal tersebut bukan hal baru loh!

Kalau ditelusur lebih jauh, sebenarnya Fender American Series (sekarang menjadi American Professional) sudah memakainya sejak 2000.

Sejatinya teknik membuat bagian pinggir produk kayu sudah ada di furnitur, sebelum di gitar. Alasannya penggunaan teknik tersebut guna menghindari kecelakaan anak kecil yang sering terluka karena ujung furnitur yang tajam.

Menariknya, Fender mengaplikasikan teknik tersebut untuk pembuatan gitar. Alasan mereka saat itu adalah demi kenyamanan saat menggenggam gitar.

Rupanya, lagi-lagi inovasi Fender diikuti oleh produsen gitar lain. Mulai dari Gretsch, Gibson, sampai Musicman mulai membuat gitar dengan rolled fretboard edges.

Lalu, apa sebenarnya rolled fretboard edges? Seberapa sulit teknik tersebut sampai sempat hanya ada di gitar-gitar mahal?

Rolled fretboard edges adalah teknik menumpulkan bagian sisi fretboard. Fungsinya seperti yang sudah kami sebut di atas, guna membuat gitar lebih nyaman dalam genggaman.

Berbeda dengan kebanyakan teknik pembuatan gitar yang sudah menggunakan mesin, rolled fretboard edges masih harus dilakukan secara manual.

Cara paling mudah adalah dengan mengampelas bagian pinggir fret. Namun, risikonya adalah bagian fret bisa menjadi tumpul andai tidak berhati-hati.

Selain itu, hati-hati jika gitarmu memiliki binding ya. Pasalnya binding bisa hilang dalam proses pengampelasan bagian neck.

Jadi, kalau memang kamu tidak yakin, minta saja luthier andal untuk mengampelas gitarmu. Opsi lain adalah membeli gitar yang memang sudah memiliki rolled fretboard edges.

Toh sudah ada beberapa gitar murah yang memiliki rolled fretboard edges. Sebut saja Squier, Sire, dan Bacchus yang sudah memiliki gitar dengan pinggiran fret 'empuk'.

Jadi, bagaimana, sudah siap memiliki gitar dengan rolled fretboard edges?


Buddy Guy, Kemiskinan, dan Janji dengan Ibunda

by Tyo Harsono on May 12, 2021

Louisiana terkenal sebagai penghasil musisi-musisi blues papan atas. Termasuk di antaranya adalah George Guy yang terkenal dengan nama Buddy Guy.

Sejak kecil hidup Guy sudah keras. Dia harus bekerja memilih katun dengan bayaran hanya 2,5 dolar per 45 kilogram.

Kecintaan terhadap musik sudah terlihat sejak dini. Bahkan saat masih kecil Guy sudah membuat gitar sendiri.

Seperti orang kulit hitam di Amerika Serikat pada umumnya, gitar adalah barang mewah. Saat itu dia membuat instrumen sendiri yang memiliki dua senar.

Rupanya kerja keras Guy membuat orang tuanya luluh. Mereka menghadiahi putranya dengan gitar akustik buatan Harmony.

Mulai pertengahan 1950an, Guy mengadu nasib bersama bandnya. Namun dia sembari bekerja di Universitas Louisiana.

Baru pada 1957 dia memulai rekaman demo. Sayangnya demo buatan Guy tidak mendapat kontrak. Alhasil, dia pun memilih pindah ke Chicago.

Di sana dia mendapat dua pesaing. Pertama adalah Magic Sam, lalu Otish Rush. Ketiganya terpengaruh dengan Muddy Waters.

Karier Guy melonjak setelah mendapat kontrak dari Chess Records. Saat itu dia mendapat tawaran langsung dari pemilik label tersebut, Leonard Chess.

Awalnya Guy hanya menjadi gitaris session untuk artis-artis Chess. Sebut saja Waters, Howlin Wolf, Sonny Boy Williamson, dan lain-lain.

Karier Guy tidak semulus musisi lain. Dia sempat membantu Eric Clapton, Led Zeppelin, sampai Roland Kirk.

Sampai akhirnya musik yang dia keluarkan mulai mendapat penerimaan. Musik keluaran Guy sering mendapat label sebagai Chicago blues.

Banyak musisi top yang akhirnya mengakui kehebatan Guy. Pengakuan juga datang dari produsen gitar terbesar di dunia, Fender.

Sadar bahwa Guy identik dengan Stratocaster, Fender pun menawarinya untuk bekerja sama. Hasilnya, Fender Stratocaster Buddy Guy Signature pun lahir.

Fender mulai merilis gitar tersebut mulai 1995. Mengenai pemilihan polkadot sebagai motif, rupanya memiliki cerita sedih.

Cerita bermula saat Guy ingin pindah ke Chicago. Saat itu, ibu Guy sebenarnya tidak menyetujui putranya untuk pergi jauh.

Meski demikian, Guy berhasil meyakinkan ibundanya. Restu sang ibu dia dapatkan setelah berjanji akan membelikan mobil Cadillac dengan motif polkadot.

Sayangnya tidak lama berselang ibunya meninggal dunia. Namun, Guy tidak pernah melupakan janjinya. Sadar bahwa mencari Cadillac dengan motif polkadot sulit, dia memiliki ide lain.

Guy meminta Fender untuk membuatkan gitar dengan motif polkadot. Jadi gitar tersebut adalah pengingat musisi berusia 84 tahun itu kepada mendiang ibunya.


Paul McCartney dan Bass Unik Berbentuk Biola

by Tyo Harsono on May 10, 2021

Bicara soal The Beatles, tak mungkin melupakan Paul McCartney. Membicarakan McCartney, dia identik dengan bass berbentuk biola.

Bass yang biasa digunakan oleh McCartney adalah Hofner 500/1. Diproduksi di Jerman, pembetot bass The Beatles itu membelinya setelah Stuart Sutcliffe keluar pada Juli 1961.

Setelah berdiskusi, salah satu dari McCartney, John Lennon, atau George Harrison harus pindah posisi menjadi bassist.

Akhirnya McCartney yang menjadi bassist. Memiliki tangan kidal, Macca kesulitan membeli bass Fender untuk tangan kiri.

Bukan tanpa alasan, harga Fender kidal sangat mahal untuk Macca saat itu. Sampai akhirnya dia melihat bass berbentuk biola.

Kemudian, sisanya tinggal sejarah. McCartney dengan bass berbentuk biolanya menaklukkan dunia bersama The Beatles.

Hofner 500/1 sendiri dibuat pada 1955. Adalah Walter Hofner yang membuat bass tersebut sebelum merilisnya pada 1956.

Hofner mulai menjual bass tersebut di Frankfurt 1956. Saat itu niatnya adalah membuat bass yang mirip dengan double bass.

Selain itu, Hofner sebelumnya terkenal sebagai produsen biola menjadi alasan pembuatan dengan bentuk tersebut. Pasar mereka jelas, bassist yang bermain jazz.

Akan tetapi, Hofner bukan satu-satunya produsen yang mengeluarkan bass dengan bentuk biola. Sebelumnya, sudah ada Gibson yang terlebih dulu merilis produk serupa.

Dua tahun sebelum Hofner merilis 500/1, Gibson sudah mengeluarkan bass dengan bentuk sama. EB-1 alias Electric Bass 1 menjadi produk keluaran Gibson.

Saat itu mereka ingin menyaingi bass buatan Fender yang sedang populer, Precision. Menariknya, Gibson EB-1 memiliki gambar berupa lubang berbentuk F.

Hofner sendiri memang masih memproduksi 500/1. Namun, harganya cukup mahal karena mereka memproduksinya di Jerman. Sedangkan Gibson tak lagi menjual EB-1.

Akan tetapi, terdapat beberapa alternatif jika ingin bergaya seperti Paul McCartney. Hofner mengeluarkan seri murah seperti Ignition.

Selain itu, ada juga produk Epiphone yang mirip Hofner 500/1. Adalah Epiphone Viola yang merupakan salah satu alternatif jika ingin terlihat seperti McCartney.

Viola sendiri menjadi salah satu bass produksi paling lama Epiphone. Telah rilis sejak 1995, Epiphone tidak pernah menghentikan produksi Viola.

Jadi, sudah siap bergaya ala Paul Mccartney dan memainkan tribute The Beatles?


Tonewood 101: Mengenal Jenis Kayu dan Karakter Suaranya

by Tyo Harsono on May 7, 2021

Pencinta gitar pasti akrab dengan kalimat tonewood. Lalu, apa sih sebenarnya tonewood itu? Terus apa bedanya karakter setiap kayu?

Tonewood sendiri sebenarnya adalah kalimat yang biasa digunakan untuk sejumlah jenis kayu. Kayu-kayu yang masuk kategori ini memiliki kemampuan ajaib.

Kayu yang masuk kategori tonewood adalah mereka yang mempunyai karakter suara khusus. Hal itu membuat mereka bagus untuk membuat instrumen musik.

Dalam tonewood sendiri ada dua pembagian umum lagi. Softwood serta hardwood. Nantinya kayu dalam dua kategori tersebut punya fungsi berbeda.

Softwood misalnya, kayu dengan jenis ini biasa digunakan untuk bagian atas gitar. Seperti lapisan untuk mengalirkan getaran dari senar.

Sementara itu, hardwood adalah jenis kayu yang biasa digunakan untuk bagian body. Hal itu karena mereka memiliki karakter lebih kokoh.

Contoh softwood paling terkenal adalah spruce dan basswood. Biasanya spruce digunakan untuk melapisi bagian atas gitar, terutama akustik.

Spruce sendiri memiliki karakter yang cukup ringan. Selain untuk gitar, kayu jenis ini biasa digunakan untuk membuat mandolin, biola, atau piano.

Sementara itu, basswood biasa untuk menggantikan gitar lain untuk bagian body. Tak jarang produsen menggunakan kayu jenis ini pada gitar entry level.

Karakter basswood sendiri membantu untuk mengurangi nada tinggi. Biasanya hal tersebut cukup membantu untuk gitar yang memiliki tremolo.

Sementara itu untuk hardwood, terlalu banyak rasanya untuk ditulis dalam artikel kali ini. Penulis hanya akan mengambil beberapa contoh dari kayu jenis ini.

Mari mengenal maple, mahogani, rosewood, ash, dan alder. Kelima jenis kayu tersebut rasanya cukup untuk perkenalan singkat ke tonewood.

Ketika Leo Fender membuat gitar elektrik untuk pertama kali, maple langsung menjadi pilihan untuk neck. Hasilnya, kini kayu jenis itu menjadi pilihan utama untuk bahan dasar neck.

Maple sendiri memiliki karakter suara yang cerah. Selain itu kayu jenis ini juga bagus untuk sustain. Tak hanya neck, maple juga sering dipakai untuk fingerboard.

Kayu berikutnya adalah yang sempat menimbulkan kehebohan di dunia gitar. Rosewood sempat membuat produsen mencari alternatif.

Alasannya adalah karena aturan CITES. Kini aturan tersebut memang telah berubah, hanya kayu dari Brasil yang dilarang sementara rosewood dari India masih boleh.

Rosewood terkenal untuk fretboard karena karakternya yang cukup gelap dan memiliki resonansi tinggi. Selain itu sempat ada juga gitar dengan body, neck, dan fretboard dari rosewood seperti Fender Telecaster George Harisson signature.

(Mengenai rosewood dan CITES, bisa baca di sini)

Pada masa lalu, ash menjadi pilihan Fender untuk membuat sejumlah gitar. Sayangnya sejak 2020 raksasa gitar asal Amerika Serikat itu memilih untuk tak lagi menggunakan kayu tersebut.

Mirip dengan maple, ash punya karakter suara yang cerah dan punya sustain yang bagus. Menariknya ada ash yang lebih gelap dari jenis lain, swamp ash.

Kayu berikutnya alder punya karakter yang hampir mirip dengan basswood. Namun, alder ini lebih bisa menjaga nada tinggi ketimbang basswood.

Hebatnya, alder masih memberikan ruang untuk nada rendah. Kayu jenis ini sering menjadi pilihan utama untuk membuat gitar atau bass elektrik.

Jadi bagaimana, sudah mengerti sedikit soal tonewood?


Gibson Les Paul, Tapi Kok Double Cut?

by Tyo Harsono on May 5, 2021

Body dari kayu mahogany dan venetian cut di bagian bawah menjadi ciri khas dari Gibson Les Paul. Loh, tapi kok ada yang punya double venetian cut?

Segalanya bermula pada 1955. Saat itu Gibson mengeluarkan gitar Les Paul TV model. Saat itu tujuannya adalah untuk memberikan gitar untuk pemula.

Terdapat dua bagian dari seri tersebut. Pertama menggunakan satu pickup lalu ada juga yang memakai dua pickup.

Bedanya dengan Les Paul biasa adalah, gitar untuk pemula ini menggunakan slab body. Artinya, tidak ada cutaway di bagian body gitar.

Tiga tahun berselang, Gibson melakukan perubahan radikal. Pada akhir 1958, mereka menghentikan produksi Les Paul dengan format seperti itu.

Mulai 1959, Gibson menggunakan format baru. Alih-alih memiliki single cutaway, kali ini Les Paul ada dua venetian cut di setiap sisi.

Memang tidak ada keterangan resmi mengenai ini. Namun, kesuksesan Fender dengan Stratocaster yang memiliki double cut menjadi inspirasi.

Pada 1950an, Stratocaster merajai penjualan gitar. Dua venetian cut tak simetris membuat gitar tersebut dianggap lebih mudah untuk mengakses nada tinggi.

Terinspirasi dari rivalnya, Gibson pun mengubah drastis desain Les Paul untuk pemula. Mereka beranggapan hal itu bisa membantu gitaris pemula.

Penggunaan dua venetian cut membuat akses ke fret-fret tinggi. Dengan demikian bisa mengurangi risiko kesulitan untuk melakukan atraksi di nada tinggi.

Saat itu banyak yang menjuluki produk anyar itu sebagai Gibson Les Paul Double Cut. Ya, keberadaan dua venetian cut serta nama yang masih sama melatari julukan itu.

Ada dua varian Les Paul Double Cut saat itu. Pertama adalah Junior yang menggunakan satu pickup, lalu Special dengan senjata dua pickup.

Keberadaan venetian cut di bagian atas juga membantu gitaris yang biasa bermain sambil berdiri. Saat itu gitar Gibson terkenal sering neck dive (bagian depan neck tidak seimbang saat digantung dengan strap).

Sayangnya penjualan Les Paul Double Cut saat itu tidak terlalu laris di pasaran. Akhirnya, pada 1961 raksasa gitar asal Memphis itu pun menghentikan produksinya.

Sempat lama menghilang dari pasaran, baru pertengahan 1970an Gibson merilis kembali Les Paul Double Cut. Saat itu mereka menggunakan embel-embel reissue.

Gitar tersebut bertahan di pasaran sampai pertengahan 1990an. Beberapa varian Les Paul Double Cut sendiri sempat muncul di pasaran.

Saat ini, ada beberapa varian Les Paul Double Cut yang masih diproduksi oleh Gibson. Sebut saja yang mahal seperti Les Paul Special Double Cut Figured Top, menengah Gibson Les Paul Standard Plus Double Cut, sampai entry level macam Les Paul Junor Tribute Double Cut.

Meski sempat lama tidak produksi, bukan berarti Gibson Les Paul Double Cut adalah gitar jelek. Buktinya, banyak gitaris yang memakainya.

Beberapa gitaris top pernah menggunakan Les Paul Double Cut. Sebut saja Billie Joe Armstrong (Green Day), Alana Haim (Haim), atau Keith Richards (The Rolling Stones).